Seriuskah Rindu Ramadhan ?

Hai sahabat MQ, apakah kita sudah merasa serius merindukan bulan ramadhan ?

Rindu bulan ramadhan jangan hanya diucapan saja ya, rindulah dengan tulus dan perbuatan nyata. Bersiap menata hati, membangun amal yang jauh lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya. Bulan yang mulia ini merupakan bulan yang memang dirindu-rindukan oleh banyak orang. Semoga saja rindunya tidak hanya diucap saja, tapi juga direalisasikan dengan perbuatan-perbuatan nyata berupa amalan yang lebih baik pada bulan tersebut.

Tanpa persiapan mental, spiritual, dan intelektual, puasa Ramadhan hanya akan menjadi kegiatan ritual keagamaan tahunan tanpa makna, tanpa pahala dan tidak mampu memberikan pengaruh positif bagi kehidupan. Perhatikan sabda Nabi SAW, “Berapa banyak orang yang puasa tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga.” (HR An Nasa’i dan Ibnu Majah).

Sebaliknya, dengan persiapan dan perbekalan yang maksimal akan mampu meraih sukses Ramadhan secara optimal. Untuk itu, di hari terakhir Sya’ban, Rasulullah SAW kembali mengkondisikan umatnya dengan menyampaikan pidato ‘kenegaraan’ menyambut Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan-keutamaannya. Di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib dan qiyamul lail-nya sunnah. Ramadhan adalah bulan sabar, dan sabar itu balasannya surga. Ramadhan bulan solidaritas dan bulan ditambahkan rizki orang mukmin. Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi sedikit pun pahalanya.

Sumber: Radio 102,7 MQ FM Bandung, Rumahku Syurgaku, 10.00 WIB

ARTIKEL TERBARU