PENTINGNYA DIDIKAN ORANGTUA TERHADAP ANAK

Sebagai orangtua sudah selayaknya mempunyai kewajiban untuk mendidik anaknya yang Allah titipkan kepadanya, karena baik buruknya seorang anak adalah tergantung kepada didikan dari orangtuanya. Anak bisa menjadi karunia kepada orangtuanya ketika sianak tersebut diarahkan kepada tuntunan islam, namun sebaliknya justru anak bisa menjadi fitnah dan mala petaka kepada orangtuanya, ketika anak tersebut tidak dididik berdasarkan syariat islam, jangankan kelak diakhirat ia akan menghisab kita dihadapan Allah, tetapi diduniapun sekalian ia akan membuat mala petaka kepada orangtuanya.

Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan yang telah kau berikan

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك

“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).

Kewajiban  orangtua hendaknya tidak hanya membiayai dan memenuhi seluruh keperluan anak saja, tetapi orang tua harus benar-benar mempunyai keinginan untuk bisa mendidik anaknya, walaupun mungkin sudah disekolahkan, karena tetap pembentukan karakter seorang anak yang paling utama adalah dari keluarga. Terlebih pada zaman sekarang banyak faham-faham yang menyesatkan generasi muda umat islam, dengan memberikan pengaruh-pengaruh liberal,komunis, ateis dan yang lainnya, yang mana itu semua dapat membuat hancurnya generasi islam dimasa yang akan datang.

Lantas bagaimana idealnya seorang muslim lebih dahulu memberikan pendidikan kepada anak-anaknya?

Ditengah satu situasi dan kondisi, dimana serbuan datang silih berganti melanda dan menghantam umat islam. Kemana anak-anak kita harus kita arahkan ? karena kita orangtua mempunyai tanggung jawabterhadap anak, karena  anak adalah amanah, menyia-nyiakan amanah adalah dosa, dan dosa itu merupakan suatu dosa yang besar, bahkan orangtua bisa saja masuk neraka, kalau tidak bertanggung jawab tentang anak-anaknya.

Satu riwayat menjelaskan ada seoarang  yang  shaleh, dimana ia senantiasa melaksanakan amalan fardu dan amalan sunnah lainnya serta jarang melakukan dosa, diakhiratpun ketika ia ditimbang ternyata amalan kebaikannya lebih berat daripada amal keburukannya, hingga oleh Allah diperintahkan beliau untuk masuk surga. Kemudian tibalah  giliran anaknya yang dihisab, justru sebaliknya anak nya bahkan tak tahu siapa tuhannya, siapa nabinya, apa kitab sucinya, jarang melaksanakan kebaikan, dan sering melaksanakan keburukan, sehingga Allah masukan si anak tersebut kedalam neraka.  Namun seketika sianak mengajukan protes, bahwasannya benar ia tak mengenal siapa tuhannya, tidak mengenal siapa nabinya, tidak tahu apa kitabnya, ia tidak shalat, tidak zakat, tidak puasa, sering mabuka-mabukan, judi, dan amal keburukan lainnya, semata ia kerjakan itu karena ia gak tahu dan orangtuanya tidak pernah memberitahunya. Yang mana ketiaka itu orangtua saya sedang beribadah sedangkan saya dibiarkan saja tidak diajaknya, ketika saya sedang melakukan keburukan orangtua saya diam tidak mengingatkannya, Oleh karena nya bukannya saya tidak mau beribadah, tapi karena orangtua saya tidak pernah mendidik saya dan mengingatkannya, maka jikalau saya harus masuk nerka,  sayapun menuntut agar orangtua saya masuk bersama-sama dengannya masuk neraka.

sehingga akhirnya siorangtua yang sudah mau masuk surga ditarik kembali dan Allah masukan kedalam neraka akibat selama ia di dunia ia tidak bertanggung jawab atas amanah anak yang Allah titipkan kepadanya, yang mana sejatinya ketika kita diamanahkan oleh Allah seoarang anak, maka disanalah berlaku kewajiban kita untuk mendidiknya dan memberi tahunya tentang tauhid dan beribadah kepada Allah.

Namun beda halnya ketika orangtua yang mempunyai amalnya biasa-biasa saja, bahakan tak jarang juga masih sering melaksanakan keburukan, tetapi ia pernah mendidik anaknya dan mengarahkan anaknya tentang tauhid kepada Allah, sehingga anaknya menjadi anak yang sahaleh dan senantiasa mendoakan kepada orangtuanya, maka orangtua akan mendapatkan kebaikan dari anak yang shaleh , hal ini senada dengan sabda Rasulullah saw :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad: 10618. Hasan).

Oleh karenanya sebagai orangtua hendaknya memperhatikan mengenai didikan kepada anak-anaknya, terlebih didikan mengenai ketauhidan kepada Allah dan syri’at-syari’at islam, karena kelak anak pun akan dihisab oleh Allah dan akan dipertanggung jawabkan perihal didikannya. Walaupun mengenai anak itu menjadi anak yang sahaleh atau tidaknya itu kembali lagi kepada ketetapan Allah swt, namun disini sebagai orangtua hanya mejalankan ikhtiar atas amanah yang Allah titipkan kepadanya.

 

ARTIKEL TERBARU