Menjadikan Gosip Sebagai Hiburan

Sahabat MQ, di kehidupan nyata kita bisa dengan mudah menghindari bergosip, membicarakan kejelekan teman atau saudara kita. Akan tetapi, sadarkah jika di dunia maya kita juga kerap melakukan ghibah?//

Jika kita membuka media sosial, di instagram contohnya, banyak bermunculan akun media sosial yang menyuguhkan gosip atau kabar yang belum tentu kebenarannya. Kabar tersebut dijadikan hiburan dan kehidupan pribadi menjadi konsumsi publik.

Gosip dianggap menjadi hal yang lumrah, bahkan ketertinggalan kita akan informasi terkini terkait artis, membuat kita sering merasa kehabisan bahan obrolan.

Kehidupan orang lain dijadikan konsumsi publik. Padahal setiap orang, sebagaimana pun ia terkenal, ia masih tetap ingin memiliki privasi untuk dirinya, keluarganya, dan kehidupannya.

Anggapan jika itu adalah konsekuensi sebagai publik figur tampaknya juga perlu kita perhatikan dengan baik, maukah kita diperlakukan demikian oleh orang lain?

Tanpa sadar kita sudah terjebak dalam membicarakan aib orang lain atau ghibah. Ingatlah firman Allah dalam Alquran surat Al Hujurat ayat 12 :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, serta janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada allah. Sesungguhnya allah maha penerima tobat lagi maha penyayang.”//

Bahkan Allah mengibaratkan seorang yang bergosip atau berghibah seperti memakan bangkai manusia. Ini berlaku tidak hanya untuk yang menyebarkan gosip, tapi juga yang mendengar atau membacanya seksama, apalagi turut berkomentar dan memberikan like.

Jika ada yang beralasan, “ini bukanlah gosip, melainkan fakta layaknya berita”. Maka jawabannya ada dalam sebuah hadis Nabi.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, “tahukah kalian apa ghibah itu?”

Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-nya lebih tahu.”

Rasulullah lalu bersabda, “(Ghibah adalah) engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci”.

Seorang shahabat lalu bertanya, “apa pendapat anda jika sesuatu yang saya sebutkan itu nyata-nyata ada pada saudara saya?”

Rasulullah menjawab, “jika memang apa yang engkau ceritakan itu ada pada dirinya, itulah yang disebut ghibah. Namun, jika tidak ada, berarti engkau telah berdusta atas namanya.”(HR. Muslim)

Sahabat MQ, kita sepatutnya tahu, membicarakan orang lain tidak benar dalam Islam. Kita harus bisa memilah dan memilih tontonan, hiburan di media apapun. Karena semua atas kendali kita.

ARTIKEL TERBARU