Meneladani Kelembutan Rasulullah SAW

Kehidupan ini sebagian besar dilalui dengan saling meniru atau mencontoh oleh manusia yang satu pada manusia yang lain. Kecenderungan mencontoh ini sangat besar peranannya pada anak-anak, sehingga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan anak. Sesuatu yang dicontoh, ditiru atau diteladani itu mungkin yang bersifat baik dan mungkin pula bernilai keburukan.

Kata teladan dialihkan dengan kata uswah yang kemudian diberi sifat di belakang seperti hasanah yang berarti baik. Keteladanan adalah metode influentif, yang paling menentukan keberhasilan dalam mempersiapkan dan membentuk sikap serta perilaku moral, spiritual dan sosial anak. Hal ini karena pendidik adalah contoh terbaik dalam pandangan anak didik yang akan ditirunya dalam segala tindakan dan sopan santunnya, disadari maupun tidak. Oleh karena itu, masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam hal baik buruknya anak didik yang menjadi objek bimbingan dan arahan.

Salah satu teladan dalam Islam yang harus kita jadikan panduan dalam hidup adalah meneladani kelembutan Rasulullah saw sebagai pendidik yang terbaik. Rasulullah saw diutus bukan hanya sebagai Nabi dan Rasul. Bukan pula hanya sebagai panglima perang yang hebat atau kepala rumah tangga yang ideal. Tetapi beliau juga mengemban tugas dan fungsi yang jauh lebih penting yaitu sebagai pengajar sekaligus pendidik umat sehingga masyarakat Arab jahiliyah pada waktu itu mengalami pencerahan hingga ke tingkat peradaban yang paling tinggi. Beliau bersabda:

Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras, tetapi Allah mengutusku sebagai pendidik dan mempermudah” (HR. Muslim).

Hadis di atas mengisyaratkan dua hal penting yaitu: 1) Rasulullah SAW adalah pendidik yang lebih mengedepankan fleksibilitas dalam mendidik, artinya tidak kaku dan tidak pula keras (ruhamâ’ bainahum); dan 2) Rasulullah saw adalah pendidik yang senantiasa memper-mudah.

Rasulullah saw tidak bersikap keras, sebab keras hanya akan menggambarkan serta menimbulkan fenomena kekerasan berupa problem dalam kehidupan manusia. Sifat lembut, rahmah kasih sayang Rasulullah saw jangan jelas terlihat di kalangan umat.

Dalam sebuah riwayat ditegaskan:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata, kepada Rasulullah dikatakan, ”Berdoalah untuk keburukan orang-orang musyrik!” Beliau menjawab, ”Saya diutus tidak untuk menjadi pelaknat. Saya diutus hanyalah untuk menjadi rahmat.” (HR. Muslim).

Hadits tersebut Rasulullah saw telah menegaskan bahwa kerasulannya sebagai rahmat, bukan sebagai laknat. Rasul diutus hanya untuk menebarkan kasih sayang (rahmah) yang akan mewujudkan kenikmatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kepribadian Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul Allah yang terakhir, baik itu ucapan, perbuatan, sikap, dan seluruh totalitas beliau adalah ”rahmat”.

Sahabat MQ, kepribadian yang melekat pada diri Rasulullah saw, tampak dalam kelembutan, bukan sifat kasar dan keras. Kepribadian tersebut merupakan anugeran dari Allah swt.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Terjemah:”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.s. Ali Imran: 159)

Melalui ayat di atas kita mengetahui bahwa Rasulullah saw. memiliki kepribadian yang lemah lembut, santun, dan berbudi pekerti luhur. Akhlak mulia Rasulullah saw. tersebut merupakan rahmat dari Allah Swt. Rasulullah saw. tidak bersikap keras dan tidak berhati kasar kepada orang-orang di sekeliling Nabi karena itulah mereka orang-orang yang berada disekeliling Nabi tidak meninggalkan Nabi.

Sahabat MQ, kita juga harus bersikap seperti Nabi terhadap orang-orang disekeliling kita. Allah Swt. memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk memaafkan dan memohonkan ampun atas dosa dan kesalahan orang lain, terutama sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw.

ARTIKEL TERBARU

  • Cara Sederhana Menumbuhkan Rasa Empati Anak

    Sahabat MQ, menumbuhkan dan mengajarkan rasa empati pada anak sangatlah penting. Dengan adanya rasa empati, anak dapat membangun dan menjalin hubungan dengan orang-oramg di sekitar.…

    Read More
  • Mencontoh Rasulullah dalam Bercanda

    Sahabat MQ, bercanda memang diperlukan dalam hidup. Namun ternyata esensi dari bercanda itu tidak identik dengan lucu, tapi bercanda itu untuk bahagia. Maka, seperti apakah…

    Read More
  • “Prank” dalam Islam

    Sahabat MQ, dalam pergaulan sehari-hari, seringkali kita melakukan sesuatu untuk membuat orang tertawa atau agar membuat suasana lebih cair dengan cara menjaili teman kita atau…

    Read More