MEMBANGUN MOTIVASI KELUARGA UNTUK SEHIDUP & SESYURGA DENGAN MENJADI PRIBADI YANG BAHAGIA

Banyak orang sukses yang dimotivasi oleh keinginan untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Begitupun sebaliknya, banyak orang tua yang sukses dengan menjadikan anak-anak sebagai sumber motivasinya.

Saat ini, tengah ujian pandemi yg Allah turunkan  disertai dengan berita2 buruk yang menghadirkan kecemasan dan kegelisahan, maka sebagai mukmin, wabil khusus sebagai orang tua ataupun anak seyogyanya kita terus membangun motivasi diri sehingga dapat tetap menghias kehidupan ini dengan beragam kebaikan.

Motivasi adalah energi pendorong yang disertai dengan ambisi dan inisiatif untuk mengambil langkah agar keinginan kita dapat terwujud.  Keinginan kita ? Ya keinginan kita.  Apa keinginan kita ??? Keinginan mulia yang jelas terucap dalam doa sapu jagat yg terpanjat yaitu: Bahagia di dunia & bahagia di akhirat dengan mendapatkan syurga dan dijauhkan dari api neraka.

Banyak yang melupakan keinginan mulia ini karena terobsesi pada dunia dan melupakan akhirat

Terkadanga banyak yang melupakan keinginan mulia ini karena terobsesi pada dunia dan melupakan akhirat, sehingga munculah beragam masalah yang membuat resah dan gelisah, bahkan kehilangan arah. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya). [HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani.]

Berbicara motivasi dan keluarga, maka peran anggota keluarga baik orang tua maupun anak sangatlah besar. Bagaimana kita membangun motivasi diri dan mengalirkan energinya sebagai motivator dalam keluarga sehingga keinginan untuk menjadi keluarga bahagia di dunia dan bersama Bahagia di Syurga tercapai ?

Jawabannya adalah dengan menjadi anggota keluarga (orang tua/anak)  yang bahagia. Jika saat ini sahabat menganggap berat menjalani peran sebagai orang tua, itu tandanya sahabat belum Bahagia.  (nah lho !!!)

Mari kita hadirkan rasa bahagia menjadi bagian dari keluarga

Di hari yang penuh barakah ini, mari kita hadirkan rasa bahagia menjadi bagian dari keluarga, saatnya kita munculkan  kekuatan diri. Kini saatnya kita mengekspresikan kebahagiaan diri. Hapuskan rasa terbebani, bersiaplah menjadi motivator sejati. Motivator dalam keluarga, bukan mereka yang jenjang pendidikannya tinggi, bukan pula yang memiliki kekuatan materi, bukan juga yang  sekedar berdoa memohon pertolongan Ilahi.

Motivator keluarga adalah mereka yang memiliki kasih sayang nyata dan kebesaran hati untuk Membangun kekuatan tauhid keluarganya, Tujuan kita adalah bahagia dunia-akhirat bersama keluarga, atas setiap tantangan yang Allah hadirkan, yakinlah, pertolongan-Nya itu dekat

Motivator keluarga adalah mereka yang Istiqamah dalam ikhtiarnya dg memperhatikan kaidah: (lillah untuk mendapatkan ridha Allah, fillah di jalan Allah dan billah dengan menyertakan Allah). Motivator Keluarga adalah pribadi yg menyenangkan, karena ia melakukan semua hal untuk Allah semata.

Sosok motivator ialah mereka yang lembut hatinya, lembut lisannya, dan mulia akhlaknya. Ia tak malu bertanya, seksama mendengar, bersemangat mensupport dan mengapresiasi anggota keluarganya. Ia pemaaf, terbuka menerima nasehat bahkan kritikan, dan selalu berusaha memberikan peran penting dalam membentuk karakter dan perilaku keluarganya

Sosok motivator senantiasa menyertakan Allah dalam setiap aktivitas kehidupannya. Ia sabar, tidak tergesa-gesa, lisannya tak berhenti berdzikr dan memikirkan hal-hal positif yang akan menghadirkan kebahagiaan.

 

ARTIKEL TERBARU