Khalifah Al-Ma’mun Dinasti Abbasiyah

Al-Makmun ar-Rasyid dilahirkan pada tanggal 15 Rabi’ul Awal 170 H atau 14 Sepetember 786 M dan meninggal dunia pada tanggal 18 Rajab 218 H atau bertepatan dengan 9 Agustus 833 M. Beliau bergelar dengan Abu al-Abbas dengan nama asli al-Ma’mun Abdullah bin ar-Rasyid bin al-Mahdi. Orang Barat memanggilnya dengan sebutan Almamon. al-Ma’mun di lahirkan enam bulan lebih dulu dari saudara sebapaknya al-Amin. al-Ma’mun lahir pada malam jum’at bertepatan dengan kemangkatan pamannya khalifah al-Hadi dan naik tahta ayahnya Harun Al-Rasyid.

Kota Bagdad merupakan kota yang didirikan oleh dinasti Abbasiyah pada masa khalifah Al-Manshur tahun 762. Letaknya sangat strategis, merupakan daerah subur sebagai pusat pertanian. Kota Bagdad dilalui sungai Tigris di sebelah utara sungai Eufrat tepatnya terletak di sebelah barat teluk Persia. Pada masa dinasti Abbasiyah Bagdad memegang peranan penting tidak hanya sebagai pusat pemerintahan tetapi juga sebagai pusat kegiatan ekonomi, pedidikan, dan kebudayaan.

Khalifah Al-Ma'mun, Khalifah Pecinta Ilmu Pengetahuan yang Kontroversial di Kalangan Ulama

Bagdad dapat disebut sebagai kota besar di dunia abad pertengahan, seperti halnya New York di era modern, ketika kota-kota di dunia masih di cengkram oleh kegelapan. Bagdad telah menjelma menjadi pusat peradaban,terbesar di dunia dan menjadi tanah impian yang begitu memikat. Sejak awal berdirinya kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan Islam. Itulah sebabnya Philip K. Hitti menyebutnya sebagai kota Intelektual.

Al-Ma’mun adalah khalifah ke-7 Dinasti Abbasiyah, ia berkuasa selama 20 tahun, dan ia sangat mencintai ilmu pengetahuan. Selama berkuasa memiliki ketertarikan yang sangat besar untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu pengetahunan. Pada masa pemerintahannya ia berhasil membawa umat Islam mencapai puncak kejayaan, lembaga-lembaga pendidikan Islam mulai bermunculan. Lembaga-lembaga itu memainkan peran penting dalam pertumbuhan seni, dan dalam perkembangan kegiatan-kegiatan keilmuan. Semua itu tidak dapat dilepaskan dari pembentukan akademi ilmu pengetahuan yang terkenal dengan sebutan The House Of Wisdom (Baitul Hikmah) yang telah di rintis pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid. Pada masa pemeritahan khalifah Al-Ma’mun perpustakaan Baitul Hikmah mulai berkembang menjadi perguruan tinggi, sebagai lembaga penerjemahan, dan pusat penelitian.

Pada saat itu khalifah Al-Ma’mun mengirim serombongan penerjemah ke Konstantinopel, Roma dan ke negara lain. Mereka disana memilih bukubuku pengetahuan yang belum dipunyai oleh umat Islam untuk kemudian dibawanya ke Bagdad selanjutnya diterjemahkan, diteliti dan dibahas setelah itu lahirlah ilmu pengetahuan dari kalangan Islam sendiri, baik yang memperkaya karya-karya asing yang telah ada, maupun yang sama sekali baru. Kehadiran lembaga Baitul Hikmah mendorong Bagdad menjadi pusat ilmu pengetahuan melalui gerakan penerjemahan literatur–literatur klasik yang di tulis ilmuwan-ilmuwan Yunani dan India, para ilmuwan Bagdad telah, berhasil mengembangkan berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti ilmu Kedokteran, Matematika, Filsafat, Sastra, Fisika, maupun Astronomi.

ARTIKEL TERBARU

  • Cara Sederhana Menumbuhkan Rasa Empati Anak

    Sahabat MQ, menumbuhkan dan mengajarkan rasa empati pada anak sangatlah penting. Dengan adanya rasa empati, anak dapat membangun dan menjalin hubungan dengan orang-oramg di sekitar.…

    Read More
  • Mencontoh Rasulullah dalam Bercanda

    Sahabat MQ, bercanda memang diperlukan dalam hidup. Namun ternyata esensi dari bercanda itu tidak identik dengan lucu, tapi bercanda itu untuk bahagia. Maka, seperti apakah…

    Read More
  • “Prank” dalam Islam

    Sahabat MQ, dalam pergaulan sehari-hari, seringkali kita melakukan sesuatu untuk membuat orang tertawa atau agar membuat suasana lebih cair dengan cara menjaili teman kita atau…

    Read More