Kelapangan Hati Saudah binti Zam’ah

Aisyah radhiyallahu anha bercerita, sudah menjadi kebiasaan bagi Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, jika akan ke luar kota, beliau selalu mengundi nama-nama istrinya, siapa yang namanya keluar, maka dialah yang beruntung ikut bersama beliau.

Rasulullah juga menggilir setiap istrinya sehari–semalam. Namun, giliran Saudah binti Zam’ah, kadang–kadang ia berikan untuk Aisyah, dengan mengharap kasih sayang dan keridhaan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam.

Rasulullah shalallahu alaihi wasalam yang menyayangi Saudah radhiyallahu anha, merasa khawatir kalau istrinya tidak bahagia karena selalu mengalah. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pun bertanya kepada Saudah binti Zam’ah, jika beliau merasa berat menjalani hidup sebagai istri Nabi, maka Nabi Muhammad bersedia menceraikannya, agar ia bisa lebih bahagia.

Saudah binti Zam’ah menjawab, “demi Allah, aku ingin tetap menjadi istrimu. Karena aku ingin kelak dihidupkan Allah sebagai istrimu di akhirat.”

Sahabat MQ, mengalah tak berarti kalah. Dan untuk mengalah, tentu kita harus memiliki hati yang lapang untuk meraih keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.

ARTIKEL TERBARU