Jangan Berlebihan Mencintai Seseorang, Ini Pesan dalam Islam

Setiap manusia yang berakal pasti memiliki rasa cinta dalam hati dan hidupnya. Cinta adalah bentuk rasa tulus yang muncul dalam hati manusia.  Orang yang dalam hidupnya tidak dilalui rasa cinta, pasti akan merasa kekeringan atau hidup tanpa makna, baik cinta tehadap Allah ataupun sesama manusia. Cinta membawa pada kebahagiaan tapi juga tak jarang membawa kepada kesedihan.

Cinta terhadap manusia tentu bukanlah cinta yang abadi hidup dan hanya akan di dunia kecuali bagi orang-orang yang shaleh akan terus dibawa hingga ke akhirat. Sedangkan bagi umat islam, cinta harus dirangkai dalam kerangka cinta kepada Allah, cinta harus disandarkan atas izin Allah, dan cinta tak boleh lepas dari rencana Allah.

Lantas bagaimana jika muncul rasa cinta berlebihan pada seseorang ?

Dari hadits Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda :

احبب حبيبك هوناما، عسى ان يكون بغيضك يوماما وابغض بغيضك هونا ما، عسى ان يكون حبيبك يوماما

“Ahbib habiibaka haunammaa, asa’an yakuuna baghidhaka yaumammaa wa abghidh baghidhaka haunammaa, asa’an yakuuna habiibaka yaumamma”

Terjemah: “Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” [HR. At-Tirmidzi no.1997 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 178]

Dari hadits tersebut kita bisa mengambil hikmah bahwa mencintai berlebihan belum tentu menjadi kebahagiaan. Sebab kebahagiaan yang pasti datangnya hanya dari cinta Allah. Allah yang menetapkan setiap rasa dan cinta dalam lubuk hati manusia. Allah yang maha mengizinkan kepada siapa hati ini harus dijatuhkan. Selain larangan mencintai secara berlebihan, hadis ini juga memberikan panduan agar orang Islam tidak berlebihan dalam membenci seseorang, apalagi sikap ini dilarang dalam agama. Sebab bisa jadi kita akan menyukai sesuatu yang justru sebelumnya kita benci.

Tentang larangan mencintai dan membenci secara berlebihan karena tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di hari esok kecuali Allah, hal ini juga dikuatkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 216, Allah berfirman:

وَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ خَيۡرٌ لَّـکُمۡ‌ۚ وَعَسٰۤى اَنۡ تُحِبُّوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمۡؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Terjemah: “…..tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Sebagai umat manusia yang  taat kepada Allah, kita ditugaskan untuk selalu memperbaiki diri agar kebahagiaan dalam cinta, adalah bahagia yang berkah dan sesuai pilihan-Nya. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum :21) tentang bagaimana Allah menyiapkan pasangan untuk kita dari jenis kita sendiri.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS: Ar Rum : 21)

Sahabat MQ, satu hal yang harus selalu kita ingat adalah hanya Allah yang mampu menggerakan hati manusia. Hanya Allah yang mampu mengetahui siapa yang berhak kita miliki dalam cinta. Jangan gantungkan hati pada seseorang sehingga kau rela memberikan segalanya termasuk harga dirimu hanya demi cinta kepada manusia. Cinta yang setia dan tidak pernah meninggalkan kita hanyalah cinta milik sang pencipta semesta, cinta Allah swt.

ﺇِﻥَّ ﻗُﻠُﻮﺏَ ﺑَﻨِﻲ ﺁﺩَﻡَ ﻛُﻠَّﻬَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺇِﺻْﺒَﻌَﻴْﻦِ ﻣِﻦْ ﺃﺻﺎﺑﻊ اﻟﺮﺣﻤﻦ، ﻛَﻘَﻠْﺐٍ ﻭَاﺣِﺪٍ، ﻳُﺼَﺮِّﻓُﻪُ ﺣَﻴْﺚُ ﻳَﺸَﺎءُ

Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh semua hati manusia berada dalam kekuasaan Allah yang Mahapengasih, seperti satu hati. Dia menggerakkan hati sesuai kehendak-Nya.

ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: «اﻟﻠﻬُﻢَّ ﻣُﺼَﺮِّﻑَ اﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﺻَﺮِّﻑْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﺎﻋَﺘِﻚَ

Kemudian Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah yang maha menggerakkan hati. Gerakkan hati kami untuk beribadah kepada-Mu.” (HR Muslim)

ARTIKEL TERBARU