Makna Hidup Manusia

Sahabat MQ, banyak manusia di dunia ini keliru dalam memaknai kehidupan, mayoritas manusia hanya memandang makna hidup pada apa yang mereka inginkan bukan pada apa yang harus mereka maknai. Mayoritas manusia memandang makna hidup yang bahagia hanya terbatas pada apa yang mereka miliki, harta, tahta, jabatan, dan lain sebagainya, padahal makna hidup yang berkualitas bukan selalu tentang apa yang bisa dikuantitaskan. Manusia harus memahami betul apa yang harus dimaknai dalam kehidupan. Kita harus mengetahui apa hakikat dan fungsi dari manusia itu sendiri, Islam telah memberi jawaban atas makna hidup manusia, berikut hakikat dan fungsi manusia di muka bumi :

Manusia sebagai Hamba Allah

Sebagai hamba Allah, posisi manusia sama dengan makhluk-makhluk lain. Hakikat penghambaan adalah ketundukan manusia, ketaatan manusia kepada Allah yang maha segalanya, Allah yang menciptakan manusia dan seluruh isi jagat raya. Hamba Allah yang baik dan bahagia adalah hamba yang senantiasa mengingat Allah apapun kondisinya, baik dalam keadaan susah atau bahagia, hamba Allah harus selalu taat kepada-Nya, sebab hanya Allah lah yang maha menggenggam kehidupan, susah dan bahagia manusia ada pada keputusan Allah. Allah selalu melihat dan memperhatikan bagaimana hamba-Nya menghadapi hidup, Allah tidak akan pernah melewatkan 1 detikpun apa yang manusia kerjakan di muka bumi. Allah tidak pernah tidur, Allah selalu mengawasi hamba-hamba-Nya dengan rasa cinta yang tak bisa dikalahkan oleh siapapun. Oleh sebab itu, manusia sebagai hamba Allah harus selalu taat kepada Allah seperti yang dijelaskan dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Terjemah: “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku”

Manusia sebagai hamba Allah berarti ia sebagai seorang yang taat dan patuh pada peintah-Nya kesediaan manusia menghambakan diri sendri hanya kepada Allah dengan sepenuh hatinya akan mencegah penghambaan manusia, baik terhadap dirinya maupun sesamanya.

Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi

Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Tugas khalifah adalah menjadi wakil Allah untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Karena Allah telah menyediakan semua yang ada di bumi untuk kesejahteraan manusia, sudah seharusnya manusia merawat dan melestarikan segala fasilitas dari Allah sebagai bentuk syukur sekaligus pelaksanaan peran kekhalifahan. Banyak manusia yang belum menyadari fungsi sebagai khalifah, banyak manusia yang hanya ingin menikmati hasilnya saja tanpa memikirkan bagaimana cara menjaga dan mengembangkannya, banyak kerusakan alam yang terjadi berkat ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Sahabat MQ, oleh sebab itu penting bagi kita untuk memahami betul fungsi sebagai manusia di muka bumi agar kita mampu menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Fungsi manusia sebagai khalifah telah dijelaskan di dalam QS. Al-Baqarah:30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Terjemah: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui

Allah -Subḥānahu wa Ta’ālā- memberitahukan bahwa Dia telah berfirman kepada para Malaikat, bahwasanya Dia akan menciptakan manusia untuk ditempatkan di muka bumi secara silih berganti. Tugas utama mereka adalah memakmurkan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah. Lalu para Malaikat bertanya kepada Tuhan mereka -dengan maksud meminta bimbingan dan penjelasan- tentang hikmah di balik penempatan anak cucu Adam -‘alaihissalām- sebagai khalifah di muka bumi, sedangkan mereka akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah secara semena-mena. Para malaikat itu mengatakan, “Sementara kami ini senantiasa patuh kepada-Mu, mensucikan dan memuji-Mu, serta menghormati keagungan dan kesempurnaan-Mu. Kami tidak pernah letih dalam melakukan hal itu.” Allah menjawab pertanyaan mereka dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui tentang adanya hikmah-hikmah besar di balik penciptaan mereka dan tujuan-tujuan besar di balik penetapan mereka sebagai khalifah di muka bumi.

Sahabat MQ, kedudukan manusia dimuka bumi baik sebagai khaliah maupun sebagai hamba Allah bukanlah dua hal yang bertentangan, tetapi merupakan kesatuan yang padu dan tidak bisa terpisahkan. Kekhalifahan adalah korealsasi dari pengabdiannya kepada sang Khalik, dengan kata lain kekhalifahan manusia pada dasarnya diterapkan pada konteks individu dan sosial yang berporos pada Allah SWT.

ARTIKEL TERBARU

  • Menolong dengan Rasa Ikhlas

    Manusia adalah makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk melakukan interaksi dengan individu yang lain dalam rangka untuk memenuhi kebutuhannnya.…

    Read More
  • Ketika Nabi Musa Mengingatkan Tentang Nikmat Allah

    Nabi Musa mengingatkan kepada kaumnya tentang nikmat Allah terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 20-26: وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ…

    Read More
  • Makanan-Makanan Ini Tidak Boleh Dipanaskan

    Sudah menjadi hal yang biasa ketika makanan tidak habis akan dipanaskan kembali ketika ingin dikonsumsi kemudian. Makanan dipanaskan dengan tujuan agar tidak basi dan menghemat…

    Read More