3 GOLONGAN YANG DICINTAI ALLAH

3 GOLONGAN YANG DICINTAI ALLAH

Setiap orang yang beriman memiliki keinginan dicintai oleh Allah swt, dan tidak ada seorangpun diantara orang yang beriman yang ingin dimurkai oleh Allah swt. Jangankan dimurkai oleh Allah, dimarahi oleh teman atau tetangga misalnya, kita terkadang merasa tidak enak,  dunia merasa sempit untuk bergerak-gerik karena takut bertemu dengan orang yang memerahi kita. Padahal kalau kita hanya dimarahi oleh teman atau tetangga kita, kita bisa saja menghindar, pergi atau pindah ke tempat lain, tahun depan kita kembali lagi barangkali sudah bisa berdamai. Tapi jikalau Allah yang murka kepada kita, padahal alam ini milik Nya belaka, rasanya kemana lagi langit tempat kita bernaung, dan kemana lagi bumi tempat kita berpijak.

Setiap orang beriman ingin dicintai Allah

Setiap orang beriman ingin dicintai Allah, tapi tidak setiap orang beriman mau melakukan perbuatan-perbuatan, kalau dikerjakannya Allah akan cinta kepadanya, dan setiap orang beriman tidak  ingin dimurki Allah, tapi ada saja orang yang beriman tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan yang justru dimurkai oleh Allah swt.

Dalam suatu hadist kudsi, dimana Allah swt berfirman, melalui lisan Rasulullah saw :

أحب ثلاثاً وحبي لثلاث أشد:أحب الغني السحي .. وحبي للفقير السحي أشد.وأحب الفقير المتواضع .. وحبي للغني المتواضع أشد,وأحب الشيخ الطائع .. وحبي للشاب الطائع أشد.

Artinya :

Aku cinta kata Allah pada tiga macam golongan manusia tapi aku lebih cinta kepada tiga macam lagi. Jadi ada 3 yang dicintai Allah, tapi ada 3 hal lain yang lebih dicintai oleh Allah.

Yang pertama:

حب الغني السحي .. وحبي للفقير السحي أشد

“Aku cinta pada orang-orang kaya yang pemurah tapi aku lebih cinta orang fakir yang pemurah.”

Allah swt mencintai orang kaya yang dermawan, karena ia telah mensyukuri karunia kelebihan harta yang telah Allah berikan kepadanya, tapi sungguh Allah lebih mencintai orang yang fakir namun ia pemurah meskipun dengan ke fakirannya. Betapa mulyanya, ketika orang yang kekurangan dengan hartanya, justru ia malah lebih mementingkan kepentingan orang lain dengan memberikan apa yang ia punya, walaupun ia tahu dirinya membutuhkannya. Maka tidak lain orang yang seprti itu adalah orang yang hanya mengharapkan karunia dari Allah, dan Allahpun sangat mencintainya dengan kedermawanannya.

Golongan kedua:

وأحب الفقير المتواضع .. وحبي للغني المتواضع أشد

“Aku cinta orang fakir yang rendah hati dan cintaku lebih besar pada orang kaya yang rendah hati.”

Allah mencintai orang yang fakir dan rendah hati, karena sifat rendah hati adalah kebalikan dari sifat sombong, sedangkan sombong adalah sifatnya syetan, dan ketika seseorang menjauhi sifat yang dimiliki syetan dan memiliki sifat kebalikannya, yang secara syariat dan sosial itu  adalah perbuatan yang baik, maka sungguh Allah sangat mencintai orang yang memiliki sifat tersebut. Namun Allah lebih mencintai ketika justri orang yang kaya, yang sebagian besar identiknya dengan sifat sombong, namun justru ini memiliki sifat yang rendah hati.

Dan golongan ketiga:

وأحب الشيخ الطائع .. وحبي للشاب الطائع أشد.

“Aku cinta orang tua yang bertobat dan cintaku lebih besar pada pemuda yang bertobat.”

Allah sangat merindukan orang-orang yang bertaubat, bahkan taubatnya seorang pendosa lebih Allah rindukan ketimbang dzikirnya orang yang shaleh. Maksudnya dengan kema Rahmanannya Allah, Allah memberikan harapan bagi orang-orang yang berdosa untuk memperbaiki dirinya dan bertaubat kepada Allah swt, krena sesungguhnya Allah adalah zat yang maha penerima taubat.

Terlepas dari Allah mencintai orang-orang yang bertaubat, cinta Allah lebih besar kepada pemuda yang bertaubat. Karena kalau saja masa pemuda merupakan masa dimana masa pencarian diri, masa yang masih mudah terbawa arus kesana-kesini, terlebih pergaulan zaman sekarang sangatlah bebas, hingga memungkinkan bagi para pemuda untuk jarang mengingat Allah, dan menyesali atau bertaubat atas perbuatan-perbuatan buruknya. Maka demikian, ketika ada seorang pemuda justru ia lebih mendekatkan dirinya kepada Allah dan senantiasa bertaubat atas dosa-dosanya, maka yang demikian itu kecintaan Allah lebih besar ketimbang orang  yang sudah tua yang bertaubat.

Ketiga golongan tersebut merupakan suatu hal yang sangat langka dipermukaan bumi ini, namun langka bukan berarti tidak ada. Maka beruntunglah kepada orang-orang yang masuk kepada 3 golongan tersebut.

 

 

 

KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM

KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM

Salah satu dari misi islam, ialah mengangkat harkat dan martabat manusia, yang sebelumnya dibedakan oleh warna kulit, oleh suku bangsa dan bahasa, seluruhnya diikat oleh satu aqidah. Menghilangkan perbedaan akibat warna kulit, suku bangsa, dan bahasa. Termasuk dalam upaya itu, islam telah mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Kedudukan perempuan sebelum islam datang

Sebelum islam datang, nasib perempuan nyaris hanya berputar di segitiga saja, yakni sumur, dapur, dan kasur. Seolah-olah wanita tidak bisa berbuat lebih banyak dari pada itu. Bahkan ditengah masyarakat jahiliyah, bayi perempuan dianggap mendatangkan aib, sehingga pada waktu itu bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Maka katika  islam datang  dengan tegas mencanangkan suatu revolusi yang mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

اَلْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلَادِ اِذَاصَلُحَتْ صَلُحَ الْبِلَادُ وَاِذَافَسَدَتْ فَسَدَ الْبِلَادُ (حديث)

 

“ Wanita adalah tiang negara jika wanitanya baik maka baiklah negara, dan bila wanita buruk maka negara juga ikut buruk”.

Karena itu wanita yang paling berperan didalam kehidupan rumah tangga, karena dalam diri wanita mempunyai peran ganda dalam kehidupan rumah tangga, yaitu mengandung, melahirkan, mendidik, mengasuh dan membesarkan. Sehingga mengapa demikian wanita disebutkan sebagai tihang nya Negara, karena dari Rahim seorang perempuanlah  generasi suatu bangsa terlahir ke dunia, dibawah kasih saying seorang ibulah seorang anak akan tumbuh besar, dan dibawah bimbingan dan didikan seorang ibulah seorang anak memiliki kepribadian yang kelak dapat menentukan terhadap maju mundurnya suatu Negara.

kisah-kisah perempuan dalam Al-qur’an

Dalam berbagai ayat Al-quranul karim menjelaskan tentang perempuan dan peranannya. Al-quran bercerita tentang siti hawa, Al-quran bercerita tentang anak perempuan nabi adam yaitu Iqlima dan labuda yang menyebabkan qabil dan habil saling bunuhu membunuh, Al-qura’an bercerita tentang siti mariyam (ibu dari nabi isya As), Al-qur’an bercerita tentang  2 putri nabi Yusuf yang akhirnya salah satunya menjadi istri dari nabi Musa As, Alqur’an menceritakan tentang ratu Balqis yang merupakan seorang wanita yang berkuasa di negeri Saba’ yang demikian besar pengaruhnya dan wawasannya, dan banyak lagi Al-qur’an menceritakan keadaan kaum perempusn, sampai-sampai dalam Al-qur’an ada suatu surah yang bernama surah An-nisa.

Al-qur’an telah menempatkan perempuan dalam suatu posisi yang mulia

Ini seluruhnya berarti bahwa Al-qur’an telah menempatkan kaum perempuan dalam suatu posisi yang mulai, dan terpuji. Alqur’an telah memeebrikan emansipasi bahwa perempuan  berhak mengejar kemajuan sebagaimana halnya kaum laki-laki. Tetapi sungguh demikian  Al-qur’an pun tetap memebrikan batasa-batasannya, sepanjang emansipasi itu tidak bertentangan dengan qodrat perempuan  itu sendiri.

Kalau emansipasi dan hak asasi sudah tidak sesuai lagi dengan qodrat kewanitaan, pada akhirnya bukan mengangkat harkat dan martabat seorang perempuan, justru malah merendahkan harkat dan martabat perempuan itu sendiri. Seperia ada sebagian besar perempuan yang mana mereka berteriak menuntut tentang persamaan hak, tetapi mereka melupa apa batasan persamaan hak itu sendiri.

Islam dengan segala konsepnya mengangkat harkat martabat kaum perempuan

Sesungguhnya islam dengan segala konsepnya mengangkat harkat martabat kaum perempuan itu, memberikan keleluasaan untuk maju bersama kaum laki-laki, sepanjang tidak menginjak-nginjak qodrat perempuan itu sendiri.  Kalau sudah sampai kepada menginjak qodrat kewanitaan, maka akan merendahkan derajat kaum perempuan.

Sebab apa ? secara fisik dan sikis, agaknya seoarang laki-laki telah diqodratkan untuk memimpin dan membimbing kaum perempuan. Laki-laki itu Allah ciptakan dengan diberi fisik yang kuat, kekar untuk memikul dan melaksanakan tugas-tugas yang berat. Sedangkan perempuan pada umumnya, adalah mahluk yang lembut dan ayu.

Namun meskipun demikian, justru islam memuliakan seorang perempuan sesuai dengan qodratnya perempuan. Yaitu perempuan untuk dijaga, dilindungi, dinafkahi, dan dimuliakan sesuai kadarnya. Karena dengan  jasa seoarang perempuanlah kelak nantia akan lahir seoarang keturunan penerus bangsa dan Negara.

 

UJIAN HIDUP

UJIAN HIDUP

Sejatinya ujian itu akan selalu ada dalam kehidupan kita, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hidup di dunia sebagai tempat ujjian untuk menguji siapa yang bersungguh-sungguh, dan untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah menjadikan dunia penuh dengan ujian karena dengan ujian itu Allah ingin mengetahui dan pilah  pilih siapa orang-orang yang berhak masuk ke dalam surgaNya dan siapa yang ia akan dimasukkan ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman :

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَأَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّـهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴿٣﴾

Artinya :

Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata: “Kami beriman”, sementara ia tidak diuji?. Sungguh Allah telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka dengan ujian itu Allah mengetahui siapa yang jujur imannya dan siapa yang dusta keimanannya. (QS. Al-Ankabut :2-3)

Jika seseorang telah berani menyatakan bahwa dirinya beriman, maka barulah akan Nampak kadar kualitas keimanan yang dimiliki seseorang.

Mengapa orang yang beriman, justru yang diberi ujian oleh Allah swt?

Analoginya simple, bahwa orang yang mengikuti ulangan di sekolah, tentu adalah anak-anak sekolah, kalau tidak sekolah tentu saja tidak akan mendapatkan ujian sekolah. Kemudian ketika seseorang semakin tinggi kelasnya, maka semakin berat soal ujian yang diberikannya, karena menyesuaikan dengan tahap kemampuan dan kelas dari masing-masing murid.

Demikian juga dalam kehidupan beragama, justru yang beriman yang mendapat ujian dari Allah swt, semakin tinggi nilai kualitas keimanannya akan semakin berat ujian dan cobaan yang diberikannya.

Nabi Muhammad saw pernah memperingatkan dalab sabdanya :

الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل فيبتلى الرجل على حسب دينه فإن كان دينه صلبا اشتد بلاؤه وإن كان في دينه رقة ابتلى على حسب دينه فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشى على الأرض ما عليه خطيئة

“(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih)

Setiap orang Diuji berdasarkan keteguhan dan kekuatannya berpegang kepada agamanya, jadi semakin teguh kita berpegang kepada ajaran agama, semakin dekat dengan aturan-aturan agama semakin berat ujian dan cobaan yang datang menimpa kehidupan.

Allah swt menjelaskan jenis-jenis ujian yang diberikan kepada orang-orang yang beriman, dalam Qur’an surat al-baqarah ayat 155 Allah swt menjelaskan

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

 

Artinya :

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dalam ayat diatas bahwasannya kelak orang beriman akan diuji:

  1. Rasa takut, yang mungkin kadang-kadang tidak beralasan, namun menimbulkan kegelisahan didalam kehidupan kita. Seperti takut miskin, takut kehilangan jabata, bahakan takut akan mati.
  2. Kelaparan dan kekeringan, yang mana terkadang justru orang beriman allah uji dengan tidak dilimpahkan berupa kebutuhan kebutuhan hidupnya.
  3. Kekurangan harta, yang meliputi seluruh kekurangan yang bersangkutan dengan harta, baik bencana dari langit, tenggelam, kehilangan, raja-raja yang dholim, dan perompak jalanan yang merampas harta dan sebagainya.
  4. Kekuranga jiwa, Yakni kematian dan pembunuhan yang terjadi di medan jihad.
  5. Kekurangan buah-buahan, Yakni yang disebabkan oleh penyakit, atau pendapat lain mengatakan maknanya adalah kematian anak keturunan.

Berikut adalah ujian yang Allah timpakan kepada orang yang beriman. Ujian yang Allah berikan bukan semata untuk menghukum orang beriman, melainkan untuk memberikan tantangan akan keimanannya kepada Allah swt. Karena layaknya sebuah pohon, semakin tinggi pohonnya, maka akan semakin deras angina yang menerpanya. Lantas  jika kita gak mau diterjang angin, jadilah rumput, tapi inget rumput itu harus siap untuk diinjak.

 

KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN

KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN

Sudah menjadi keyakinan dalam kehidupan kita, bahwa segala yang ada permulaannya itu akan ada penghabisannya, setiap yang punya awal mesti punya akhir, tidak ada keabadian dalam kehidupan dunia ini. Semuanya datang dan pergi silih berganti, berubah oleh pergeseran masa dan pertukaran waktu. Demikianlah kalau kita mau renungi kehidupan dari alam di sekitar kita, sejak dari kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang, sampai pada kehidupan kita mahluk yang bernama manusia.

Tahapan kehidupan manusia

Lihatlah kita manusia misalnya, dimulai dari sejak kita terlahir ke alam ini, keluar dari dalam rahim  ibu, menjadi bayi yang merah tidak berdaya, untuk kemudian berangsur meningkat menjadi anak-anak, dari kehidupan anak-anak berubah lagi menjadi remaja, dengan segala keceriaan dan kelincahannya, dan dari masa remaja naik lagi menuju usia dewasa, untuk kemudian berangsur menuju hari tua, lalu setelah kita memasuki hari tua, sehari, seminggu, sebulan, setahun, hingga sampailah kita pada batas waktu yang telah ditentukan oleh Allah,yang dinamakan ajal, dan bertemulah kita dengan yang disebut Maut.

Setiap mahluk yang bernyawa akan mengalami kematian

Setiap mahluk yang bernyawa akan mengalami yang namanya kematian, karena kematian itu pasti adanya kepada setiap mahluk, bahkan malaikat pencabut nyawapun akan Allah cabut nyawanya, dan tidak ada yang kekal didunia ini keculai Allah zat yang maha kekal. Allah swt berfirman :

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

Artinya :

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), Maka apabila jikalau mati, Apakah mereka akan kekal?” [al-Anbiyâ’/ 21:34].

Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya :

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” [al-‘Ankabût/29:57]

Perubahan-perubahan pada diri manusia

Kalau seja kita mau merenung, perubahan-perubahan yang terjadi pada diri kita, seharusnya membuat diri kita insaf, dan sadar. Dikala remaja, kita begitu lincah, punya rambut yang hitam, ikal berderai, punya lesung di pipi, punya senyum yang indah menawan setiap orang yang melihat,punya kulit yang kencang dan bersih, maka mana kala kita memasuki hari tua, perubahan perontalpun terjadi, kulit mulai menjadi keriput, rambut yang tadinya hitam ikal berderai mulai memutih, nikmat berkurang, gigi yang tadinya utuh dan sanggup mengunyah apa saja perlahan mengurang.

Bila maut datang menjemput kita, apakah selsailah kehidupan kita sampai disitu ?

Sahabat mq, kalau saja lahir  merupakan perpindahan hidup dari alam rahim ke alam dunia, maka mati hakikatnya adalah perpindahan hidup, dari alam dunia ini ke alam kehidupan yang berikutnya, yang dinamakan dengan alam barjah.

Alangkah tidak adalinya Allah, kalau saja tidak ada lagi kehidupan setelah kematian, karena apa gunanya manusia yang beribadah dengan yang tidak beribadah, apa bedanya oarang yang senantiasa melakukan kebaikan dengan orang yang tidak pernah melakukan kebaikan, atau bahkan dengan orang yang senantiasa berlaku buruk atau dosa.

Kehidupan setelah meninggal dunia

Tapi dengan kemaha adilan dan maha kuasaanya Allah swt, maka yakinlah setalah seluruh manusia mati akan dihidupkan kembali menuju kehidupan Akhirat, yang mana inilah kehidupan sesungguhnya, kehidupan yang abadi, kehidpuan balasan bagi setiap amal manusia.

Maka bagi mereka yang selama didunia taat dan beribadah kepada Allah swt, berbahagialah bagi mereka, karena mereka akan mendapatkan balasan berupa surganya Allah swt, yang mana tidak ada kenikmatan di dunia seindah dan senikmat surga,  yang didalamnya penuh dengan kenikmatan serta tidak ada sedikitpun kekurangan didalamnya.

Dan celakalah bagi mereka yang selam hidupnya di dunia kufur terhadap Allah dan sering melakukan dosa, karena balesan bagi mereka adalah nerka, yang mana neraka merupakan seburuk-buruknya tempat yang Allah sediakan bagi mahluknya yang berdosa dan kufur kepada Allah. Mereka disiksa dengan seburuk-buruknya siksaan, dan sungguh terdapatlah pada hati mereka rasa penyesalan yang amat dalam, karena tidak melaksanaan ketaatan dan tidak mengimani Allah swt.

Sebagaiamana dalam firman Allah swt :

وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ () وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ () حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ () لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ ()

Artinya :

Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. [Qs.Al-Mu’minun :97-100]

 

MUSUH-MUSUH IBLIS

MUSUH-MUSUH IBLIS

Didalam kehidupan ini, apabila orang telah mengproklamirkan bendera permusuhan kepada kita, maka kita tentunya harus waspada dan mawas diri. Demikian juga iblis dan seluruh bala tentaranya yang terdiri dari syetan-syetan, mereka telah mengibarkan bendera permusuhan kepada nabi adam  dan anak cucunya, termasuk kepada kita umat Rosulullah saw.

Akan sengsara dan celaka, jika kepada iblis dan syetan yang telah nyata-nyata mengibarkan bendera permusuhan itu, kita mengatakan toleransi, mengadakan kerja sama, dan menjadi budak yang mengperturutkan kemauan iblis dan syetan.

Siapa yang menjadi musuh-musuh syetan dalam kehidupan ini?

Suatu hari Allah memerintahkan Iblis untuk mendatangi Nabi Muhammad SAW dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan olehnya, yang pertama Rasulullah saw bertanya “untuk apa kau datang kepadaku wahai iblis ?, kemudian iblis menjawabnya “Allah memerintahkanku untuk mendatangi dan menjawab semua pertanyaan yang kaujaukan kepadaku,” jawab Iblis.

Kemudian nabipun bertanya kembali, “siapa yang menjadi musuh-musuh mu dari kalangan umatku di bumi ini ?”

Iblis menjawabnya, musuh-musuhku diantara umatku kata iblis yaitu :

Yang pertama, nabi  Muhammad saw.

kenapa iblis mencatat nabi muhammad sebagai tokoh nomer satu dalam deretan musuh-musuhnya ?, karena keberadaan rasul adalah rahmatan lil alaamin, kemudian keberadaan beliau berfungsi menyalamatkan manusia dari kegelapan atau kesesatan menuju ke arah yang terang benerang penuh berisi petunjuk dan hidayah dari Allah swt.

Kedua, pemimpin yang adil.

Sesungguhnya iblis merasakan putus asa menghadapi pemimpin yang adil, karena tipu dayanya tidak terkena, segala tingkah ulahnya tidak diperturutkan, hinnga menderetkan imam yang adil adalah musuh iblis yang kedua, karena pemimpin yang yang adil mempunyai dampak dalam kehidupan di dunia ini, melindungi dan  menentramkan orang banyak, hingga ketika semakin aman,tentram situasi dan kondisi maka makin mudah orang melaksankan ibadah.

Ketiga, orang kaya yang rendah hati.

Iblis tidak senang ketika ada orang kaya tidak sombong, karena menjadi suatu kewajaran ketika seseorang diberikan kelebihan harta memiliki sifat sombong, merasa dirinya lebih dari yang lain. Maka ketika ada orang yang kaya dan memiliki sifat yang rendah hati, itu merupakan bukti bahwa orang tersebut adalah orang yang mempunyai keyakinan kalau semuanya itu adalah titipan dari Allah yang akan kembali lagi kepada Allah, semata ia memiliki kekayaan karena ia menjalankan amanah yang Allah titipkan kepadanya.

Keempat, pengusaha yang jujur.

Semua oarang ingin untung, tidak ada kecuali siapapun orangnya, dan itu adalah wajar. Maka seoarang pengusaha yang memliki keuntungan karena kejujurannya adalah orang yang yakin bahwa rizki sudah diatur oleh Allah, dan ketika menjemputnya dengan kebaikan maka keberkahan yang akan didapatkannya.

Kelima, orang alim yang berusaha khusyuk.

Tidak setiap orang ayang berilmu memiliki kekhusyuan dalam beribadah, karena khusyuk itu merupaka suautu ketenangan dan kepasrahan terhadap Tuhan di dalam melaksanakan ibadah.

Keenam, orang beriman yang ikhlas.

Ikhlas merupakan suatu perbuatan yang mudah dikatakan, tapi sulit dikerjakan,  karena ikhlas adalah melakukan amal saleh secara tulus tanpa pamrih manusia, melainkan hanya mengharapkan ridho Allah SWT semata.

Ketujuh, orang beriman yang berhati penyayang.

Sesungguhnya rasulullah saw adalah pribadi yang penyayang, sikap penyayangnya membuat semua orang simpati, bahakn bukan saja dihormati oleh sahabat-sahabatnya, melainkan musuhpun menghormatinya, oleh karena itu orang yang beriman dan memiliki sifat penyayang dapat menciptakan kedamaian seksama saudara, tetangga, sahabt dan yang lainnya.

Kedelapan, orang tobat yang istiqamah.

Hijrah atau taubat itu mudah, namun istiqomahlah yang sangat sulit, bahkan ada ulama yang mengatakan bahwa istiqomah itu lebih baik dari pada 10 karomah.  Maka ketika orang yang bertaubat dan istiqomah dalam taubatnya bisa dipastikan orang tersebut merupakan orang yang Allah rindukan kedatangannya dalam taubatnya.

Kesembilan, orang yang berhati-hati (wara‘) dari barang haram.

menghindari diri dari perbuatan dosa atau menjauhi hal- hal yang tidak baik dan subhat, merupakan ciri orang yang wara’, orang yang wara’ adalah orang yang memiliki rasa ketakutan yang tinggi kepada Allah, karena takut dengan ketidak hati-hatiannya membuat murkanya Allah kepada dirinya.

Kesepuluh, orang beriman yang menjaga wudhu.

Wudhu tidak hanya sebatas hikmah untuk membersihkan diri dari segala macam kotoran dan juga hadas kecil yang menempel pada tubuh. Akan tetapi, wudhu juga bisa dijadikan pengampun dosa yang sudah dilakukan sekaligus pemberi syafaat untuk kita kelak.

 Berikut diatas adalah orang-orang yang dimusuhi  oleh iblis, ketika konteks dimusihi adalah hal yang negatif, tapi justru orang yang dimusihi oleh iblis adalah termasuk orang yang beruntung, karena iblis merupakan musuh Allah, dan laknatullah yang ditugaskan untuk menggoda manusia agat tersesat, sehingga iblis mempunyai teman kelak didalam neraka.

 

PENTINGNYA DIDIKAN ORANGTUA TERHADAP ANAK

PENTINGNYA DIDIKAN ORANGTUA TERHADAP ANAK

Sebagai orangtua sudah selayaknya mempunyai kewajiban untuk mendidik anaknya yang Allah titipkan kepadanya, karena baik buruknya seorang anak adalah tergantung kepada didikan dari orangtuanya. Anak bisa menjadi karunia kepada orangtuanya ketika sianak tersebut diarahkan kepada tuntunan islam, namun sebaliknya justru anak bisa menjadi fitnah dan mala petaka kepada orangtuanya, ketika anak tersebut tidak dididik berdasarkan syariat islam, jangankan kelak diakhirat ia akan menghisab kita dihadapan Allah, tetapi diduniapun sekalian ia akan membuat mala petaka kepada orangtuanya.

Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan yang telah kau berikan

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك

“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).

Kewajiban  orangtua hendaknya tidak hanya membiayai dan memenuhi seluruh keperluan anak saja, tetapi orang tua harus benar-benar mempunyai keinginan untuk bisa mendidik anaknya, walaupun mungkin sudah disekolahkan, karena tetap pembentukan karakter seorang anak yang paling utama adalah dari keluarga. Terlebih pada zaman sekarang banyak faham-faham yang menyesatkan generasi muda umat islam, dengan memberikan pengaruh-pengaruh liberal,komunis, ateis dan yang lainnya, yang mana itu semua dapat membuat hancurnya generasi islam dimasa yang akan datang.

Lantas bagaimana idealnya seorang muslim lebih dahulu memberikan pendidikan kepada anak-anaknya?

Ditengah satu situasi dan kondisi, dimana serbuan datang silih berganti melanda dan menghantam umat islam. Kemana anak-anak kita harus kita arahkan ? karena kita orangtua mempunyai tanggung jawabterhadap anak, karena  anak adalah amanah, menyia-nyiakan amanah adalah dosa, dan dosa itu merupakan suatu dosa yang besar, bahkan orangtua bisa saja masuk neraka, kalau tidak bertanggung jawab tentang anak-anaknya.

Satu riwayat menjelaskan ada seoarang  yang  shaleh, dimana ia senantiasa melaksanakan amalan fardu dan amalan sunnah lainnya serta jarang melakukan dosa, diakhiratpun ketika ia ditimbang ternyata amalan kebaikannya lebih berat daripada amal keburukannya, hingga oleh Allah diperintahkan beliau untuk masuk surga. Kemudian tibalah  giliran anaknya yang dihisab, justru sebaliknya anak nya bahkan tak tahu siapa tuhannya, siapa nabinya, apa kitab sucinya, jarang melaksanakan kebaikan, dan sering melaksanakan keburukan, sehingga Allah masukan si anak tersebut kedalam neraka.  Namun seketika sianak mengajukan protes, bahwasannya benar ia tak mengenal siapa tuhannya, tidak mengenal siapa nabinya, tidak tahu apa kitabnya, ia tidak shalat, tidak zakat, tidak puasa, sering mabuka-mabukan, judi, dan amal keburukan lainnya, semata ia kerjakan itu karena ia gak tahu dan orangtuanya tidak pernah memberitahunya. Yang mana ketiaka itu orangtua saya sedang beribadah sedangkan saya dibiarkan saja tidak diajaknya, ketika saya sedang melakukan keburukan orangtua saya diam tidak mengingatkannya, Oleh karena nya bukannya saya tidak mau beribadah, tapi karena orangtua saya tidak pernah mendidik saya dan mengingatkannya, maka jikalau saya harus masuk nerka,  sayapun menuntut agar orangtua saya masuk bersama-sama dengannya masuk neraka.

sehingga akhirnya siorangtua yang sudah mau masuk surga ditarik kembali dan Allah masukan kedalam neraka akibat selama ia di dunia ia tidak bertanggung jawab atas amanah anak yang Allah titipkan kepadanya, yang mana sejatinya ketika kita diamanahkan oleh Allah seoarang anak, maka disanalah berlaku kewajiban kita untuk mendidiknya dan memberi tahunya tentang tauhid dan beribadah kepada Allah.

Namun beda halnya ketika orangtua yang mempunyai amalnya biasa-biasa saja, bahakan tak jarang juga masih sering melaksanakan keburukan, tetapi ia pernah mendidik anaknya dan mengarahkan anaknya tentang tauhid kepada Allah, sehingga anaknya menjadi anak yang sahaleh dan senantiasa mendoakan kepada orangtuanya, maka orangtua akan mendapatkan kebaikan dari anak yang shaleh , hal ini senada dengan sabda Rasulullah saw :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ فَيَقُولُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad: 10618. Hasan).

Oleh karenanya sebagai orangtua hendaknya memperhatikan mengenai didikan kepada anak-anaknya, terlebih didikan mengenai ketauhidan kepada Allah dan syri’at-syari’at islam, karena kelak anak pun akan dihisab oleh Allah dan akan dipertanggung jawabkan perihal didikannya. Walaupun mengenai anak itu menjadi anak yang sahaleh atau tidaknya itu kembali lagi kepada ketetapan Allah swt, namun disini sebagai orangtua hanya mejalankan ikhtiar atas amanah yang Allah titipkan kepadanya.

 

TANTANGAN ISLAM DI AKHIR ZAMAN

TANTANGAN ISLAM DI AKHIR ZAMAN

Rasulullah saw pernah memberikan  peringatan bahwasannya umat islam pada akhir zaman kelak bagaikan buih di lautan, yakni banyak pemeluknya namun tidak berarti , sebagaiamana Beliau telah   bersabda :

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْت

Artinya :

“Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian, seperti orang-orang makan yang memperebutkan hidangannya.” Ada seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu?” Beliau menjawab, “Justru jumlah kalian banyak pada hari itu, tetapi ibarat buih di atas air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad: 21891 dan Abu Daud: 4297)

Umat islam dipermainkan oleh umat minoritas

Alangkah ironinya dan menyedihkan,  umat islam yang mayoritas dipermainkan oleh yang minoritas, umat yang jumlahnya terbesar, terbanyak bahkan menurut catatan sampai 90 persen, tapi dipermainkan oleh mereka yang  kelompok kecil.

Ini merupakan analisa sosial bahwa pada suatu saat nanti akan terjadi di tengah-tengah umat, dimana kita akan dihantam dan diserbu dari segala macam penjuru, akidah didangkalkan, peradaban dan kebudayaan dirusak, makanan dan minuman diracuni, pakaian ditelanjangi, dan lain sebagainya sampai kita melepaskan nilai islam yang kita cintai ini. Kondisi sosial ini suatu saat akan datang kepada kita, hal ini merupakan analisa dan peringatan dari rosulullah saw.

Perang zaman sekarang adalah perang Aqidah dan ideologi

Kalau kita perhatikan, bahwa pada zaman sekarang mungkin kita tidak akan mengalami perang badar sehebat yang pernah dialami oleh rasul dan para sahabatnya, tetapi sesungguhnya perang yang kita hadapi pada zaman sekarang ini tidak kalah hebatnya dengan perang badar, tidak kurang dahsyatnya dengan perang uhud, tidak kurang ngerinya dari perang hondak. Hanya saja yang kita hadapi sekarang ini bukan ujung pedang, bukan ujung tombak, bukan ujung panah, yang kita hadapi sekarang ini yaitu perang Aqidah, perang idiologi, perang mempertahankan keyakinan, yang mana jikalau kita kalah  sekarang mungkin kita masih beragama, tetapi anak kita, cucu kita, generasi yang akan hidup 10 samapai 20 yang akan datang tidak dapat dipastikan masih mempunyai keyakinan terhadap agama islam.

Isalam tidak akan hilang dari dunia, tapi tidak mustahil gulung tikar

Islam sejatinya tidak akan mungkin hilang dari dunia, tetapi tidak mustahil islam gulung tikar dari daerah atau tempat kita jikalau kita tidak menjaganya, memeliharanya, dan mewariskannya kepada anak cucu kita. Sebagaimana yang kita ketahui sebelumnya,  bahwa dulu  islam pernah berjaya di spanyaol, kala itu islam pernah mewarnai daratan eropa, namun sekarang hanya sekedar cerita saja, karena pada waktu itu umat islam tdiak bisa memeliharanya dan mempertahankannya sehingga pada generasi selanjutnya islam hanaya tinggal cerita.

Hal ini juga pernah diperingatkan oleh rasulullah saw, sebagaimana dalam sabdanya yang artinya “Hampir datang kepada manusia suatu zaman ketika Islam tinggal namanya, Alquran tinggal tulisannya, dan masjid-masjid mereka megah tetapi jauh dari hidayah. Ulama-ulama mereka jahat, dari mereka keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu kembali.” (HR Baihaqi dalam Asy-Syu’ab).

Maka dari itu apabila kita tidak mewariskan islam  kepada generasi yang akan datang, maka serbuan-serbuan dari macam penjuru dari hari ke hari akan semakin kita rasakan kehebatnnya. Tidak mustahil sejarah spanyol akan tejadi di tempat dan daerah kita sehingga isalam akan lenyap diserbu oleh oleh orang-orang kafir.

 

3 JENIS HATI BERDASARKAN SIFATNYA

3 JENIS HATI BERDASARKAN SIFATNYA

Hati menentukan baik buruknya seseorang,  jika hatinya lurus, maka perilakunya juga akan baik, namun sebaliknya kalau hatinya tidak baik maka perilaku yang dikeluarkannya juga tidak baik. Maka pantaslah jika niat itu merupakan pekerjaan hati. Karena lurus dan tidaknya niat itu berawal dari bagaimana kondisi hati kita.

Berdasarkan sifatnya hati manusia terbagi kepada tiga bagian, yakni qolbun mayyit (hati yang mati), qolbun mariid (hati yang sakit), dan qolbun salim (hati yang sehat atau selamat), berikut penjelasannya.

  1. Qolbun mayyit (hati yang mati)

Hati yang mati, hati yang kosong dari kehidupan. Ia tidak mengetahui Rabbnya, apalagi beribadah kepada-Nya. Yang mati itu tidak bisa ditanya, padahal hati nurani inilah yang paling jujur dalam menilai sesuatu. Makannya dalam meminta fatwa hendaklah   meminta fatwa kepada hati mu, namun akan berbeda ketika  hatinya mati ?. oleh karenanya bagi orang yang hatinya mati, dia hidupnya hanya menurutkan hawa nafsu, tidak tahu baik dan buruk, yang tahu cuman satu, diperbudak nafsu. Bahkan  perilakunya itu bisa lebih buruk dari pada binatang, kenapa ? karena kalau binatang berbuat hanya karena insting, tetapi orang yang qolbun mayyit (hatinya mati) keburukannya itu sudah pakai akal, yaitu akal yang tidak sehat, sehingga kejamnya itu bisa melampaui  dari pada yang bisa dilakukan oleh binatang.

  1. Qolbun mariid (hati yang sakit)

Hati yang sakit ialah hati yang hidup, tapi terjangkit penyakit. Terkadang hatinya condong kepada kebaikan, namun terkadang berat pada kemaksiatan. Kalau yang hatinya sakit, hidupnya lebih sengsara dari pada orang yang lahirnya sakit. Orang sakit lahirnyapun menderita, apalagi yang hatinya berpenyakit, karena ada yang badannya sehat tapi hatinya sakit, contoh ketika ada seseorang yang memiliki kekayaan, badan sehat, mempunyai populeritas, mempunyai kekuasaan tetapi tidak merasakan ketenangan dan kedamaian hatinya, karena sesungguhnya bukan raganya yang sakit, melainkan hatinya yang sakit.

  1. Qolbun saliim (hati yang sehat)

Hati yang sehat dan selamat, kata Ibnul Qoyyim, adalah “Hati yang lepas dari noda syirik, dalam bentuk apa pun, bahkan ibadah hanya boleh untuk Allah semata, serta  hati yang mengikuti ajaran Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dan hati yang sehatlah yang kelak akan bisa berjumpa dengan Allah swt, sebagaimana dalam firman Allah swt ;

وَلَا تُخۡزِنِى يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ٨٧ يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ۬ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٍ۬ سَلِيمٍ۬ ٨٩

Artinya :

dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. [yaitu] di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS. As-Syu’ara : 87-89)

jadi ketika kita ingin berjumpa dengan Allah kelak pada akhir, maka kita harus punya qulbun saliim (hati yang sehat), maka jadikanlah target dalam hidup ini qolbun saliim yaitu orang yang hatinya bersih

seperti apa ciri hati yang bersih ?

Orang yang hatinya selamat dan bersih, cirinya sangat has sekali, yaitu roja’ dan khaufnya hanya kepada Allah. Makin berharapnya bulat dan utuh hanya kepada Allah, tidak kepada selain Allah dan takutnya hanya kepada Allah, itu yang membuat makin bersih hatinya.

Yang membuat kita tidak bahagia, dan hina karena harap dan takutnya bukan kepada Allah. Makin berharap kepada selain Allah makin tidak bahagia, makin jauh dari mulia, dan makin bisa celaka. Orang yang berharap kepada Allah berarti itu maka tauhidnya itu benar, makannya orang yang berharap kepada Allah itu mau dipuji atau tidak sama saja, karena yang paling penting bagi dia adalah balasan Allah.

 

 

 

HATI YANG TENANG

HATI YANG TENANG

Semua orang menginginkan ketenangan hati, karena ketenangan hati tidak dapat dibeli, ketenangan hati tidak dapat diukur oleh materi, ketengan hati tidak dapat disetarakan dari seberapa sukses pencapaian kita, karena banyak orang yang kaya raya dengan harta yang melimpah, tidak ada rasa ketenangan dalam hatinya, banayak orang yang sudah mendapatkan segalanya, sudah merasakan keindahan dan berkeliling dunia, namun belum nampak dalam hatinya rasa ketenangan.

Ketenangan hati bukan Nampak dari fisik

Bila kita melihat raut wajah orang yang tenang, cerah, maka ketahuilah ketenangan bukan terletak pada wajahnya, bila kita melihat orang melangkahkan kakinyadengan tenang, penuh wibawa, maka ketenangan bukan pada kakinya, bila tampak ayunan tangannya tidak tergesa-gesa, maka bahagia bukan pada tangannya.

Dimanakah letak ketenangan dan  kebahagaia itu?

Ketahuilah dalam jasad ada segumpal/sekepal/sesuap daging, maka kalau segumpal darah itu baik, maka yang lain akan ikut menjadi baik, dan kalau yang segumpal itu rusak, maka diapun akan menjadi rusak. Itulah yang menjadikan mata, telinga, tangan, kaki serta yang segumpal itu pulatempat rindu, benci, marah, ridha, ikhlas, fasik, hasad, kufur, disanalah bersemayam rindu dan benci.

Lantas apakah yang segumpal darah itu ?

Itulah qalbun (hati), yang mana dalam al-qur’an memiliki arti “yang berbolak-balik”. Maka dari itu hati itu sifatnya adalah berbolak-balik. Kadang hati merasakan kebahagian, terkadang pula merasakan sedih, terkadang pagi hati tenang, sore datang menjadi susah, kadang pagi hati lapang, petang tiba, diapun gundah.

Lantas bagaimana yang dapat membuat hati menjadi tenang ?

Maka firman Allah swt dalam Qur’an Surat Ar-Ra’du ayat ke 28

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (٢٨)

 

Artinya :  (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Dan dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash Radiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :

“Sesungguhnya hati-hati bani Adam seluruhnya berada diantara dua jemari Ar Rohman laksana satu hati Ia bolak-balikkan hati tersebut sekehandaknya.” Kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berdoa : “Ya Allah Dzat yang membolak-balikkan hati palingkanlah hatiku untuk mentaati-Mu”.

Sumber ketenangan jiwa dan ketentraman hati yang hakiki adalah dengan berzikir  kepada Allah

Maka dari itu hendaklah setiap orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib mempunyai keyakinan , bahwa sumber ketenangan jiwa dan ketentraman hati yang hakiki adalah dengan berzikir  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, membaca al-Qur’an, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha Indah, dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya. Bahkan,ketika kita benar-benar mendalaminya, maka tidak ada sesuatupun yang lebih besar mendatangkan ketentraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah lah zat yang memberikan rasa ketenangan

Sungguh hanya Allah lah zat yang memberikan rasa ketenangan, Allah pula yang membuat hati seseorang gelisah, begitupun hati kita adalah milik Allah, mungkin dia ada dalam diri kita, tapi bukan milik kita. Bahkan apa yang ada di bumi, di langit hanyalah milik Allah, oleh karenanya balikan semuanya kepada Allah ta’ala, karena dari Allah untuk Allah.

Dari sini kita telah mengetahui bahwa segala sesuatu itu bersal dari Allah, dan kembali untuk Allah, Allah berikan kepada kita agar kita senantiasa meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah. Karena dengan mendekatkan diri kita serta menambah kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita akan menemukan jalan keluar dari segala masalah yang kita jumpai dari arah yang tidak disangka-sangka, apapun masalah yang menimpa hamba tersebut.

 

 

 

ISLAM AGAMA YANG BENAR

ISLAM AGAMA YANG BENAR

Isalam hadir ke muka bumi sebagai rahmatan lil alaamiin, yakni rahmat bagi seluruh alam. Islam datang dengan kebaikan dan penuh keberkahan yang meliputi segala sesuatu, islam adalah syariat yang didalamnya dapat memperbaiki keadaan masyarakat,menjamin keamanan harta, kehormatan, dan segala sisi kehidupan.

Islam adalah agama yang sempurna, agama yang benar dan tidak ada agama yang diridhai Allah kecuali Islam. Sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Ali Imran ayat 19 :

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

artinya : “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam”

dalam ayat diatas menegaskan bahwa satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah adalah islam. Islam adalah sebuah agama yang telah mendapatkan jaminan pertolongan dan kemenangan dari Allah ta’ala bagi siapa saja yang berpegang teguh dengannya dengan sebenar-benarnya.

 

Kebenaran islam Allah tegaskan dalam firman-firmannya yaitu sebagi berikut :

Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang ada dilangit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada-Nya-lah mereka dikembalikan ?” [QS. Ali ‘Imran: 83]

Kemudian ditegaskan dalam ayat selanjutnya yaitu dalam QS Ali ‘Imran ayat 85,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” [QS.Ali ‘Imran: 85]

Agama Islam adalah ajaran yang mencakup akidah/keyakinan dan syariat/hukum. Islam adalah ajaran yang sempurna, baik ditinjau dari sisi aqidah maupun syariat-syariat yang diajarkannya, pun agama Islam menempatkan akal manusia pada tempat yang sebaik-baiknya.

Kebeneran agama Islam bukan semata ditinjau dari sudut pandang orang-orang muslim yang sudah jelas-jelas memiliki keyakinan akan kebenarannya, tetapi kebenaran diinul islam ditinjau dari aspek-aspek nyata yang nampak kebenarannya dapat dimengerti oleh akal manusia.

Yang demikian itu nampak, bahwa islam  mengandung ajaran-ajaran yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia (syumul), agama Islampun berlaku untuk seluruh umat manusia sampai akhir zaman (al-’umum), agama Islam mengandung ajaran-ajaran yang sesuai fitrah manusia, sebagaimana dalam firman Allah swt :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Ruum/30 ayat 30).

Fitrah Allah maksudnya adalah ciptaan Allah, karena manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu: agama tauhid, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.

Kebenaran agama islam hanaya akan dapat dirasakan kepada hamba-hamba yang Allah berikan taufik dan hidayah kepadanya. Dalam artian meskipun islam itu rahmat bagi seluruh alam, namun orang yang mengimani dan menerimanya bahwa islam adalah agama yang benar yang Allah turunkan ke muka bumi hanyalah bagi orang-orang yang kepadanya turun taufik dan hidayah dari Allah. Oleh karena itu sungguuh beruntung bagi kita yang terlahir di lingkungan yang semenjak kecil kita sudah memegang islam, karena tidak ada nikmat yang paling tinggi selain nikmat iman dan islam.