3 JENIS CARA PENGABULAN DO’A

3 JENIS CARA PENGABULAN DO’A

Do’a merupakan senjatanya umat muslim, karena sebagaimana firman Allah swt dalam Qur’an Surat Al-mukmin ayat 60 :

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya : berdo’alah kepada Ku (Allah), niscaya akan ku kabulkan permintaanmu….

Berdo’a merupakan suatu hal yang sepatutnya yang dilakukan oleh seorang hambanya kepada Rabnya, karena sejatinya tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari pertolongan Allah swt. Namun ada 3 jenis do’a berdasarkan cara pengabulannya, yaitu sebagai berikut :

Jenis doa yang pertama,

saat kita berdoa kepadah Allah maka doa tersebut langsung dikabulkan oleh Allah swt, contohnya ketika nabi zakaria as memohon untuk diberikan keturununan untuk meneruskan agama Allah walaupun umurnya yang sudah tua renta, namun nabi zakaria tak patah arang,  pada saat itu juga Allah swt langsung memberi jawaban atas doanya dan istrinyapun hamil atas izin Allah. Seperti dijelaskan di dalam quran surat al-anbiya ayat 90 yang artinya, “maka kami mengabulkan doanya, dan kami anugerahkan kepadanya yahya, dan kami jadikan istrinya dapat mengandung sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik, dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.

Jenis doa yang kedua

yakni, doa yang akan dikabulkan ketika kita sudah mampu menerimanya,  sebagai contoh adalah kisah nabi muhammad memohon tentang pemindahan kiblat umat islam, yakni kiblat baru ke ka’bah, dan hal tersebut baru dikabulkan Allah  tiga tahun setelah hijrah, hal ini mengandung makna jika Allah akan  menjawab doa kita ketika kita siap untuk hal tersebut.

Jenis doa ketiga

Jenis do’a yang ketiga yang dikabulkan Allah adalah saat Allah mengganti doa kita dengan suatu hal yang jauh lebih baik dari doa yang kita lantunkan, karna allah mengetahu yang kita butuhkan seperti yang tertera dalam al-quran surat al-baqarah ayat 216 yang berarti, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Bagaimana agar doa cepat dikabulkan?               

Setiap manusia pasti memiliki keinginan atas kesulitan ataupun harapan yang ingin dipanjatkan kepada allah swt, jika kepercayaan kita sedang goyah, percayalah kalau Allah swt mendengarkan semua doa kita, jika merasa belum dikabulkan maka bersabarlah.  Berikut ini hal-hal yang mampu mempercepat doa kita terkabul oleh allah swt:

Yang pertama sahabat mq, carilah waktu yang mustajab, yaitu ketika hari arafah, ramadhan, ketika safar, dan ketika seorang hamba dalam keadaan berpuasa, dan ketika waktu sepertiga malam terakhir, sesuai dengan hadits rasulullah saw “bahwa Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman: siapa yang berdoa kepada-ku, aku kabulkan, siapa yang meminta-ku, aku beri, dan siapa yang minta ampunan pasti aku ampuni.” (hr. Muslim).

Hal yang kedua percepatan dikabulkannya doa adalah dengan menghadap kiblat dan mengangkat tangan, selanjutnya berdoalah dengan khusyu, rendah hati, dan penuh harap kepada Allah. Berdoalah dengan suara lirih sambil merendah hanya dihadapan Allah swt, dan ketika memanjatkan doa awalilah dengan memuji allah swt, dan bershalawat kepada nabi.

Dalam hadits qudsi allah berfirman,“wahai hamba-ku, kalian semua kelaparan kecuali orang yang aku berikan makan, maka mintalah makan kepadaku, niscaya aku akan berikan, wahai hamba-ku kalian semua tidak berpakaian kecuali yang aku berikan pakaian, maka mintalah pakaian kepada-ku niscaya akan aku berikan (hr. Muslim no. 2577).

Dan yang terakhir sahabat mq, berdoalah dengan penuh keyakinan jikalau Allah maha mendengar doa hamba-hambanya lagi maha mengabulkan, maka dari itu kita tidak boleh merasa pesimis atas doa yang kita panjatkan, karena sesungguhnya Allah itu tergantung prasangka hamba-nya ketika ia berdoa padanya.

Jadi sahabat MQ, apapun harapan kita dan sebesar apapun cita-cita kita, kita jangan pernah sesekali untuk berhenti berharap atas rahmat Allah, sesungguhnya rahmat Allah itu sangatlah luas tergantung ikhtiar kita untuk menjemputnya. Salah satu bentuk ikhtiar kita sebagai umat muslim, yakni berdo’a kepada Allah dengan sepenuh hati dengan diiringi rasa harap dan keyakinan bahwa do’a kita akan dikabul, baik sesuai dengan apa yang dipinta kita, baik itu ditangguhkan terlebih dahulu hingga kita benar-benar tepat atas harapan kita itu, ataupun Allah mengkabulkannya tidak sesuai dengan harap kita, namun itu lebih baik menurut Allah dan lebih baik buat kita, hanya kita belum menyadarinya.

 

 

 

MAKNA RIZQI DALAM ISLAM

MAKNA RIZQI DALAM ISLAM

Sahabat mq, perkara yang paling dibutuhkan oleh umat manusia sepanjang hayat dalam menjalani kehidupan dunia ini adalah rezeki. Namun demikian,  ada sebagian dari  manusia yang terjebak dengan  pemikiran, bahwa rezeki Allah  hanya  berupa materi atau uang. menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata rezeki memiliki makna, segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan yang diberikan oleh tuhan berupa makanan, atau disebut dengan nafkah. tercantum dalam quran surat al baqarah ayat 22 yang artinya, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atap dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan, sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi allah, padahal kamu mengetahui.

Ibn al-jauzi berkata, bahwa di dalam alquran, rezeki itu mencakup sepuluh hal

Ibn al-jauzi berkata, bahwa di dalam alquran, rezeki itu mencakup sepuluh hal, pertama adalah pemberian manusia yang beriman akan menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadanya,  seperti tercantum dalam qs al-baqarah ayat 3. Rezeki yang kedua bermakna, makanan. makna rezeki yang ketiga berupa makan siang dan makan malam, tercantum dalam qs maryam ayat  62. makna rezeki yang  keempat adalah hujan. Kemudian yang kelima adalah nafkah, atau pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Keenam, adalah buah-buahan. dan pengertian rezeki yang ketujuh, adalah pahala. makna rezeki yang  kedelapan, berarti surga. kesembilan adalah rezeki berupa tanaman, dan binatang ternak. dan makna rezeki di dalam al-quran yang kesepuluh adalah rasa syukur kepada Allah.

Jika ditelisik lebih dalam, mungkin kaitan masalah rezeki di dalam alquran akan melebihi dari sepuluh hal. namun dari hal ini, kita dapat memahami dengan jelas, bahwa hanya Allah lah sebaik-baik pemberi rezeki.

Makna rezeki atau “ar-rizqu” menurut al-manzhur rahimahullah dalam kitabnya lisan al ‘arab terdiri dari dua macam

sahabat mq, rezeki atau “ar-rizqu” menurut al-manzhur rahimahullah dalam kitabnya lisan al ‘arab, terdiri dari dua macam, pertama yang bersifat zhahirah atau tampak terlihat, semisal bahan makanan pokok, pakaian, rumah,harta kekayaan. dan yang kedua yang bersifat batiniyah, yaitu hal yang berhhubungan dengan hati, jiwa, ataupun, berbentuk pengetahuan, dan ilmu-ilmu. Dari gambaran yang disampaikan ibnu al manzhur, maka kita dapat mengetahui bahwa hakikat rizki tidak hanya berwujud harta, atau materi saja. seperti asumsi kebanyakan orang, namun ia bersifat lebih luas dari itu, semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati seorang hamba, terhitung sebagai rezeki dari allah swt.

Bagaimana Cara allah menurunkan rezeki ?

Sahabat mq, menurut sebuah hadist, rezeki juga bermakna  segala sesuatu yang bermanfaat,  yang  Allah halalkan untukmu, entah berupa pakaian makanan sampai pada istri, itu semua termasuk rezeki begitu pula anak laki-laki,  atau anak perempuan, termasuk rezeki. termasuk pula dalam hal ini adalah kesehatan, pendengaran, dan penglihatan, Dan sedekahlah adalah cara yang baik untuk mensyukurinya, sesungguhnya tidak akan berkurang harta yang disedekahkan kecuali bertambah dan bertambah.” (hr tirmidzi).

Sahabat mq, karena dimensi,cakupan, dan sisi rezeki yang begitu luas, jelas tidak mungkin ada sosok manusia, yang mampu mengurus masalah rezeki ini. Hanya Allah yang dapat mengatur dan karena itu allah swt yang maha kaya menjamin rezeki, dari setiap makhluk yang diciptakan-nya.

Namun ,hal tersebut tidak membenarkan umat islam untuk berpangku tangan ataupun berleha-leha, sebab Rasulullah saw dan para sahabat bukanlah sosok manusia yang menyandarkan rezekinya dengan cara pasif, namun mereka mencontohkan makna kerja keras dan kesungguhan, tentu dengan cara yang Allah ridhoi. Rasulullah saw bersabda, berusaha keraslah, untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah, dan jangan bersikap lemah, hadits riwayat muslim.

Sahabat mq, bagaimana caranya allah menurunkan rezeki kepada hamba-hambanya di muka bumi ini?,  al-quran pun mampu menjawab pertanyaan ini. Dijelaskan dalam quran surat an-najm ayat 6 yang artinya, tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakan.

Rezeki pun dapat diraih manusia dengan banyak jalan, diantara dengan banyak bersyukur, memperbanyak istighfar, bershadaqoh, menikah dan memiiliki anak. Maka Allah swt pun akan memberikan rezeki yang berlimpah dan dari jalan yang tidak terduga.

Sahabat mq, setiap muslim berhak untuk hidup layak, aman, damai, dan bahagia. menurut al-qur’an, hidup layak merupakan hak, sekaligus kewajiban  mendasar dan utama, dalam islam, sehingga ajaran al-qur’an dan hadits mendorong manusia untuk mencari rezeki yang halal dan thayyib. Rasulullah saw telahbersabda, wahai manusia bertaqwalah kamu kepada allah, pakailah cara baik untuk mencari rezeki. Rasulullah juga menegaskan, serta mengingatkan kepada manusia agar berhati-hati dalam mencari harta, dan menganjurkan mereka untuk selektif  dalam memperolehnya, sehingga harta yang menjadi hak miliknya benar-benar halal, sebagaiman yang telah disabdakan, dari abu huraerah, Rasulllah saw bersabda, pasti akan datang pada manusia suatu azaman dimana seseorang tidak peduli lagi dari mana hartanya diperoleh, apakah dari yang halal atau dari yang haram” (h.r. bukhari dan abu ya’la).

Maka dari itu sahabat mq, marilah kita perluas makna rezeki yang ada , dengan mensyukuri seluruh nikmat yang kita miliki saat ini, nikmat sehat, iman, islam , nikmat keluarga ataupun pekerjaan ataupun aktivitas yang kita miliki saat ini, patutnya kita syukuri dalam-dalam dengan banyak bersyukur, niscaya allah pun akan menambah rezeki yang akan kita dapatkan di muka bumi ini.

 

DISIPLIN WAKTU

DISIPLIN WAKTU

 

Didalam al-quran Allah sering mengingatkan perihal waktu, itu terlihat dari banyak nama surat yang erat kaitannya dengan waktu semisal surat Al-fajr, Al-asri, Ad-duha, Al-lail dan sebagainya, Hal itu tersirat bahwa waktu itu suatu hal yang bisa dikatakan memberikan efek positif dan bisa juga memberikan efek negatif. Tergantung bagaimana sahabat menggunakannya, kalau waktu digunakan dengan hal yang baik dan seoptimal mungkin maka akan memberikan efek positif kepada penggunanya, sebaliknya jikalau waktu itu digunakan kepada hal yang negatif atau disia-siakan,dibiarkan berlalu begitu saja maka akan menjadi senjata makan tuan bagi penggunanya. Bahkan dalam suatu perkataan Imam Syafi’i Rahimullah, “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”

 

Islam adalah agama yang rahmatan lil alaamiin yaitu rahmat bagi seluruh alam

Islam adalah agama yang rahmatan lil alaamiin yaitu rahmat bagi seluruh alam, rahmat bagi pemeluk-pemeluknya, tidaklah suatu yang bermanfaat bagi manusia kecuali islam sudah mengaturnya dan memberikan pedomannya. Maka dari itu hendaklah umat muslim sangat memperhatikan perihal waktu, jangan sampai waktu yang Allah berikan kepada kita, kita sia-siakan begitu saja. Sudahlah cukup Allah mengingatkan dalam beberapa firmannya, begitu nampak jelas dalam qur’an surat Al-asri bahwa seluruh manusia pada dasarnya dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang memanfaatkan waktunya dengan beriman kepada Allah, orang-orang yang beramal shaleh, dan orang-orang yang saling mengingatkan dalam ketaatan dan kesabaran.

Sejatinya umat islam telah Allah ingatkan pula dalam kesehariannya, yaitu dalam pelaksanaan shalat 5 waktu, lagi-lagi Allah mengingatkannya agar hambanya benar-benar memperhartikan akan petingnya waktu. Dengan adanya shalat wajib yang senantiasa dilaksanakan 5 waktu dalam sehari yaitu subuh, dzuhur, ashar, magrib, dan isya ternyata Allah senantiasa ingin mengajarkan kita tentang makna disiplin dalam waktu. Waktu orang beriman ternyata adalah waktu yang berharga karena dalam islam waktu merupakan modal untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat, sempurnanya keimanan seseorang adalah ketika ia sudah mampu untuk menjauhkan diri dari hal yang sia-sia, dan shalat 5 waktulah yang menjadi patokan waktu disiplin terbaik umat islam. Bahkan dari hadist riwayat bukhari dan muslim sholat tepat pada waktunya merupakan amalan paling utama yang mana setelahnya adalah birul walidain dan juga berjuang di Jalan Allah (jihad Fisabilillah).

Memanfaatkan waktu adalah sesuatu yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk diterapkan

Memanfaatkan waktu adalah sesuatu yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk diterapkan oleh diri ini atau mungkin oleh sebagian besar manusia.  Banyak sekali hal yang sudah direncanakan tetapi batal dilakukan hanya gara-gara tidak pandai memanfaatkan waktu. Padahal waktu tidak akan pernah kembali, waktu tidak pernah bisa kembali. Membiarkan waktu terbuang sia-sia dengan anggapan esok masih ada waktu merupakan salah satu tanda tidak memahami pentingnya waktu. Padahal waktu dan kesempatan tidak pernah datang untuk kedua kalinya atau tidak pernah terulang. Ada pepatah Arab yang menyebutkan, “ Tidak akan kembali hari-hari yang telah lampau”. Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua nikmat, dimana banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhori).

Marilah kita memanfaatkan waktu dan kesempatan yang kita miliki untuk melakukan hal-hal yang produktif, sehingga tidak terbuang percuma. Kita tidak pernah tahu berapa banyak waktu yang kita miliki karenanya selagi kita masih memilikinya kita harus mampu memanfaatkan sebaik-baiknya, sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad).

 

 

ADAB MAKAN DALAM ISLAM TERNYATA MEMBUAT SEHAT DAN LEBIH MENAMBAH NIKMAT

ADAB MAKAN DALAM ISLAM TERNYATA MEMBUAT SEHAT DAN LEBIH MENAMBAH NIKMAT

Sahabat ternyata begitu sempurna agama yang telah di karuniakan Allah kepada kita yaitu ISLAM dengan seluruh aspek di dalamnya, semuanya detail tersusun rapih itu semua ternyata tidak lain untuk diri kita sendiri yang melakukan amalan kebaikan tersebut

jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri (QS Al Isra’ ayat 7)

Salah satu kebaikan yang bisa kita lakukan langsung adalah memperhatikan adab. Adab yang ternyata selain memperindah amal kebaikan memiliki banyak manfaat yang sangat luar biasa bagi kehidupan manusia. Mengenai adab yang sangat banyak sekali sebagai pengiring setiap amalan di keseharian, kali ini kita coba kupas terlebih dahulu adab yang paling mudah kita amalkan dan berharap kita bisa langsung merasakan manfaatnya, adalah adab makan dan minum.

Adab Makan dan Minum yang ternyata berdampak positif bagi kesehatan

Sahabat, ternyata Allah dan Rasul Nya tidak semata-mata menganjurkan dan melarang hamba-Nya serta Umatnya kalau tidak ada hikmah atau kebaikan baginya. Begitu indahnya islam sampai hal yang paling kecilpun diperhatikannya. Mungkin selama ini kita tidak sadar kalau hal-hal yang sepele tersebut berdampak besar bagi kesehatan kita, seperti contohnya dalam hal Adab makan dan minum, mungkin secara sekilas hal itu hanya sekedar aturan semata tapi tahukah sabat? Hal itu bukan hanya sekdar aturan tapi ada hikmah dan dampak positif bagi kesehatan manusia. Berikut adab makan dan minum yang berdampak kepada kesehatan manusia :

Adab pertama,  adalah memilih makanan yang halal juga baik bagi diri kita.

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik(thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya” (QS Al maidah : 88)

Makanan yang halal lagi baik ternyata sahabat merupakan adab  pertama yang perlu kita perhatikan karena memilih berarti sama halnya kita berniat, dan segala sesuatu tergantung niat nya, dengan niat memilah milih makanan yang baik lagi halal, tentu kita akan meraih kesehatan dan keberkahan insyaAllah.

Makanan yang halal adalah makanan yang jauh dari hal yang di larang Allah SWT. Berikut dalam firman Nya makanan yang haram atau tidak boleh dimakan :

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al Maidah: 3).

Adab yang ke dua,  adalah makan dan minum dengan posisi duduk.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian makan dan minum sambil berdiri. Apabila dia lupa maka hendaknya dia muntahkan.”

Dalam hadist ini jelas bahwa Rasulullah saw melarang kita untuk tidak makan dan minum sambil beridiri. Adapun tahukah sahabat apa hikmah dari dilarangnya kita makan dan minum jangan sambil beridi dan diharuskan harus sambil duduk, yaitu makan dan minum sambil berdiri dapat mengganggu bahkan merusak sistem pencernaan, dan ginjal tidak dapat melakukan proses penyaringan dengan baik.

Adab ketiga, dalam makan adalah makan dan minum hendaklah dengan tangan kanan.

berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma:  “jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya” (HR. Muslim no. 2020).

Dan dari segi kesehatan dan norma juga sudah jelas bahwa kita dianjurkan untuk makan dan minum dengan tangan kanan , secara norma tidak sopan atau tidak beradab ketika kita makan pakai tangan kiri, serta dalam kesehatanpun terbukti kalau tangan kanan lebih higenis ketimbang dengan tangan kiri, karena sebagaimana sahabat ketahui kalau tanagn kiri suka digunakan untuk membersihkan (membasuh) dubur atau kemaluan setelah buang air.

Adab ke empat, adalah makan secukupnya dan tidak berlebihan.

Sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Al-A’raf: 31

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوٓا

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”

Dalam segi kesehatan makan dan minum secara berlebihan sangatlah tidak dianjurkan,karena hal tersebut merupakan sumber dari penyakit. Biasanya oarang yang berlebihan dalam makan dapat mengakibatkan kelebihan berat badan atau Obesitas, dan ketika sudah mengalami obesitas penyakit yang lainnya ikut bersarang seperti koleterol, diabetes, asam lambung, dan darah tinggi.

Ataupun dalam segi produktivitaspun kita akan terganggu jika kita makan secara berelebihan, yang efeknya dapat membuat kita malas dan mudah mengantuk.

Berikut diatas adab adab makan yang dapat membuat sehat dan membuat makan lebih nikmat, jadi marilah sahabat kita melaksanakan adab-adab makan diatas selain kita mendapat pahala karena mengikuti tuntunan dan anjuran Rasulullah saw, sahabat juga dapat mersakan dampak positif dari membiasakan suatu hal yang telah dicontohkan oleh Rasul, kaerana sekali lagi tidaklah Rasulullah saw menganjurkan atau melarang sesuatu kalau tidak ada hikmah atau dampak positif yang terkandung, hanya disini tugas kita perlu mengimani sunnah-sunnah nya, mengamalkannya, serta menggali hikmah atas penetapannya. Insyaa Allah semuanya akan berkah dan bernilai pahala, Huwallahu A’lam Bissowwab.

 

 

 

 

Faktor Runtuhnya turki utsmani

Faktor Runtuhnya turki utsmani

Pada tanggal 3 maret 1924 M Khalifah terakhir resmi dibubarkan, 1 abad kurang atau lebih tepatnya sampai sekarang  95 tahun silam kekhilafahan Turki Utsmani atau kesultanan Utsmani runtuh. Hal ini merupakan suatu kedukaan bagi seluruh umat islam, karena Islam pada waktu itu pernah berjaya di benua Eropa dan bahkan hampir menguasi dua per tiga dunia. Dan pada waktu itu umat islam tidak dinaungi lagi oleh sistem ke khilafahan. Adapun penyebab keruntuhan turki ustmani ada dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal keruntuhan Turki Utsmani

Faktor internal keruntuhan turki Utsmani yaitu ketika penyakit Al-wahn sudah masuk kedalam diri umat islam terutama dikalangan para penjabatnya, karena tidaklah turki utsmani jatuh atau lemah kecuali ketika dipimpin oleh para pemimpin yang hubbu dunnya, yang ada al-wahn didalam dirinya, yang mana ini sudah rasul peringatkan empat belas setengah abad yang lalu dalam sabdanya, bahwasannya Alwahn ini adalah virus yang sangat berbahaya yaitu “Hubbud Dunya Wa Karaahiyatil Maut” yaitu cinta dunia dan takut akan kematian. Jadi betapa alwhn itu sangat berbahaya sekali karena dapat merontokan keimanan sesorang, dan keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian.

Awal mula atau benih-benih keruntuhan Turki Utsmani yaitu terlihat pada abad ke 18, dan pada waktu itu sejarah mencatat kalau para Sultan berpenampilan glamor, hidup bermewah-mewahan. sampailah salah seorang sultan yang menghitan anaknya sampai pestanya 45 hari, dan itu menghabiskan harta kerajaan yang sangat banyak sekali. Jadi disini bisa melihat bahwasannya ketika Al wahn sudah Ada pada diri umat islam, hal tersebut dapat menyebabkan umat lain tidak dapat menyegani lagi umat islam. Karena Rasulullah saw bersabda : “ Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745).

faktor Exsternal keruntuhan Turki Utsmani

sedangkan diantara faktor exsternal yaitu ketika munculnya Westernisasi atau  ide-ide barat tentang skularisme, Plurasime, librelalisme. Kemudian dimunculkannya isu-isu yang membuat memecah belah antar kelompok dan golongan, sampai kemudian muncullah  gerakan-gerakan yang mengusung pemikiran liberal yang diusung oleh orang-orang yahudi, setelah tokoh-tokoh muda turki diberangkatkan ke barat, sehingga tercemarlah pemikiran pemuda-pemuda turki yang pastinya sebelumnya ada pengdoktrinan kepada para tokoh muda turki, dan setelah kembali ke turki dengan pemikiran dan ideologis ala baratnya yaitu liberal menganggap kalau sistem pemerintahan dengan khilafah sudah tidak cocok lagi diterapkan di Turki dengan mempunyai maksud “gerkan pembaharuan”. Samapai kepada puncaknya yaitu terjadilah konspirasi besar yang dilakukan oleh orang yahudi sampai kemudian runtuhlah Turki Utsmani.

Itulah diantara faktor besar yang mengakibatkan runtuhnya Turki Utsmani, walaupun masih banyak faktor yang lainnya yang diantaranya adalah :

Karena wilayah kekuasaan terlalu luas  sehingga mempersulit proses administrasi, penduduk yang heterogen sehingga memerlukan oraganisasi pemerintahan yang teratur, kelemahan penguasa terutama dalam hal kepemimpinan, adanya budaya pungli yang mana pungli telah menggejala di tubuh kerajaan Turki Usmani sehingga pada setiap jabatan yang ingin dicapai seseorang harus membayar untuk mendapatkannya, pemberontakan tentara Jenissasri yaitu tentara yang dibina sendiri oleh Turki Usmani ini terhitung beberapa kali melakukan pemberontakan yakni pada tahun 1525 M, tahun 1632 M, tahun 1727 M, dan 1826 M. Dan karena  ekonomi merosot akibat peperangan demi peperangan yang tak kunjung usai, sehingga perekonomian Turki Usmani merosot tajam. Banyak biaya perang yang harus dikeluarkan, sedangkan dalam kondisi perang pemasukan dipastikan berkurang akibat keamanan dan kenyamanan tidak terjamin.

 

 

HUKUM RASISME DALAM ISLAM

HUKUM RASISME DALAM ISLAM

Pengertian Istilah Rasisme Dalam Pandangan/Khazanah Keilmuan Islam

Pengertian istilah Rasisme dalam pandangan/khazanah keilmuan islam yaiutu disebut dengan al unsuriyyah yang berarti panatisme golongan atau dalam kata padanan lainnya adalah Ta’asuf, ashabiyyah, alsinnah, alwannun  yang berarti mengidentifikasikan/mengidentitaskan dirinya.

contohnya yang sedang marak sekarang-sekarang yaitu  ujaran Kebencian yang sifatnya rasisme, diantaranya : kepada orang yang berkulit hitam dilbilang “Negro,Gelap, Lutung dll”, kepada orang arab disebut “Unta Arab”, dan sebutan yang lainnya.

Islam Melarang Adanya Rasisme

Islam melarang adanya Rasisme, terlebih dengan konsep Islama Universal persaudaraan menolak perbedaan semua RAS manusia. Karena itu, sejatinya Rasisme tidak mempunyai tempat dalam islam. Karena hal tersebut dapat memicu kebencian, adanya dendam, sakit hati dan dapat memecah belah yang satu dengan yang lainnya.

Hukum Rasisme Dalam Islam

Maka dari itu Hukum Rasisme dalam Islam adalah “Haram” ,karena  dapat menyakiti, memecah belah, membuat orang saling curiga, dendam, benci, dan jauh dari harapan islam yang sejatinya islam adalah Rahmatan Lil Alaamiin yaitu Rahmat bagi seluruh alam.

Dalil Larangan Rasisme

Adapun dalil mengenai terlarangnya Rasisme yaitu pada QS. Al-Hujurat ayat 11

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Kemudian dalam Hadist yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, yaitu ketiaka dalam khotbah terakhir Nabi Muhammad SAW yang menjunjung tinggi kemanusiaan terlepas dari warna atau ras, yaitu yang artinya: “Semua manusia adalah dari Adam dan Hawa, seorang Arab tidak memiliki keunggulan atas non-Arab maupun non-Arab memiliki keunggulan apapun lebih dari Arab; juga putih memiliki keunggulan lebih dari hitam,  juga tidak, hitam memiliki keunggulan apapun lebih putih kecuali dengan ketakwaan dan tindakan yang baik.”

Sikap Menghadapi Orang Yang Rasis

Lantas apa sikap kita ketika ada oarng yang rasis terhadap kita ?

Merujuk kepada firman Allah swt QS. Al-Qhosos ayat 55 yang artinya : “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.

Dalam artian kita memalingkannya, tak usah melawannya kembali dan tak perlu menyimpan dendam terhadap orang  yang telah berkata buruk atau rasis terhadap kita, dan apabila kita meladeninya maka akan semakin menjadi, dan mungkin apa bedanya kita dengan dia kalau akhirnya kita mencelanya kembali, dan level kita sama dengan dia yang berkata rasis terhadap kita.  biar perkataan buruknya tersebut menjadi amal mereka yang tentunya Allah akan balas atas perbuatannya tersebut, dan hendaknya bagi kita jangan bergaul dengan orang yang bahil, dalam artian kita jangan menjadikannya sebagai teman dekat, hanyalah sebatas teman biasa.

 

 

 

 

PERIODE DAKWAH RASULULLAH SAW

PERIODE DAKWAH RASULULLAH SAW

Diawal dakwah rasulullah saw, rasulullah saw melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi yakni selama tiga tahun,dan tidak banyak yang masuk islam pada waktu itu. Karena pada saat itu masanya disebut dengan masa jahiliyah, yaitu orang tahu atas Allah swt, tapi tidak benar-benar mengenal-Nya, kemudian yang didakwahkan Rasulullah saw pada waktu itu sangatlah asing bagi bangsa Arab, yakni mentauhidkan Allah swt, sementara mereka menyekutukan Allah swt.

Sehingga bisa kita bayangkan betapa beratnya dakwah Rasulullah saw pada waktu itu, sehingga Rasulullah saw bersabda : “Bada’al islamu ghoriban wasaya’udu ghoriba kama bada’a fatuuba lil ghoroba“ ,

“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing itu”. (HR.Ahmad)

Sahabat yang pertama masuk islam

Menurut sejarawan Muslim Arab, Ibn Ishaaq (wafat antara 150-159 H/761-770 M), selama tiga tahun pertama, tatkala Rasulullah saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Beliau menyeru orang-orang yang beliau meyakini dapat merahasiakan pesan yang dibawanya.  Di antara mereka yang masuk Islam pada periode ini adalah Khadijah, Waraqah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakr, Zaid bin Haritsah, Sa’ad bin Abi Waqas, Utsman bin ‘Affan, Zubair bin Awwam, Abd al-Rahman bin ‘Auf, Abdullah bin Mas’ud, dan beberapa orang budak (termasuk Bilal bin Rabah). Kesemuanya ini disebut dengan al-sabiqun al-awwalun‎) adalah orang-orang terdahulu yang pertama kali masuk/memeluk islam.

Dakwah Secara Terang-terangan

Setelah tiga tahun, melalui sebuah wahyu, Allah memerintahkan Rasulullah saw untuk menyampaikan secara terbuka. “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatnmu yang terdekat (QS. As-Syu’ara’ : 214). Rasulullah saw lau mengumpulkan 30 orang kerabatnya di rumah beliau dan menyeru mereka pada islam.

Nabi Muhammad mulai terbuka menjalankan dakwah secara terang-terangan. Mula-mula beliau mengundang kerabat karibnya bangsa Quraisy dalam sebuah jamuan, pada kesempatan itu beliau menyampaikan ajarannya. Namaun ternyata hanya sedikit yang menerimanya, sebagian menolak dengan halus, sebagian menolak dengan kasar, salah satunya Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil. Mereka membenci ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw,

Sebelum kelahiran nabi Muhammad, orang-orang Arab Quraisy adalah para penyembah berhala

Sebelum kelahiran nabi Muhammad, orang-orang Arab Quraisy adalah para penyembah berhala. Mereka suka membunuh sebagian yang lain hanya karena hal-hal yang sepele. Oleha karena itu ketika nabi Muhammad mengajak mereka untuk menyembah Allah yang maha Esa untuk meninggalkan kepercayaan merekea, mereka marah besar. Mereka yang semula cinta kepadanya berubah menjadi kebencian dan kemarahan. Sedangkan mereka yang semula membenarkan Nabi Muhammad telah berubah menjadi orang-orang yang mendustakannya.

Rasulullah Saw Berdakwah Dengan Kemuliaan Akhlaknya

Rasulullah saw berdakwah dengan kemuliaan akhlaknya, pada saat awal-awal dakwahnya di Mekkah adalah menggunakan metode dakwah dengan hikmah dan uswah hasanah. Metode yang lebih mengedepankan pada nasihat yang baik dan uswah hasanah ini, menjadi strategi yang sangat efektif dalam melancarkan dakwah Rasulullah saw pada waktu itu.

Memberikan nasihat dan contoh yang baik, dengan sasarn dakwah orang-orang terdekat beliau telah memunculkan sebuah ketertarikan tersendiri, karena sosok nabi Muhammad saw yang mempunyai kredibiltas baik, yaitu sosok yang tidak pernah berbohong dan dapat dipercaya. Sehingga dengan metode dakwah seperti ini, banyak para sahabt yang masuk islam dan ikut menyebarkan ajaran islam.

Rasulullah Saw Hanya Sebagai Hamba Allah Dan Mahluk Utusan Allah

Namun meskipun demikian, Rasulullah saw hanya sebagai hamba Allah dan mahluk utusan Allah , beliau hanya melaksanakan perintah Allah swt untuk berdakwah terhadap kaumnya agar menyembah Allah swt, tidak dengan membrikan taufik dan hidayah, karena mutlak bagi Allah lah yang berhak memberikan taufik dan hidayah atas seseorang. Hal ini terbukti dengan tidak masuk islamnya paman tercinta Rasulullah saw yaitu Abu Thalib, yang mana Abu Thalib sangat  berperan penting bahakan melindungi rasulullah saw selama dalam periode dakwahnya rasulullah saw. Namun sampai akhir hayatnya Abu thalib, beliau tidak pernah masuk islam, dan hal ini yang membuat kesedihan yang sangat mendalam bagi Rasulullah SAW.

 

 

 

 

FIQIH MENDIDIK ANAK

FIQIH MENDIDIK ANAK

Tidak jarang, banyak orangtua yang salah atau tidak pas dalam mendidik anak, entah karena orangtua sibuk dengan pekerjaannya hingga anak terlalaikan, atau  orangtua tidak tahu  tahu akan ilmu mendidik anak, dan banyak alasan lainnya. Islam sebagai rahmatan lil alaamiin telah mengatur mengenai cara orangtua mengasuh atau mendidik anak. Karena ketika orangtua gagal dalam hal mendidik anak maka akan berakibat patal baik bagi anaknya itu sendiri maupun bagi keluarganya tersebut.

Hukum Mendidik Anak

Hukum mendidik anak itu adalah “Wajib” bagi orang tua, terutama bagi seorang ayah, dalilnya terdapat dalam Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. At-Tahrim [66] :6)

Penjelasan QS. At-Tahrim ayat 6 Tentang Kewajiban Menjaga Diri Dan Keluarga Dari Api Neraka

Dari ayat ini jelas bahwasannya Allah memerintahkan kepada setiap orang yang beriman untuk memelihara diri dan keluarganya dari api neraka. Dan sebagaimana kita ketahui didalam sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Kesemuanya terdapat kewajiban untuk saling mengingatkan supaya terhindar dari api neraka-Nya, namun terlebih ditekankan kepada orangtua yang seyogyanya mempunyai kewajiban dalam hal  mendidik dan mengarahakan seorang anaknya selama anak tersebut masih dalam masa pendidikan dan pengasuhan orangtua. Orangtua wajib mendidik anaknya dalam artian orang tua menjaga anaknya dari kejahatan, menjaga anakanya dari kedurhakaan, menjaga anaknya dari hal-hal yang negatif, sehingga dengan anak diberikan pendidikan oleh orangtua maka si anak akan menjadi baik, akan mempunyai keimanan, dan akan mengetahui tentang ke islaman.

Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim, Nabi saw bersabda,

ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن

Artinya :

“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).

Fase-Fase Dalam Mendidik Anak

Dalam penyikapan terhadap anak itu berbeda setiap fasenya, tidak bisa disama ratakan. Dalam hal ini terdapat 4 fase dalam mendidik anak diantaranya yaitu :

a) Fase 0 -7 tahun

yaitu fase orang tua hendaklah perlakukan anak seperti raja, karena rasalullah saw kepada anak kecil,balita senantiasa menimbang-nimbang dengan penuh kasih sayang, bahkan dalam suatu riwayat dikisahkan rasul pernah menimbang seorang bayi, dan ketika ditimbang oleh rasul bayi tersebut kencing dalam pangkuan rasul, sehingga orangtua si bayi  merasa malu karena anaknya telah mengencingi sang rasul, seorang ibu tersebut langsung mengambil anaknya dan mencabuk anaknya, seketika oleh rasul ditegur tentang perlakuan ibu si bayi tersebut seraya berkata “tidak boleh begitu, air kecing anak bisa dibasuh oleh air, tapi luka sikis anak akan berbekas”. Begitu nampak rasa kasih sayang rasul terhadap anak kecil.

b) 7-15 tahun

yaitu fase meperlakukan anak seperti tawanan, walaupun tidak serta merta orangtua memperlakukan anak layaknya tawanan, artinya sudah mulai didisiplinkan mengenai waktu sholat, waktu belajar, waktu main, waktu tidur, waktu membantu orangrua dll.

c) 15-25 tahun

yaitu fase memperlakukan anak sebagai teman, yang mana pada fase ini si anak sudah mencapai pada usia baligh, maka di fase ini sduah tidak efektik anak diperlakukan layaknya tawanan, biasanya anak sudah punya gengnya sendiri, sudah mempunyai teman permainannya, maka orangtua hendaklah perlakukan anak seperti teman, supaya anak betah di rumah, dan bisa curhat tentang permasalahan-permasalahan hidupnya kepada orangtuanya, sehingga orangtua bisa memmbimbingnya dan mengarahkannya secara tidak langsung kepada hal yang baik dan pemecahan masalah yang terbaik.

d) 25-tak terhingga tahun

yaitu fase  memperlakukan anak sebagai pelayan, artinya seoarang anak sudah harus mempunyai rasa untuk melayani dan membaktikan diri kepada orangtua, dan tanamkan rasa tanggung jawab terhadaap keluarga.

Jadi sebagai orangtua hendaklah tak bosen-bosen untuk belajar, dalam hal ini orangtua mesti tahu bagaimana fikih mendidik anak, bagaimana ilmu tentang kepengasuhan dan mendidik anak, karena anak adalah harapan keluarga, bahkan negara dan agama, yang kalau kita gagal dalam mendidik anak, maka sudah dipastikan anak tersebut bagaimana di masa depannya.

KORELASI ISTILAH SUNNAH DAN AKIDAH

KORELASI ISTILAH SUNNAH DAN AKIDAH

Assunnah merupakan nama lain dari Akidah yang dipakai oleh para ulama. Sama halnya dengan ushulud din, tauhid, dan fiqhul akbar. As sunnah sudah tertulis pada kitab-kitab ulama terdahulu. Tujuannya untuk mempelajari ilmu akidah dari sumber yang terpecaya.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.(Q.S Al Jumuah : 2).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membersihkan akidah umatnya dari kesesatan, musyrik dan sifat jahiliyah. Agar umatnya kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengesakanNya. Mengajarkan umatnya Al Kitab yang berisi syariat agama beserta hukum-hukum dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Walaupun yang diikuti Al Quran tetapi harus diamalkan sunnahnya juga. Artinya mengamalkan akidah yang benar dengan mengikuti Al Quran dan Sunnah. Al Quran dan Sunnah merupakan kebenaran yang diyakini oleh setiap umat muslim. Allah menyatakannya dalam Q.S. Al Baqarah : 147.

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”.(Q.S. Al-Baqarah : 147).

Oleh karena itu, As-sunnah dimutlakkan bagi sebutan apa-apa yang sesuai dengan qitab dan sunnah. Merupakan perkara-perkara dalam keyakinan, itulah As-sunnah. Meninjau As-sunnah dari aspek akidah bukan sekedar amalan sunnah yang terlihat. Tetapi As-sunnah itu lebih jauh lagi diyakini sebagai kebenaran karena bersumber dari Al Quran dan As sunnah.

Jika ulama salaf membicarakan tentang sunnah maka mencakup dua hal. Yakni sunnah dalam peribadatan maupun sunnah dalam keyakinan. Meskipun As-Sunnah itu sendiri yaitu wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam . As-Sunnah sebenarnya salah satu sumber dari akidah.

Akidah As-Sunnah adalah akidah yang benar, mengikuti para sahabat dan para tabi’in. Ulama-ulama yang menulis As-Sunnah sebagai akidah diantaranya imam Ibnu Syaibah (wafat tahun 235 hijriyah), imam Ahmad Bin Hambal yakni salah satu imam ahli sunnah yang terkanal (wafat tahun 241 hijriyah), imam Asram Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Al Baghdadi (wafat tahun 273 hijriyah), Imam Abu Ali (wafat tahun 273 hijriyah), Imam Abu Daud Sulaimam bin Al As Sad As Sijistani (wafat tahun 275 hijriyah).

Jadi, dari kitab-kitab yang ditulis imam terdahulu tersebut membicarakn sunnah sebagai akidah. Sunnah yang memiliki arti keyakinan-keyakinan bukan amal-amal sunnah. Karena makna sunnah bukan hanya dilihat dari aspek ilmu fiqih melainkan adapula dari aspek akidah.

 

TAFSIR Q.S AN-NISA AYAT 100

TAFSIR Q.S AN-NISA AYAT 100

Jika mendengar kata hijrah kita akan teringat mengenai kisah sirah nabawi sekaligus trand saat ini. Masih banyak pula kaum muslim yang tidak mengetahui makna dari hijrah itu sendiri. Untuk itu pembahasan kali ini mengenai makna hijrah yang merujuk kepada Al- Quran tafsir surat An-Nisa : 100.

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. An-Nisa : 100)

Di dalam ayat ini terdapat asbabun nuzul (sebab turunnya ayat), di kupas dari tafsir munir hayyah, tafsir munir dan tafsir Ibnu Katsir. Kenapa ayat ini muncul?

Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la meriwayatkan dengan sanad jayyid bahwa Ibnu Abbas berkata, “Dhamrah bin Jundab keluar dari rumahnya untuk hijrah. Di berkata kepada anak-anaknya, ‘Bawalah aku keluar dari negeri orang-orang musyrik ini menuju Rasulullah shalallahu alaihi wasallam..’ Ketika di perjalanan dia meninggal dunia sebelum sampai kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam.. Lalu turunlah firman Allah,’Barangsiapa keluar dari rumahya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya,…”

Sedangkan, Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Yazid bin Abdillah bin Qisth bahwa Jundab bin Dhamrah ketika di Mekah jatuh sakit. Lalu dia berkata kepada anak-anaknya, “Bawa aku keluar dari Mekah. Sungguh kesulitan di dalamnya telah membunuhku.” Anak-anaknya bertanya, “Kemana kami membawamu?” Dia pun menunjuk ke arah Madinah dan ingin hijrah. Lalu mereka membawanya ke arah Madinah. Ketika sampai di aliran air Bani Ghaffar dia meninggal di dunia. Lalu Allah menurunkan firman-Nya, ‘…Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya…”

Itulah sebab turunnya ayat ini, dari sebuah kisah Dhamrah bin Jundab tentang hijrahnya beliau ke Madinah. Lalu terdapat kisah yang lain sebab turunnya ayat ini.

Dalam tafsir Ibnu katsir dijelaskan Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Sa’id bin Malik bin Sinan c, bahwa Nabi Muhammad shalallallahu alaihi wasallam bersabda :

Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya?

Ahli ibadah itu berkata: “Tidak”. Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jarak.”

Maka dia pun berangkat. Akhirnya, ketika tiba di tengah perjalanan datanglah kematian menjemputnya, (lalu dia pun mati). Berselisihlah malaikat rakhmat dan azab tentang dia. Malaikat rakhmat mengatakan : “Dia sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.” Sedangkan malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.”

Datanglah seorang malaikat dalam wujud seorang manusia, lalu mereka jadikan dia sebagai hakim di antara mereka berdua. Malaikat itu berkata, “Ukurlah jarak antara (dia dengan) kedua negeri tersebut. Maka ke arah negeri mana yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”

Kedua malaikat tersebut mengukur jarak jenazah, ternyata orang tersebut lebih dekat kepada negeri yang diinginkannya. Maka malaikat rahmat pun segera membawanya.

Dari kisah tersebut menunjukkan bahwa betapa besarnya karunia Allah, Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Laki-laki yang membunuh 100 orang itu belum beramal shalih. Dia hanya memiliki tekas untuk memperbaiki diri, bertaubat dari semua kesalahan. Tekadnya pergi meninggalkan masa lalu yang kelam membuat dirinya diampuni Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari kisah-kisah itu, Allah menjelaskan bahwa dengan berhijrah kita akan menemukan jalan yang luas serta rezeki yang terus mengalir. Tidak ada di bumi ini yang pernah berkeliling dunia melainkan hanyalah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Beliau sudah mengelilingi dunia bahkan langit menggunakan buraq.

Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengatakan kepada para sahabatnya untuk berhijrah. Maka para sahabatnya mulai berhijrah dari Habasyah, Tha’id, Madinah, Damaskus, Irak hingga akhirnya Islam tersebar luas. Itulah hikmah dari Hijrah.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat termasuk hijrah fisik. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersama para sahabatnya meninggalkan Mekkah karena banyak penyiksaan dan penganiayaan sehingga tidak kondusif untuk menjalankan syariat Islam. Hijrah bukan hanya hijrah fisik saja, akan tetapi ada pula hijrah batin. Dimana saat kondisi hati yang kotor beralih menjadi hati yang bersih. Sifat yang sering muncul dalam diri manusia yaitu sifat takabur, sifat syetan, dan sifat hewan. Ketiga sifat tersebut pantas untuk ditinggalkan agar hati menjadi lebih besar