SUDAHKAH KITA BERTAUBAT ATAS DOSA-DOSA YANG KITA LAKUKAN?

Sahabat MQ, Jika kita renungkan,  Berapa jumlah dosa yang sering kita lakukan setiap hari?, berapa kalli kita melanggar perintah Allah swt, berapa sering kita lalai terhadap perintah Allah swt ?mungkin saja jika kita mencoba untuk menghitungnya,  pasti akan sulit untuk menghitungnya.

Kita terancam oleh dosa dan perbuatan maksiat yang kita lakukan, maksiat sering dilakukan tetapi penghapusnya jarang. Maka masalah terbesar kita sebenarnya adalah kita tidak bersungguh-sungguh dalam bertobat kepada Alloh Ta’ala.

Masih yakinkah, dan layakkah kita masuk surganya Allah?

Jika berkaca kepada amal kita dan begitu banyaknya kekhilapan dan dosa-dosa yang kita lakukan, mungkin kita tidak layak untuk masuk surga, bahkan tidak pernah layak. Lantas siapkah kita masuk neraka ?, tentunya siapa yang siap, dan siapa yang mau masuk neraka?, orang jahat sekalipun pasti tidak mau masuk neraka. Bagaimana tidak,neraka merupakan tempat yang ciptakan dan Allah sediakan untuk menghukum orang-orang yang kufur dan berbuat dosa, yang siksaannya sanagat pedih dan kejam.

Mari sahabat, perbanyak istighfar. Semoga dengan istighfar kita ini, Alloh Ta’ala bisa menerima segala ampunan dari perbuatan dosa dan maksiat yang pernah kita lakukan. Kareana tidak ada yang paling kita harapkan kecuali karunia dan ampunan swt.

Bertaubat atas segala kesalahan dan kekhilapan kita

Kita adalah mahluk yang senantiasa hilap dan lupa,merupakan suatu keharusan dan kewajiban kita bertaubat dan memohon ampun kepada Allah swt. Seberapa besarpun dosa-dosa kita di masa lalu, jika kita mentaubatinya, dengan syarat bersungguh-sungguh, serta berjanji kepada diri untuk tidak mengulanginya lagi, dan menggantinya dengan amal-amal yang shaleh, maka niscaya dengan kemaha ghofur dan rahimannya Allah, Allah akan mengampuninya, karena sesungguhnya Allah adalah Zat yang maha pemurah, lagi maha pengampun.

Taubat bukan sebatas di lisan

Sahabat MQ, taubat bukan hanya sebatas lisan, tapi keinginan dan usaha sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya lagi. Dan sungguh Alloh mencintai orang yang bertobat. Jangan pernah malu untuk mengakui diri ini salah di hadapanNya. Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Albaqarah [2]: 222)

Allah sangat gembira menerima taubat seorang hamba

Dalam suatu riwayat hadist bahwasannya :

“Allah Ta’ala sangat gembira menerima taubat seseorang kamu, melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barangnya yang hilang.” (HR. Muslim)

Dalam riwayatnya lagi, yaitu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwasannya: “Sungguh kegembiraan Allah karena taubatnya hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian terhadap hewan tunggangannya di sebuah padang pasir yang luas, namun tiba-tiba hewan tersebut lepas, padahal di atasnya ada makanan dan minuman hingga akhirnya dia merasa putus asa untuk menemukannya kembali. kemudian ia beristirahat di bawah pohon, namun di saat itu, tiba-tiba dia mendapatkan untanya sudah berdiri di sampingnya. Ia pun segera mengambil tali kekangnya kemudian berkata; ‘Ya Allah Engkau hambaku dan aku ini tuhan-Mu.’ Dia telah salah ucap karena terlalu senang.” (HR. Muslim)

Sahabatku, marilah kita memperbanyak istighfar. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam yang tanpa dosa saja, dalam sehari bisa beristighfar sebanyak seratus kali, apalagi kita yang penuh dosa, seharusnya bisa lebih banyak lagi. Istighfar itu salah satu jalan keluar dari masalah, melapangkan saat kita dalam kesempitan, dan pembuka pintu rejeki.

“Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Alloh memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR. Ahmad )

HIDUP TIDAK HANYA DI DUNIA SAJA

HIDUP TIDAK HANYA DI DUNIA SAJA

Dunia adalah ladang untuk beramal, sedangkan akhirat adalah negeri balasan, baik surga maupun neraka. Balasan kita diakhirat sesuai apa yang kita lakukan di dunia. Tidaklah semata-mata  seseorang mendapatkan balasan surga, kecuali orang tersebut melakukan amal-amal shaleh dan tidak melakukan ke musyrikan kepada Allah swt. Pun sebaliknya tidaklah semata-mata seseorang mendapatkan balasan siksa  neraka, kecuali orang tersebut melakukan kekufuran atau sering melakukan hal keburukan. Tentunya Allah swt akan membalas seseorang  terhadap apa yang ia kerjakan selama hidupnya di dunia. Allah Ta’ala berfirman :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Artinya ;

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8).

Keadilan Dzat Yang Maha Adil

Allah swt tentunya zat yang maha Adil,tidaklah Allah swt membiarkan orang-orang kufur, orang-orang yang senantiasa berhura-hura, orang-orang yang senantiasa terlena akan dunia dan lupa beribadah kepada Allah swt, padahal tugas dari ciptakannya manusia adalah beribadah kepada Allah swt, maka mereka yang demikian akan menerima balasannya sesuai apa yang dia lakukaannya di dunia.

Tentunya Allah swt akan meng adzabnya dan memasukannya kedalam nerka-Nya yang mana itulah seburuk-buruknya balasan. Sehingga mereka akan merasakan penyesalan yang amat sangat mengenai perbuatannya selama di dunia. Merekapun memohon-mohon kepada Allah swt untuk diberikan kesempatan supaya dikembalikan lagi ke dunia, agar mereka bisa beribadah kepada Allah swt. Namun tidaklah ia bisa kembali lagi ke dunina, karena sesungguhnya itulah hari pembalasan Allah yang nyata, dan hari  penyesalan orang-orang kafir, dan musyrik.

Sungguh kita hidup tidak hanya di dunia saja, melainkan setelah kita mati nanti  kelak akan dibangkitn kembali, dan akan merasakan kehiupan yang sesungguhnya, yaitu kampung akhirat. Allah swt berfirman :

 وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Artinya ;

Dan mereka berkata,’Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa.’ Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 24).

Janganlah salah fokus dalam hidup di dunia

Sahabat MQ, Janganlah kita salah fokus dalam hidup ini, pasti akan merasa lelah dan tidak pernah merasa cukup jika kekayaan dunia yang menjadi tujuan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sering berdoa:

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

 “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.”

“Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri dari segala keburukan dan kekayaan hati yang selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu”  (HR. Muslim no. 2721)

Dan hendaklah kita juga senantiasa meminta kekuatan kepada Allah swt dengan senantiasa mengawali aktivitas kita di pagi hari dengan membaca :

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata ollaa billaah

Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa di atas ini,maka akan disampaikan kepadanya, ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’ Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.(HR. Abu Daud, no. 5095; Turmudzi, no. 3426; dinilai shahih oleh Al-Albani)

 

MANUSIA ADALAH MAHLUK YANG PALING SEMPURNA

MANUSIA ADALAH MAHLUK YANG PALING SEMPURNA

Manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna, dibanding mahluk Allah yang lainya. Memang dari sekian ribu ciptaan Allah yang ada, manusia-lah ciptaanNya yang paling sempurna, karena manusia diberikan oleh Allah segala komponen yang tidak dimiliki oleh ciptaan yang lainnya. Manusia mengemban amanah yang berat karena kesiapannya untuk menjadi seorang manusia. Kesempurnaan ciptaanmanusia Allah abadikan dalam firmannya, yakni dalam QS. Attin ayat 4 :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya:

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Yang membedakan manusia dengan mahluk yang lainnya

Namun yang paling dapat membdakan manusia dengan mahluk lainnya yaitu manusia diberikan akal fikiran. Dengan karunia akal dan fikiran yang Allah swt berikan kepada manusia, manusia dapat berfikir dan dapat membedakan mana yang baik dengan yang buruk baik itu untuk dirinya, maupun baik buruk dari segi aturan syariat.

Namun dalam hal ini, kita tidak boleh salah mengartikannya, karena  maksud dari kata makhluk paling sempurna disini, bukan dengan artian manusia mahluk paling benar dan paling suci. Justru karena sempurna bagi manusia artinya lengkaplah sudah segala karakter, sifat, sikap dan tindakan manusia bisa apapun itu. Sempurna kejahatannya sampai sempurna kebaikannya. Itulah kita manusia sehingga menjadi sempurna karena segala hal telah disertakan pada diri kita dalam penciptaan_Nya.

Manusia meurpakan mahluk paling kumplit dan komplek

Allah berikan manusia akal dan nafsu, setiap  hari sejak bangun tidur sampai tidur kembali terjadi pergolakan perjuangan antara bisikan akal dan nafsu. Terkadang akal menang dengan menuruti segala perintah dan larangan Allah swt, maka pada saat itu ada pada posisi yang mulia, yang mungkin bisa saja lebih mulia dari malaikat.

Karena jika malaikat hanya diberikan akal saja tidak diberikan nafsu (syahwat), maka pantaslah malaikat tidak pernah melakukan dosa, pantaslah malaikat jika terus beribadah kepada Allah swt, karena Allah swt hilangkan syahwatnya, jadi tidak ada kemauan dalam dirinya selain hanya beribadah dan menuruti perintah Allah swt.

Namaun terkadang nafsu yang menang, yang mana dalam hal ini membuat turun kemulian kita dihadapan Allah swt, dan bisa saja derajat kita sama kayak binatang, bahkan lebih rendah dari binatang, dan  lebih buas dari pada binatang.

Kenapa manusia bisa rendah dari pada binatang ?

karena jikalau binatang hanya diberikan nafsu saja oleh Allah swt, maka pantaslah ia tidak pernah malu dan tak pernah merasa bersalah jikalau melakukan hal-hal yang tak senonoh dari segi norma manusia. Dan tindakannyapun tidak akan Allah pertanggung jawabkan  kelak di akhirat.

Agama pengendali nafsu

Maka agar akal bisa mengendalikan nafsu, maka Allah swt menurunkan agama, yang mana disini fungsi agama, bukan untuk menghilangkan nafsu, tetapi mengendalikan, dan mengatur nafsu kita agar sesuai dengan  kolidornya yakni ditempatkan posisi nafsu pada tempatnya.

Sebagai misal, seorang laki-laki mempunyai ketertarikan kepada perempuan, pun sebaliknya perempuan ada ketertarikan kepada kaum laki-laki. Maka disini agama yaitu mengaturnya agar untuk menyalurkan nafsunya sesuai dengan yang disyari’atkan Allah swt, yaitu dengan cara pernikahan. Beda halnya ketika agama tidak dilibatkan dalam pengendalian nafsu,  maka ketika nafsu yang naik ketimbang akal, maka yang terjadilah perzinahan, pemerkosaan dan hal-hal buruk lainnya.

Memiliki nafsu (syahwat) itu wajar, karena sejatinya manusia Allah ciptakan dengan diberikan nafsu. Justru dengan Allah swt berikan nafsu kepada manusia, ini yang menentukan derajat manusia dihadapan Allah swt, entah itu bisa jadi mansia yang  mulia, bahkan  lebih mulia dari malaikat. Atau menjadi hina, bahkan lebih hina dari pada hewan.

 

 

STANDAR ORANG YANG BAIK

STANDAR ORANG YANG BAIK

Tidak boleh kita berburuk sangka dan mencegah orang yang berburuk sangka kepada kita. Kita perlu terimakasih kepada orang yang membuat kita tercegah dari perbutan buruk, dan Alloh Maha Mengabulkan Doa maka bersyukur lah kalau kita memiliki teman yang dapat mengingatkan kita berbuat maksiat.

Orang yang diperbudak nafsu

Orang yang diperbudak nafsu ciri khas nya adalah orang yang jauh dengan Alloh dan cenderung tidak ingin dikoreksi. Sedangkan orang yang bukan karna nafsu adalah orang yang dekat dengan Alloh dan dia akan suka dengan orang orang yang mengoreksi dirinya.

Kalau orang sibuk membuat alasan dan mencari alasan dari koreksi orang ini ciri khas orang yang sulit untuk berubah. Dan orang yang bersyukur kepada Alloh, berterimakasih dan berusaha keras fokus ini ciri ciri orang yang cepat berubah nya. Maka cari lah kawan yang membantu kita mengingat kesalahan, keburukan diri kita, dapat membantu kita lebih baik, membantu kita menjadi tau kekurangan diri dan memotivasi kita untuk berubah lebih baik.

Pujian adalah racun

Orang pada umum nya ingin di puji dan sangat jarang mencari teman seperti itu. Manusia tidak akan membawa apapun, semuanya karunia dari Alloh. Karena manusia bergitu banyak mengharapkan pujian yang dapat merusak akhlak kita tapi kalau itu adalah pujian yang baik, itu boleh selama tidak menjadi merusak akhlak dan hati kita.

Kritik yang ideal

Kritik yang ideal itu kritik nya benar dan caranya baik, sopan dan isi nya akurat. Tapi akan Alloh swt datangkan orang yang kritik kita dengan cara yang berbeda/kurang baik tapi isi nya baik, maka kita sikapi isinya dengan syukuri dan caranya menjadi ladang amal untuk kita bersabari. Tapi kalau kritik nya jelek tapi caranya baik dan sopan kita sikapi isinya dengan disabari dan caranya disyukuri. Tapi kalau ada orang yang kirtik kita isi dan cara jelek maka kita harus double sabar.

Orang yang tidak ingin di kritik  itu ciri orang yang sombong

Kritikan memang terkadang membuat kita tidak nyaman, namun percayalah ketika adalah orang yang mengkritik, itu pertanda orang tersebut perhatian kepada kita. Karena dengan kritikan tersebut kita jadi tahuh apa yang menjadi kekurangan, dan kelemahan kita. Bagus nya kalau ada yang koreksi maka kita harus langsung hati ini kembali ke Alloh,  karna Alloh yang menggerakannya.

Standar orang yang baik adalah orang yang membantu kita menjadi lebih baik, bukan orang yang senang menyanjung-nyanjung kita yang cenderung membuat kita jadi orang munafiq karna senang dipuji dan disanjung.

Bersyukur atas nikmat teman yang senantiasa mengarahkan kita kepada ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah swt

Kemudian untuk menyeimbangkan kehidupan kita, maka carilah guru yang dapat mendekatkan kita kepada Alloh swt, membuat kita semakin yakin kepada Alloh, mengajak kita untuk menjadi lebih baik dan lebih mengenal Alloh swt, itu lah guru terbaik yang harus kita cari dan syukuri. Begitupun teman, kita harus bisa mencari teman yang mengajak kita ke jalan yang lurus dan benar, bukan teman yang menjerumuskan kita kedalam kemaksiatan.

Maka diantara yang harus kita syukuri adalah teman atau sahabat yang senantiasa mengingatkan dan membuat kita lebih dekat dan taat kepada Allah swt. Ketika dengannya semakin ingat dan dekat kepada Alloh itu lah orang orang yang sangat harus kita syukuri dan harus kita jaga, dan senantiasa kita mencoba untuk membalas budi kepadanya, karena orang yang tahu berterimakasih dan balas budi, maka akan Alloh tambah karunia nya kepadanya.

 

DO’A MERUPAKAN BENTUK KEPASRAHAN HAMBA ALLAH SWT KEPADA RAB-NYA

DO’A MERUPAKAN BENTUK KEPASRAHAN HAMBA ALLAH SWT KEPADA RAB-NYA

Sejatinya tidak ada daya dan kekuatan bagi setiap mahluk, kecuali campur tangan dan pertolongan Allah swt. Oleh karenanya setiap segala bentuk usaha yang dilakukan kita sebagai hamba Allah, jangan lupa untuk menyandarkannya kepada Allah swt. Diantaranya dengan berdo’a kepada Allah swt. Karena do’a adalah senjatanya orang muslim, dan bentuk kepasrahan kita kepada Allah serta wujud tauhid kita bahwa Allah lah yang mengurus, mengatur kita dan alam semeta ini. Tidak ada yang sangat berpengaruh di sisi Allah yang melampaui kekuatan do’a.

Sebagaimana dalam firmannya :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.( QS Al Mu’min ayat 60)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah ayat 186)

Ada fasilitas yang sangat harus kita manfaatkan yaitu fasilitas do’a. Karena kita tidak dirancang untuk menyelesaikan masalah, persoalan dengan kemampuan kita, melainkan hasil campur tangan dan pertolongan Allah swt.

Allah karuniakan beragam persoala bukan untuk diselesaikan sendiri, melainkan agar:

  1. Kita semakin dekat dengan Allah.
  2. Kita semakin sadar bahwa kita itu hamba dan Allah itu tuhan kita.
  3. Kita semakin sadar bahwa kita ini tidak berdaya dan Allah yang Maha Kuasa.

Seperti adanya virus corona, sebetulnya kejadian ini adalah untuk mengenalkan kekuasaan Allah yang menyelimuti segala galanya, dan mengenalkan kelemahan diri. Apapun yang terjadi, yang Allah sukai adalah kita benar benar memposisikan diri sebagai hamba Allah. Karena selama ini kita sering tidak jadi memposisikan diri sebagai hamba Allah, melainkan hamba gelar, hamba popularitas, hamba harta, hamba jabatan, dan  hamba topeng kita.

Apa saja sih hamba itu dihadapan Allah?

  1. Hamba itu tidak ada daya kekuatan kecuali diberikan dengan izin Allah.

Jadi harus menyadari bahwa kita ini tidak sanggup nafas kecuali Allah yang memberi nafas, kita tidak bisa menghindari maksiat kecuali Allah yang nolong, kita tidak bisa taat kecuali Allah yang bimbing.

Kita ini tidak ada daya, sedang Allah penguasa langit dan bumi, berkuasa atas segala galanya. Makin kita merasa kuat. Merasa hebat, tidak mengingat kekuasaan Allah, nah ini mulai bermasalah hidup kita. Tidak ada yang banyak uang, tidak ada yang jago, tidak ada yang hebat, pinter, yang ada hanyalah kekuasaan Allah saja.

Maka jangan pernah kita merasa aman, merasa hebat dengan apa yang kita miliki, mudah bagi Allah mengambil segalanya. Kalau mau do’anya mustajab, posisikan selalu laa hawlaa wa laa quwwata illaa billlaahil ‘aliyyil ‘adzhiim…

  1. Harus yakin bahwa kita ini tidak punya apa apa, yang ada seluruhnya milik Allah.

Bahkan tubuh inipun bukan milik kita, semua cuma titipan, dibagi oleh Allah, ditahan oleh Allah ,ini adalah amalan hati. Jadi nanti kita tidak akan takjub pada orang yang dititipi Allah, harta, pangkat, jabatan, apapun topeng dunia, karena kita tahu itu semua Allah yang bagikan.

  1. Kita ini bodoh, tidak tahu apa apa kecuali Allah yang menunjuki. Allah tahu segala galanya.

Bahkan kita tidak tahu tentang diri kita sendiri, semua ilmu datang dari Allah, dan mudah bagi Allah mengambilnya. Makanya harus selalu minta ke Allah, tanpa petunjuk dari Allah, kita tidak tahu.

MENJAGA KEIHKLASAN

MENJAGA KEIHKLASAN

Sahabat MQ, semoga Allah menerima amal-amal kita, karena ternyata yang penting bukan hanya sibuk beramal tapi yang terpenting adalah amal kita diterima oleh Allah swt. Terbukti dalam riwayat yang shahih , yakani Abu Hurairah meriwayatkan, ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku berperang demi membela agamamu.”  Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Sang Pemberani.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca al-Qur’an didatangkan dihadapan Allah.  Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.  Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca al-Qur’an demi mencari ridhamu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca al-Qur’an.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?”  Dia menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.”  Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan  pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalag manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)

Jadi kesibukan kita tidak hanya sibuk hanya beramal tetapi harus sangat sibuk berusaha agar amal kita diterima Allah dengan senantiasa menjaga keikhlasan dan niat kita, karena seberapun kita beribadah, sebarapapun kita berjuang di jalan Allah, tidak aka nada nilainya dihadapan Allah swt, ketika terpaut di hati kita ada rasa ingin imbalan atau penghargaan dari mahluk.

Berikut ini cara menge-tester tentang amal kita ini ikhlas atau tidak:

  1. Apakah kita punya amalan yang rahasia,tidak?

Amalan yang tidak diketahui siapapun tapi diketahui Allah seperti sedekah yang rahasia, tentunya ini amalannya yang ada contohnya tapi kita harus punya amalan yang hanya Allah dan kita yang mengetahui.

  1. Ada orang tidak ada orang sama atau tidak?

Jika ada orang cenderung bagus amal kita tapi tidak ada orang cenderung tidak bagus berarti kita lebih condong karena adanya orang, coba test saja saat kita beramal ada orang dan tidak ada orang.

  1. Apakah pujian orang membuat semangat dan cacian membuat tidak semangat?

Jika hal itu terjadi maka yakin itu hanya karena pujian. Harusnya puji, caci seperti ember jatuh saja hanya getaran tidak bangga dengan dipuji tidak terluka dengan dicaci dan biasa saja jika tidak ada yang memuji.

  1. Apakah ingin diperlakukan spesial dihargai?

Jika kita merasa diri spesial dan menuntut orang lain menghargai kita, tapi saat tidak di hargai dia kecewa maka yakin itu karena makhluk.

  1. Apakah kita ingin balasan tidak dari orang atas amal sholeh kita?

Orang yang ikhlas itu tidak memikirkan kebaikannya tapi memikirkan ini diterima Allah atau tidak.

 

Salah satu kunci kebahagiaan di dalam hidup ini adalah ikhlas, dan kunci untuk mendapatkan keikhlasan adalah putus harapan dari makhluk hanya berharap dari Alloh.

Sahabat, ada 5 tips medapatkan hati yang ikhlas :

  1. Jangan selalu ingin diketahui semua amalan kita
  2. Jangan selalu ingin dilihat orang
  3. Jangan ingin dipuji, jangan takut dipuji
  4. Jangan ingin diperlakukan spesial
  5. Jangan ingin dibalas budi
KEMULIAAN ORANG YANG BERTEMU BULAN RAMADHAN

KEMULIAAN ORANG YANG BERTEMU BULAN RAMADHAN

Sahabat MQ, sejenak kita simak dan renungi hadits berikut ini :

Dalam shahih Imam Ahmad disebutkan : Ada dua orang yang mengunjungi Rasulullah SAW. Mereka pergi kepada beliau untuk menjadi Muslim. Mereka berdua masuk Islam di hari yang sama. Yang satu beramal lebih banyak di jalan Allah dibanding yang satunya lagi, dalam berdakwah, jihad dan sebagainya, sampai-sampai orang itu mati syahid. Temannya yang satunya, dia meninggal setahun kemudian, dan meninggalnya biasa saja, mungkin di tempat tidur atau sebagainya.

Talha bin Ubaidillah, seorang Sahabat Rasul yang sangat sholeh bermimpi. Di dalam mimpi itu dia melihat dirinya sendiri, “Aku berada di depan gerbang Surga dan aku melihat dua orang ini yang menjadi Muslim. Dan kemudian ada malaikat keluar dari surga dan memasukkan orang yang meninggal belakangan, ke dalam surga lebih dulu. Kemudian barulah sang malaikat keluar dan memasukkan temannya yang mati syahid di dunia. Kemudian sang malaikat pergi untuk ketiga kalinya, dan memberitahuku, “Talha, kembalilah, waktumu belum tiba.”

Talha pun terbangun, dia begitu terkejut dan takjub. Dia mulai menceritakan mimpinya kepada orang-orang. Dia pergi kepada Rasulullah SAW.

Rasulullah memberitahunya, “Wahai Talha, kenapa kau terkejut?”

Dia berkata, “Wahai Rasulullah, seorang syahid, seorang syuhada, yang memiliki derajat sangat tinggi, dia masuk surga, setelah orang biasa yang meninggal setahun sesudahnya?” Subhanallah.. “Bagaimana ini terjadi ya Rasulullah?”

Sebelum melanjutkan tentang hadits ini, untuk lebih detail menjelaskan apa yang Talha rasakan, bagaimana derajat orang yang syahid sehingga Talha berpikir bahwa seharusnya orang syahid yang masuk surga lebih dulu? Kedua, kenapa penting bagi Talha tentang siapa yang masuk surga lebih dulu, jika keduanya pada akhirnya masuk surga? Demi Allah, ini sangat penting.

Pertama, derajat orang yang syahid. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah akan merahmati orang yang syahid dengan 6 keistimewaan, yaitu :

  1. Dengan tetes darah pertama yang menetes dari tubuh mereka, maka Allah akan menghapuskan semua dosa mereka, dan mereka dapat melihat tempat mereka di Surga.
  2. Allah SWT menjanjikan mereka bahwa mereka tidak akan disiksa dalam kubur.
  3. Mereka tidak akan takut ketika orang-orang begitu takut dan berlarian di hari kiamat.
  4. Mereka akan diberikan mahkota kehormatan dan kemuliaan, Al-Wiqar, dengan begitu banyak permata yang menghiasinya yang salah satunya saja lebih berharga daripada seluruh dunia beserta isinya.
  5. Mereka juga akan diberikan pasangan yang paling cantik/tampan yang diciptakan Allah.
  6. Mereka dapat memberi syafaat kepada 70 anggota keluarga mereka.

Kedua, yang juga jadi pertanyaan adalah kenapa penting siapa yang masuk surga lebih dulu? Rasulullah SAW bersabda, bahwa kelompok yang pertama di surga lebih indah daripada kelompok  kedua yang masuk Surga. Kenapa?  Kelompok pertama, keindahan mereka seperti bulan. Kelompok yang kedua juga mempunyai wajah dan tubuh yang cantik/tampan, tapi keindahannya seperti bintang paling terang.

Mari kita bercita-cita dan mencari tahu apa yang pemuda itu lakukan, sehingga membuatnya menggapai tingkatan itu?

Rasulullah SAW bersabda, “Talha, kau kagum?”

Talha berkata, “Ya.”

Rasulullah bertanya padanya dan inilah jawaban indahnya. Beliau bersabda, “Wahai Talha, bukankah orang yang meninggal kemudian itu hidup satu tahun lebih lama dibanding yang syahid?”

Talha berkata, “Ya, benar.”

Beliau bersabda, “Bukankah dia menyaksikan penuh Ramadhan dan beribadah lebih banyak?”

Talha berkata, “Ya, benar Rasulullah.”

Rasulullah SAW bersabda bahwa  karena dia menyaksikan Ramadhan dan beribadah lebih banyak, itu membuat perbedaan antara dirinya dan yang mati syahid, bagaikan langit dan bumi.

Subhanallah! Betapa ini membuat kita menjadi penuh harapan. Ramadhan bisa membuat kita memiliki kesempatan melampaui keutamaan orang yang syahid. Oleh karenanya menjelang beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan ramadhan yang penuh dengan kemulian, mari kita sama-sama berdo’a kepada Allah untuk senantiasa dipanjangkan umur dan dipertemukan kembali dengan bulan yang mulia tersebut, yaitu bulan Ramadhan.

BERGAUL DAN BERSOSIALISASI DALAM ISLAM

BERGAUL DAN BERSOSIALISASI DALAM ISLAM

Sahabat MQ hal yang harus pertama kita pahami,  setiap manusia sebagai makhluk sosial tentu mempunyai kerinduan untuk bertemu dan bersosialisasi dengan seseorang, kita senang berbagi, entah berbagi cerita, makanan, berbagi status di media sosial dan lain sebagainya.

Manusia diciptikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan sebagai mahluk sosial

Manusia diciptikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan sebagai mahluk sosialyang senantiasa tidak akan terlepas dari berinteraksi dengan sesasama, baik dengan keluarga di rumah, dengan tetangga, teman sepermainan, teman sekolah atau kuliah, teman kerja, bahkan dengan seseorang yang tak kenalpun kita bisa berinteraksi dengan tujuan untuk saling mengenal atau saling memberikan keuntungan.

Maka dari itu bisa dikatakan bahwasannya manusia tidak akan terlepas dari berinteraksi sosial, karena terjadi suatu kegiatan apapun itu, karena adanya interaksi, contohnya dalam hal belajar mengajar, dalam pelaksanaan jual beli, pengajian, bermain, diskusi dan lain halnya, itu semua bisa terjadi karena adanya hubungan interaksi dengan satu sama lain. Apa jadinya ketika hidup tanpa adanya interasksi sosial, maka kita akan menjadi seseorang yang kesepian dan terasa bumi itu tanpa penghuni.

manusia Allah ciptakan dari berbagai golongan dan suku, untuk saling mengenal dan saling menolong

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 13 (49:13)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya :

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Dalam tafsir kementrian Agama (Kemenag) dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemoohkan, tetapi supaya saling mengenal dan menolong. Allah tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaannya karena yang paling mulia di antara manusia pada sisi Allah hanyalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri memerintahkan kepada kita selaku manusia, bahwasannya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dari berbagai golongan dan suku itu hendaknya untuk saling mengenal dan saling menolong, dan hal itu akan terjadi ketika adanya interaksi antara satu sama lain.

Namun disini dijelaskan pula bahwsannya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaannya karena yang paling mulia di antara manusia pada sisi Allah hanyalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Kebiasaan manusia memandang kemuliaan itu selalu ada sangkut-pautnya dengan kebangsaan dan kekayaan. Padahal menurut pandangan Allah, orang yang paling mulia itu adalah orang yang paling takwa kepada-Nya.

Islam mengatur tentang cara bergaul

Dalam hal bergaul islam sendiri mengaturnya, agar senantiasa tidak membeda-bedakan atau memandang seseorang itu dari pangkat, keturunan, golongan, dan kekayaannya, karena yang demikian dapat membuat komplik dalam hubungan pertemanan atau persaudaraan.  Seorang muslim yang baik hendaknya ia bergaul atau berinteraksi dengan siappun, ia hendak menjadi penenang, pemberi rasa nyaman, dan memberikan kemanfaatan bagi teman atau saudaranya.

Ketika kita berhubungan sosial dengan adab dan ahlak yang hendak dicontohkan oleh Rasul, maka ia dimanapun berada, akan diterima keberadaannya, serta akan hormati dan dikagumi dengan kehadirannya, bahkan ketika ketiadaannya pun akan sangat dirindukan oleh orang disekutarnya.

Lalu bagaimana agar kita bisa menjadi seorang  yang dirindukan ?

  1. Selalu mengingatkan kebaikan, dengan cara yang baik, sebagai contoh ketika kita ingin menasehati sahabat kita, tentu harus dengan cara yang baik, dengan meminta kepada Allah agar Allah selalu meluruskan, tidak menyinggung dan mencari cara untuk menyenangkan hatinya.
  2. Jujur, dalam berinteraksi apa adanya, tidak menggunakan topeng, tidak mengada-ngada. sampaikan apa yang kita bisa dan apadanya diri kita.
  3. Selalu memberikan dukungan yang positif, misalnya dengan mengapresiasi prestasi sahabat kita dengan memberikan hadiah, mengucapkan selamat dan selalu memberikan support kepada sahabat kita atau memberi dukungan dalam setiap keadaan.
  4. Menjadi sahabat yang sabar, memami sahabat kita pada kondisi-kondisi yang kurang menyenangkan, dsb.
  5. Tidak egois, mementingkan kebahagiaan bersama, mengedepankan kebersamaan, saling mengalah jika berbeda pendapat
  6. Menjadi pendengar yang baik, dengan selalu meberikan respon positif ketika sahabat kita sedang bercerita.

Rasulullah adalah pribadi yang paling baik ahlaknya, dan merupakan suri tauladan bagi umatnya. Rasulullah merupakan mahluk yang paling mulia, namun tak membuat dirinya untuk ingin dihormati dan dimuliakan oleh orang lain, bahkan sebaliknya rasul dalam bergaul senantiasa menghormati dan memuliakan lawan biacranya, sehingga rasul tidak hanya disegani dan dikhormati oleh teman dan sahabatnya, melainkan dihormati dan disegani oleh musuhnya. Begitulah ahlak dan cara bergaul rasulullah saw.

KEBAIKAN DI DUNIA DAN AKHIRAT

KEBAIKAN DI DUNIA DAN AKHIRAT

Seorang muslim adalah seorang yang berpandangan luas dan  berjiwa lapang. Yaitu tujuan jangka pendek dan jangka panjang seoarang muslim haruslah diraih kedua-duanya. Hal ini yang telah diajarkan didalam agama islam, agar senantiasa kita hidup menggapai Fiddunya hasanah wa fiddunyal aakhirah (kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam (QS. Al Qashshash: 77).

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77).

Dalam hal ini, sebagai seorang muslim hendaklah senantiasa meraih dan berlomba-lomba untuk mendapatkan Ridha Allah untuk bekal kehidupan di akhirat, karena sesungguhnya kehidupan yang abadi adalah negeri akhirat. Maka dengan karunia dan anugerah yang Allah berikan kepada manusia, yaitu supaya digunakan untuk bekal kelak di akhirat.

Namun Allah subhanahu wa ta’ala pun memerintahkan untuk tidak hanaya mencari bekal untuk akhirat saja, tetapi senantiasa belence (seimbang) dengan memperhatikan bekal kehidupan di dunia. Namun tidak menjadikan dirinya gila dunia, melainkan menjadikan dunia sebagai penghantar kehidupan akhirat.

Misal, ketika seseorang berikhtiar mencari rizki untuk kehidupan dunia, dengan senantiasa bersungguh-sungguh dalam belajar dan dalam bekerja, dengan tidak meninggalkan atas kewajiban-kewajiban seorang muslim yang telah Allah perintahkan terhadapnya. Kemudian capaian rizki yang telah ia maksimalkan dalam ikhtiar kerjanya membuat dirinya menjadi seseorang yang memiliki kelebihan harta atau menjadi seorang yang kaya, lantas ia tidak sombong, dan hendak senantiasa bersyukur atas karunia dan capaiannya yang Allah berikan kepadanya, dan dirinyapun menjadikan kekayaannya untuk berjuang di jalan Allah dengan mewakafkannya terhadap lembaga pendidikan, lembaga sosial, atau lembaga kebaikan lainnya. Maka sungguh dirinya telah menjadikan ikhtiar dunianya sebagai bekal untuk kehidupannya di akhirat.

Dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa “Suatu ketika Nabi Muhammad mendengar kabar bahwa Abdullah bin Amr bin Ash berpuasa setiap hari, serta selalu salat malam, kemudian Nabi bertanya kepadanya:” apakah kamu menjalankan yang demikian itu”. Lalu ia menjawab: “betul, wahai Nabi.” Nabi lalu menasehatinya, “bahwa jasadmu mempunyai hak, begitu juga matamu mempunyai hak yang harus terpenuhi, apalagi keluargamu yang harus kamu penuhi hak-haknya.”

Kisah di atas memberi isyarat kepada kita bahwa manusia harus pintar dalam membagi waktu, dan tak terlalu berlebihan dalam urusan ibadah atau disebut Guluw, sehingga kita mampu membagi kewajiban dan hak orang lain yang harus terpenuhi.

Dunia memang sangat berarti bagi manusia, karena merupakan ladang menuju Akhirat, yaitu tempat menanam, serta tempat investasi. Namun tidak sedikit juga  orang yang tergoda, bahkan lalai, mabuk dengannya, sampai meninggalkan kewajiban-kewajiban  yang harus ia kerjakan, seperti seorang Suami yang lupa akan kewajibannya untuk menafkahi istri dan anaknya atau sebaliknya seorang anak terlena sampai lupa kewajibannya untuk menghormati dan mendoakan orang tuannya.

Ibadah adalah tujuan UTAMA kita diciptakan. Maka ketika hendak kita akan meraih kehidupan dunia, untuk tidak melupakan kewajiban-kewajiban kita sebagai hmba Allah, yaitu beribadah dan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Sehingga apa yang kita perjuangkan untuk memenuhi kebutuhan dunia menjadi ladang bekal pula untuk kehidupan di akhirat.

Maka  dalam doa “sapu jagat” yang sangat masyhur di kalangan awam, ada isyarat untuk mendahukan kehidupan akherat:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa neraka“. (QS. Albaqoroh: 201)

 

ESENSI LAFADZ LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

ESENSI LAFADZ LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH

Sahabat MQ, di dalam hidup ini tidak ada yang kebetulan, semua yang terjadi pasti ada dalam kekuasaan Alloh, dan terjadi atas izin Alloh. Baik atau buruk perbuatan kita semua dalam penglihatanNya dan akan ada balasan sesuai yang diperbuatnya. Allah swt berfirman :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) (Q.S Al An-am 6 : 59)

Kita dianjurkan untuk bisa menyebutkan la haula wala kuwata illah billah, dan orang yang sudah bisa menyebutkan lahaula wala kuwata illah billah dengan benar, maka tauhiid nya sudah benar-benar bulat dan juga sudah bisa semakin yakin bahwa segala sesuatu yang ada di jagat raya ini adalah ciptaan dan juga sesuai dengan kehendak dan izin Alloh Ta’ala.

Semua makhluk yang ada di jagat raya ini pasti akan meminta pertolongan Alloh

Segala kerumitan yang ada di dunia ini ada pada pengurusan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, dan semua itu mudah bagi Alloh Azza Wa Jala. Semua urusan di jagat raya ini ada pada genggaman Alloh  Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak ada yang lepas dari pengurusan itu. Oleh karena itu alangkah baiknya kita meminta pertolongan hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala

Sungguh bahagia orang yang bisa meyakini bahwa segala sesuatu ada pada pengurusan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, maka hidupnya akan senantiasa bahagia, karena dengan istiqomah dalam keyakinan ini, maka akan mendatangkan ketenangan dan juga rasa sabar, karena dia sudah meyakini bahwa segala sesuatu ada pada kekuasaan dan izin Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Segala urusan ada pada izin Alloh Subhanahu Wa Ta’ala

Tidak akan mati sesuatu makhluk jika memang belum pada waktunya dan juga belum mendapatkan izin Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, begitu juga dengan sebaliknya.

La haula wa la kuwata illah billah, adalah kalimat yang bisa terlepas dari perbuatan sombong. Karena ketika kita merasa segala kebaikan itu adalah pertolongan dan izin Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, maka secara otomatis rasa untuk bisa membanggakan diri akan hilang.

wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada abu dzar al-ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

Kalimat “lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh merupakan kalimat yang mempunyai makna tauhiid, yakni ketika meyakini lafadz tersebut, maka hendaknya diiringi dengan keyakinan hati bahwasannya kita sebagai mahluk benar-benar tidak ada daya dan kekuatan sekecil apapun tanpa  pertolongan dan rahmat Allah Subhanahu Wa  Ta’ala.