KORELASI ISTILAH SUNNAH DAN AKIDAH

KORELASI ISTILAH SUNNAH DAN AKIDAH

Assunnah merupakan nama lain dari Akidah yang dipakai oleh para ulama. Sama halnya dengan ushulud din, tauhid, dan fiqhul akbar. As sunnah sudah tertulis pada kitab-kitab ulama terdahulu. Tujuannya untuk mempelajari ilmu akidah dari sumber yang terpecaya.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.(Q.S Al Jumuah : 2).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membersihkan akidah umatnya dari kesesatan, musyrik dan sifat jahiliyah. Agar umatnya kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengesakanNya. Mengajarkan umatnya Al Kitab yang berisi syariat agama beserta hukum-hukum dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Walaupun yang diikuti Al Quran tetapi harus diamalkan sunnahnya juga. Artinya mengamalkan akidah yang benar dengan mengikuti Al Quran dan Sunnah. Al Quran dan Sunnah merupakan kebenaran yang diyakini oleh setiap umat muslim. Allah menyatakannya dalam Q.S. Al Baqarah : 147.

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”.(Q.S. Al-Baqarah : 147).

Oleh karena itu, As-sunnah dimutlakkan bagi sebutan apa-apa yang sesuai dengan qitab dan sunnah. Merupakan perkara-perkara dalam keyakinan, itulah As-sunnah. Meninjau As-sunnah dari aspek akidah bukan sekedar amalan sunnah yang terlihat. Tetapi As-sunnah itu lebih jauh lagi diyakini sebagai kebenaran karena bersumber dari Al Quran dan As sunnah.

Jika ulama salaf membicarakan tentang sunnah maka mencakup dua hal. Yakni sunnah dalam peribadatan maupun sunnah dalam keyakinan. Meskipun As-Sunnah itu sendiri yaitu wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam . As-Sunnah sebenarnya salah satu sumber dari akidah.

Akidah As-Sunnah adalah akidah yang benar, mengikuti para sahabat dan para tabi’in. Ulama-ulama yang menulis As-Sunnah sebagai akidah diantaranya imam Ibnu Syaibah (wafat tahun 235 hijriyah), imam Ahmad Bin Hambal yakni salah satu imam ahli sunnah yang terkanal (wafat tahun 241 hijriyah), imam Asram Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Al Baghdadi (wafat tahun 273 hijriyah), Imam Abu Ali (wafat tahun 273 hijriyah), Imam Abu Daud Sulaimam bin Al As Sad As Sijistani (wafat tahun 275 hijriyah).

Jadi, dari kitab-kitab yang ditulis imam terdahulu tersebut membicarakn sunnah sebagai akidah. Sunnah yang memiliki arti keyakinan-keyakinan bukan amal-amal sunnah. Karena makna sunnah bukan hanya dilihat dari aspek ilmu fiqih melainkan adapula dari aspek akidah.

 

TAFSIR Q.S AN-NISA AYAT 100

TAFSIR Q.S AN-NISA AYAT 100

Jika mendengar kata hijrah kita akan teringat mengenai kisah sirah nabawi sekaligus trand saat ini. Masih banyak pula kaum muslim yang tidak mengetahui makna dari hijrah itu sendiri. Untuk itu pembahasan kali ini mengenai makna hijrah yang merujuk kepada Al- Quran tafsir surat An-Nisa : 100.

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. An-Nisa : 100)

Di dalam ayat ini terdapat asbabun nuzul (sebab turunnya ayat), di kupas dari tafsir munir hayyah, tafsir munir dan tafsir Ibnu Katsir. Kenapa ayat ini muncul?

Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la meriwayatkan dengan sanad jayyid bahwa Ibnu Abbas berkata, “Dhamrah bin Jundab keluar dari rumahnya untuk hijrah. Di berkata kepada anak-anaknya, ‘Bawalah aku keluar dari negeri orang-orang musyrik ini menuju Rasulullah shalallahu alaihi wasallam..’ Ketika di perjalanan dia meninggal dunia sebelum sampai kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam.. Lalu turunlah firman Allah,’Barangsiapa keluar dari rumahya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya,…”

Sedangkan, Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Yazid bin Abdillah bin Qisth bahwa Jundab bin Dhamrah ketika di Mekah jatuh sakit. Lalu dia berkata kepada anak-anaknya, “Bawa aku keluar dari Mekah. Sungguh kesulitan di dalamnya telah membunuhku.” Anak-anaknya bertanya, “Kemana kami membawamu?” Dia pun menunjuk ke arah Madinah dan ingin hijrah. Lalu mereka membawanya ke arah Madinah. Ketika sampai di aliran air Bani Ghaffar dia meninggal di dunia. Lalu Allah menurunkan firman-Nya, ‘…Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya…”

Itulah sebab turunnya ayat ini, dari sebuah kisah Dhamrah bin Jundab tentang hijrahnya beliau ke Madinah. Lalu terdapat kisah yang lain sebab turunnya ayat ini.

Dalam tafsir Ibnu katsir dijelaskan Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Sa’id bin Malik bin Sinan c, bahwa Nabi Muhammad shalallallahu alaihi wasallam bersabda :

Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya?

Ahli ibadah itu berkata: “Tidak”. Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jarak.”

Maka dia pun berangkat. Akhirnya, ketika tiba di tengah perjalanan datanglah kematian menjemputnya, (lalu dia pun mati). Berselisihlah malaikat rakhmat dan azab tentang dia. Malaikat rakhmat mengatakan : “Dia sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.” Sedangkan malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.”

Datanglah seorang malaikat dalam wujud seorang manusia, lalu mereka jadikan dia sebagai hakim di antara mereka berdua. Malaikat itu berkata, “Ukurlah jarak antara (dia dengan) kedua negeri tersebut. Maka ke arah negeri mana yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”

Kedua malaikat tersebut mengukur jarak jenazah, ternyata orang tersebut lebih dekat kepada negeri yang diinginkannya. Maka malaikat rahmat pun segera membawanya.

Dari kisah tersebut menunjukkan bahwa betapa besarnya karunia Allah, Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Laki-laki yang membunuh 100 orang itu belum beramal shalih. Dia hanya memiliki tekas untuk memperbaiki diri, bertaubat dari semua kesalahan. Tekadnya pergi meninggalkan masa lalu yang kelam membuat dirinya diampuni Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari kisah-kisah itu, Allah menjelaskan bahwa dengan berhijrah kita akan menemukan jalan yang luas serta rezeki yang terus mengalir. Tidak ada di bumi ini yang pernah berkeliling dunia melainkan hanyalah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Beliau sudah mengelilingi dunia bahkan langit menggunakan buraq.

Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengatakan kepada para sahabatnya untuk berhijrah. Maka para sahabatnya mulai berhijrah dari Habasyah, Tha’id, Madinah, Damaskus, Irak hingga akhirnya Islam tersebar luas. Itulah hikmah dari Hijrah.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat termasuk hijrah fisik. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersama para sahabatnya meninggalkan Mekkah karena banyak penyiksaan dan penganiayaan sehingga tidak kondusif untuk menjalankan syariat Islam. Hijrah bukan hanya hijrah fisik saja, akan tetapi ada pula hijrah batin. Dimana saat kondisi hati yang kotor beralih menjadi hati yang bersih. Sifat yang sering muncul dalam diri manusia yaitu sifat takabur, sifat syetan, dan sifat hewan. Ketiga sifat tersebut pantas untuk ditinggalkan agar hati menjadi lebih besar

PAKAIAN RASULULLAH

PAKAIAN RASULULLAH

Sahabat MQ , bersyukurlah bahwasannya kita adalah seorang  muslim yang sebagaimana segalanya sudah diatur sedemiakn rupa. Karena islam termasuk agama yang  paling sempurna tentunya. Mulai dari ujung kaki hingga rambut, Allah subhanahu wa ta’ala  telah mengaturnya dalam kitab-Nya yakni Al-Qur’an. Khususnya dalam hal berpakaian, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

 

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik. Hal itu semua merupakan ayat-ayat Allah, supaya mereka berdzikir mengingat-Ku.” (QS. al-A’raf : 26).

Sebagaimana ayat diatas Allah memberikan kemurahan hati kepada hamba-Nya berupa pakaian serta perhiasan. Pakaian merupakan kebutuhan primer manusia, sedangkan perhiasan hanya sebagai pelengkap. Fungsi dari pakaian tersebut bukan hanya untuk berhias melainkan untk menutup aurat hamba-Nya. Sedangkan pakaian takwa yaitu pakaian batin, dimana pakaian tersebut adalah pakaian yang terbaik bagi umat muslim dengan cara menjauhi larangan-larangan dan mengerjakan perintah-perintahNya.

Hendaknya dalam berpakaian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah memberikan contoh kepada umatnya agar berpakaian sesuai apa yang disyari’atkan. Selain harus  menutup aurat, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam  selalu memakai pakain yang sederhana dan tidak berlebihan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Barangsiapa meninggalkan suatu pakaian dengan niat tawadhu’ karena Allah, sementara ia sanggup mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, lantas ia diperintahkan untuk memilih perhiasan iman mana saja yang ingin ia pakai.” (HR. Ahmad, dan Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahaadist ash-Shahiihah : 718)

Kembali lagi kepada fungsi utama berpakain ialah menutup aurat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam  mencontohkan hamba-Nya agar menggunakan pakaian yang sederhana. Sebagai suri tauladan yang baik, berikut pakaian yang dikenakan beliau :

  1. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenakan sorban hitam ketika beliau diatas mimbar. Sebagaimana riwayat Muslim dalam kitab shahihnya:

Dari Amr bin Harits dia berkata,

رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم على المنبرِ وَعَلَيهِ عِمَامَة سَوْدَاءُ قَدْ أرخَى طَرفَيهَا بينَ كَتِفَيْهِ

Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di atas mimbar dan di atas kepala beliau ada sorban hitam yang kedua ujung sorban tersebut beliau julurkan di antara kedua pundak beliau “.

  1. Gamis adalah pakaian yang sunnahkan, sebagaimana ummu salamah radhiyallahu’anha, berkata :

كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقَمِيصُ

Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762 dan Abu Daud no. 4025. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

  1. Wana pakaian yang diutamakan beliau yakni wana putih, hitam dan hijau. Sebagaimana sabda beliau.

Pakailah pakaianmu yang berwarna putih karena (warna putih) adalah sebaik-baik pakaian kamu,” (HR. Imam Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i).

 

Anas bin Malik juga mengatakan, ” Warna yang paling disukai oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam   adalah hijau.”

 

Sedangkan, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kepada para sahabat agar mengenakan pakaian warna hijau.

” Pada hari raya kami disuruh memakai pakaian berwarna hijau karena warna hijau lebih utama. Adapun warna hijau adalah afdhal daripada warna lainnya, sesudah putih.”

Tidak menutup kemungkinan bahwa warna pakaian yang lain dianjurkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahualam bisawab.