MEMULIHKAN SEMANGAT YANG PATAH

MEMULIHKAN SEMANGAT YANG PATAH

Setiap orang memiliki cita-cita dan harapan yang ingin digapai, cita-cita dan harapan merupakan suatu hal yang dapat menggairahkan kita untuk bekerja keras dalam menggapainya. Namun dalam perjalanannya, tentu tak semudah membalikan tangan, perlu perjuangan, pengorbanan dan keistiqomahan yang sungguh-sungguh.

Tak sedikit orang yang gagal dalam ikhtiar untuk menggapai cita-citanya, faktornya banayak sekali, baik karena lelahnya perjuangan yang tak kunjung samapi pada titik temu apa yang kita harapkan, ada yang gagal karena tergoda oleh bisikan nafsu semata, ada juga yang karena bentuk ikhtiar yang hari ke harinya sudah mulai tidak istiqomah, dan ada juga karena hilangnya keyakinan pada diri akan capaian cita-cita tersebut, serta banyak faktor yang lainnya.

Tantangan  dalam mengapai cita-cita

Sahabat MQ, terkadang memupuk semangat pada diri kita, bisa dikatakan mudah, karena disana kita memiliki tujan, yakni cita-cita dan harapan-harapan kita. Biasanya ketika kita memiliki tujuan yang akan dicapai, diri kita senantiasa hendak termotivasi untuk bisa merealisasikannya. Namun yang menjadi terasa sulitnya itu adalah mengkonsistenkan atau mengistiqomahkan  semangat yang kista miliki. Naik turunnya girah (semagat) pada diri kita itu menjadi tantangan dalam proses pencapaian cita-cita dan harapan kita.

Lantas bagaimana cara mengatasi atau memupuk kembali semangat kita yang mulali turun?

Dalam mengatasi atau memupuk kembali semangat  kita yang mulai turun yang pertama adalah Luruskan dan benahi niat kita. Maka dalam pembenahan niat ini, niatkan apa yang menjadi cita-cita dan harapan kita ada nilai ibadah dan ada nilai kebaikan buat orang lain. Karena  barang siapa yang ingin berniat dengan niat yang baik dalam amalnya, harus melihat faktor pendorong yang mengajaknya untuk mengerjakan amal tersebut, sehingga dia bersungguh-sungguh yang menjadi pendorong utama adalah ridho Allah, taat kepada-Nya dan mengerjakan perintah-Nya.

Maka dengan ini niatan itu akan menjadi karena Allah –ta’ala-, kemudian setelah itu ia harus menjaga pendorong utama untuk beramal, murni karena Allah, tidak berpaling darinya di tengah-tengah amal, hati dan niatnya tidak berubah-ubah, tidak berpaling kepada selain Allah, dan tidak dihinggapi kesyirikan lainnya. Seperti dalam hikayat di zaman para sahabat berikut ini :

Kisah sang palnglima perang dalam membangkitkan semangat perjuangan

Menjelang perang mu’tah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menujuk tiga orang panglima, mereka adalah zaid bin haritsah, ja’far bin abi thalib dan abdullah bin rawahah. Kemudian berangkatlah 3000 pasukan kaum muslimin menuju medan jihad, namun ketika rombongan sampai di ma’an, kaum muslimin mendapat kabar bahwa pasukan yang akan mereka hadapi berjumlah dua ratus ribu orang bersenjata lengkap, tentu kabar ini mengguncang semangat pasukan muslimin.

Seseorang kemudian menyampaikan usulan, “kita tulis saja surat kepada rasulullah, kita sampaikan kepada beliau jumlah musuh kita, bisa jadi beliau akan mengirimkan pasukan tambahan”, mendengar usulan tersebut, ada yang setuju dan ada pula yang tidak memberi tanggapan, hingga suasana hening sesaat.

Tiba-tiba, abdullah bin rawahah sang panglima ketiga berseru, “saudara-saudaraku, sesungguhnya apa yang tidak kalian sukai ini justru merupakan tujuan dan cita-cita keberangkatan kita, tidakkah kalian merindukan syahid? kita memerangi musuh bukan mengandalkan senjata, kekuatan atau banyaknya jumlah pasukan, melainkan kita memerangi mereka dengan mengandalkan agama yang allah swt muliakan kita karenanya. Maka dari itu, majulah dengan barokah Allah!, kita pasti memperoleh satu di antara dua kebaikan, yakni menang atau syahid!”. seluruh pasukan kembali bersemangat dan meneriakkan takbir, “Allahu akbar!”.

Sahabat mq, kisah tadi mengajarkan kita untuk melihat kembali niat dalam langkah kebaikan yang kita tempuh, yakni melakukan segala sesuatu karena dan untuk allah ta’ala. Dengan itulah kita dapat memulihkan semangat yang patah.

Sumber: kisahmuslim.com

RINGAN MENERIMA TAKDIR

RINGAN MENERIMA TAKDIR

Sahabat MQ, ada sebuah perumpamaan lama. Misalkan, kita sedang berada di dalam sebuah ruangan gelap, Kemudian tiba-tiba ada seseorang memukul dengan gulungan koran. Kira-kira apakah kita akan marah?

Secara manusiawi tentunya akan marah. Tetapi, apakah kita tetap emosi ketika lampu dinyalakan dan ternyata yang memukul itu adalah mertua? Dia yang sudah merestui kita menikahi anaknya, ditambah bonus apartemen megah, dua mobil mewah, serta deposito lima milyar. Rasanya kecil kemungkinan orang akan marah.

Maksudnya, terhadap orang yang berbuat baik kita jarang kecewa, walaupun kadang keinginan orang tersebut tidak sesuai dengan harapan kita. Gulungan koran tidak ada apa-apanya dibanding tumpukan uang milyaran. Itu terasa ringan dibandingkan apartemen, mobil, dan terutama restu untuk menikahi putrinya.

Nah, itu kepada sesama makhluk. Kalau terhadap makhluk kita bisa begitu, seharusnya kita bisa lebih mampu menerima setiap takdir dari Allah. Dia yang telah menciptakan dan memberi rezeki yang tidak ternilai kepada kita sampai saat ini.

Allah swt berfirman :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Tidak ada satupun musibah yang menimpa di bumi ini maupun pada dirimu, kecuali sudah tertulis di dalam kitab sebelum Kami mewujudkannya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kalian tidak terlalu berduka-cita dengan apa yang Iuputdarimu, dan tidak berbangga. bangga diri dengan apa yang Allah berikan padamu Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.” (QS. AI-Hadid [57]:22-23).

Beratnya ujian disebabkan kkita belum yakin bahwa Allah Zat yang maha baik

Jadi, beratnya cobaan hidup, perih dan getirnya batin ini menghadapi takdir, dikarenakan kita belum yakin bahwa yang menimpakan takdir ini adalah Zat yang Maha baik. Dia yang selama ini selalu berbuat baik. Ketika mendapatkan ujian dan tidak menganggap ujian ini datang dengan izin dari-Nya.

Orang-orang yang sering kecewa dalam menjalani hidup adalah orang-orang yang sok tahu dan lebih condong kepada nafsu. Coba lihat para sahabat Nabi SAW. Mereka sudah tidak peduli, apakah hidupnya senang atau susah, dipuji atau dicaci, sehat atau sakit. Mereka sangat paham bahwa di dalam keduanya terdapat kebaikan. ”Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]:216).

Ketika takdir tidak sesuai dengan keinginan kita

Jadi, apabila pernikahan kita tiba-tiba batal, yakinlah bahwa itu bukan sebuah keburukan sehingga tidak usah kecewa berkepanjangan. Kalau memang bukan jodoh, pernikahan pasti tidak akan berlangsung. Boleh jadi, Allah Ta’ala ingin mengganti dengan yang lebih baik. Jalani saja, jika surat undangan sudah terlanjur disebar, maka tinggal membagikan surat tidak jadi diundang.

Ingin kuliah tidak lulus ujian atau ingin mengabdi di pemerintahan tetapi tidak lolos tes CPNS, bukanlah akhir kehidupan, yang penting niat mengikutinya benar dan itu sudah menjadi amal saleh. Siapa tahu Allah mempunyai rencana lain untuk kita. Begitu juga bagi yang sakit dan telah berobat ke mana-mana tetapi belum sembuh, ikhtiarnya sudah menjadi amal ibadah.

Seharusnya terasa ringan bala yang menimpa kepadamu karena engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji kamu. Maka Allah yang menimpakan kepadamu takdir-Nya itu, Dia pula yang telah biasa memberikan kepadamu sebaik-baik apa yang dipilihkan untukmu. Dialah yang membiasakan engkau merasakan sebaik-baik pilihanNya atau pun pemberiannya.(AI-Hikam, No.115).

Bagaiamana cara menerima setiap episode kehidupan dengan lapang ?

Apa pun yang sudah terjadi itulah namanya takdir, tinggal bagaimana kita menerima setiap episode kehidupan, yaitu dengan sabar dan ridha terhadap Suatu takdir akan terasa ringan ketika kita yakin bahwa dia datang atas izin dan dari Allah Yang Maha Tahu segala sesuatu, Yang Maha Baik, dan yang selama ini pun selalu berbuat baik. Dengan hati yang ridha, tetap bersemangat untuk melanjutkan perjalanan ke episode takdir yang lain.

“Bolehjadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan bolehjadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]:216)

 

DENGAN DZIKIR HATI MENJADI TENANG

DENGAN DZIKIR HATI MENJADI TENANG

Dzikrullah merupakan  suatu amalan yang dapat mendatangkan maghfirullah (ampunan Allah). Allah swt memerintahkan setiap orang beriman untuk mengingat-Nya. Dalam istilah aslinya disebut dzikrullah. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam Qs. Al-Baqarah ayat 152 dan Qs. Al-Ahzab ayat 41 :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya :

Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku serta janganlah (sekali-kali) kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS al-Baqarah [2]: 152).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Artinya :
Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS al-Ahzab [33]: 41).

Kalau kita ingin diampuni dosanya, ingin hidup bahagia, serta ingin diperlakukan spesial oleh Alloh swt, maka perbanyaklah dzikrullah. Dan ketahuilah, dzikrullah menjadi suatu perintah karna salah satu rukun iman dan rukun islam semuanya dzikir kepada Alloh.

Maka diukurnya kualitas seseorang dihadapan Allah swt yaitu  dengan banyak nya dzikirullah atau berdzikir kepada Allah swt. Dan kata Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam, bahwasannya  orang yang tidak berdzikir, seperti orang yang antara hidup dan mati.  Maka dari itu  kita sangat perlu untuk mengevaluasi diri kita seberapa banyak dzikir kepada Alloh.

Dzikir membuat hati sakinah (tenang).

Yang membuat hati kita tenang, yakni  hanyalah Alloh swt. Oleh karenanya dengan kita memperbanyak dzikir kepada Alloh, Allah tenangkan hati kita dikala hati kita sedang  gelisah. Dengan izinNya lah Alloh membuat kita bisa berfikir lebih jernih dan jitu.

Mendengar, melihat, ingin sesuatu semuanya ciptaan Alloh maka ingat lah kepada Alloh dan meminta lah kepada Alloh. Dan tiadalah musibah yang dapat menimpa kita sekcil apapun kecuali atas izin Alloh.

Masalah terbesar kita adalah banyak mikir kurangnya berdzikir.

Banayaknya masalah dalam kehidupan kita, bisa jadi karena terlalu banyak mikir, terlalu mentuhanka ikhtiar, tapi kurang berdzikir. Tidak dilibatkannya Allah di setiap ikhtiar yang kita lakoni, maka yang ada diri kita akan setres dan galau. Oleh karenanya tanamkan didalam hati kita, disetiap langkah dan hembusan nafas kita untuk berdzikir kepada Allah swt.

Sebenarnya dalam shalatpun semua nya terkandung dzikirullah, tapi kebanyakan dari kita adalah berdzikir hanya dilisan saja, yakni berdzikir tapi dihati tidak berdzikir. Memantapkan hati ketika berdzikir itu bisa dilatih. misalnya kalau kita ingin berlatih belum bisa dzikir dengan hati maka bisa diawali dengan dzikir dengan lisan nanti akan berlanjut dzikir dengan hati.Dan kalau kita sulit berdzikir dan kurang yakin ke Alloh maka teruslah meminta kepada Alloh.

Dzikir adalah kunci keberhasilan

Penting sekali bagi kita untuk senantiasa dzikrullah, kalau kita ingin beruntung kata kunci nya adalah dzikrullah. Dzikrullah adalah mengingat Allah dan ada tingkatannya, berikut tingkatannya:

– Ada yang mengingat Allah hanya karena ilmu saja (ilmul yakin)

– Ada yang mengingat Allah dan bisa merasakan perbuatan-perbuatan Allah (ainul yakin)

– Ada yang mengingat Allah dan sangat yakin akan Allah melihat kita serta sudah melewati ilmunya dan proses muhajadah (haqul yakin)

Sahabat MQ, seyogyanya dzikir kita itu harus meningkat terus karena kalau tidak maka ketenangan hati kita akan kurang.  Ahli dzikir itu mereka akan sabar dengan apa yang terjadi karena mereka yakin apa yang menimpa pada dirinya adalah dengan izin Allah dan sudah di ukur oleh Allah serta pasti ada kebaikan di dalamnya.

Ayoo sahabat kita tingkatkan dzikirnya mulai dari dzikir lisan dan mulai sambil mentafakuri setiap perbuatan Allah dan dzikirlah dengan hati yang penuh keyakinan kepada Allah Ta’ala.

Semua ini tidak akan terjadi kecuali dengan pertolongan Allah makan teruslah berdoa

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik”

[Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu]

(HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih).

Memaknai Kehidupan Rumah Tangga bersama Keluarga Nabi Syu’aib

Memaknai Kehidupan Rumah Tangga bersama Keluarga Nabi Syu’aib

Keluarga merupakan kelompok terkecil dalam tatanan umat. Oleh karenanya baik buruk umat sangat bergantung kepada baik buruknya keluarga. Seandainya instrumen terpenting umat ini tidak dibina dengan baik dan benar, maka mustahil mengharapkan terwujudnya kehormatan dan kemuliaan Islam.

Mengingat begitu pentingnya peranan keluarga, maka Islam memberikan perhatian yang sangat besar pada pembinaan keluarga dengan referensi yg tetap merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunah Rasul.

Dalam Al-Qur’an terdapat banyak potret keluarga, meskipun terjadi pada masa dan lingkungan yang berbeda dengan saat ini, akan tetapi tetap mengandung banyak hikmah dan pelajaran berharga yang senantiasa kekal sepanjang zaman. Salah satu pelajaran berharga tentang kehidupan berumah tangga dapat kita ambil dari keluarga Nabi Syu’aib bersama kedua puterinya dan Nabi Musa.

Lari dari Mesir untuk menghindari pengejaran tentara Fir’aun, Nabi Musa as. tiba di sebuah negeri yang bernama Madyan. Di sana ia melihat kerumunan manusia yang sedang berdesak-desakan untuk mengambil air dari sebuah sumur. Tak jauh dari kerumunan itu tampak dua orang gadis sedang berdiri menunggu hingga kerumunan itu bubar. Musa mendekati kedua gadis tersebut dan bertanya, “Kenapa dengan kalian?” Keduanya menjawab, “Kami tidak bisa mengambil air sampai mereka semua selesai, sementara ayah kami sudah sangat tua”. Tanpa pikir panjang lagi, Nabi Musa as. segera membantu kedua gadis itu untuk mengambil air.

Tidak berapa lama setelah itu, salah seorang dari kedua gadis itu disuruh oleh ayahnya untuk  mengundang Nabi Musa as. (Gadis itu menyampaikan undangan sambil malu-malu), hal ini dibalas oleh Nabi Musa as. dengan bijak dan berwibawa, Nabi Musa as. meminta gadis itu untuk berjalan di belakangnya sehingga terjaga pandangan dan bisikan hati dari hal-hal yang dihembuskan oleh setan dan hawa nafsu. Muru`ah (harga diri) laki-laki muslimlah yang  mendorong Nabi Musa as. untuk menjaga hati dan juga ‘iffah (kesucian diri) gadis itu.

 

{فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ} [القصص : 25]

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.

Ternyata ayah sang gadis bermaksud menawarkan Nabi Musa untuk menikahi salah seorang puterinya. Tawaran itu pun dibalas oleh Nabi Musa dengan penuh mulia yaitu pengabdian selama lebih kurang delapan tahun sebagai mahar dari pernikahan tersebut.

 

Dari petikan kisah ini ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita ambil.

PERTAMA

Nabi Syu’aib as. menjadi teladan bahwa ayah memiliki peran yang sangat penting dan besar dalam pendidikan dan pembinaan anak gadisnya sehingga puterinya dapat tumbuh menjadi muslimah shalihah yang taat, berbakti dan mampu menjaga kehormatan diri dan keluarganya.

KEDUA

Nabi Syu’aib as. menjadi teladan bahwa ayah harus mengambil sikap berani, tegas dan bijak dalam mengestafetkan tanggung jawab dunia akhirat atas puterinya kepada laki-laki shaleh dan bertanggung jawab yang layak menjadi imam bagi buah hatinya. Bukanlah sebuah aib ketika orang tua menawarkan puterinya kepada seorang pemuda yang ia kagumi pribadi dan agamanya. Bahkan itu sudah menjadi hal yang lumrah di masa Rasulullah saw. dan salafusshaleh. Diriwayatkan bahwa Umar r.a. menawarkan puterinya, Hafshah kepada Abu Bakar, tapi Abu Bakar tidak memberikan jawaban. Kemudian Umar menawarkannya kepada Utsman, tetapi Utsman mohon maaf tidak bisa menerima tawaran tersebut. Umar sempat merasa kurang enak memperoleh reaksi yang demikian dari kedua sahabatnya tersebut. Ternyata di balik usaha Umar untuk mencarikan suami yang saleh bagi puterinya, Allah swt. telah menakdirkan seorang suami terbaik dan paling ideal untuk putrinya yaitu Rasulullah saw.

✒ Nabi Syu’aib as. telah mengambil sebuah keputusan yang  berani ketika ia menikahkan salah seorang puterinya dengan seorang pemuda asing (Nabi Musa as) yang tidak memiliki apa-apa selain agama. Faktor ini pulalah yang seharusnya menjadi pertimbangan utama bagi setiap orang tua muslim dalam mencarikan jodoh untuk buah hatinya. Rasulullah saw bersabda, “Apabila datang kepadamu pemuda yang kamu sukai agamanya maka nikahkanlah ia (dengan puterimu), karena kalau tidak akan timbullah fitnah”.   Hubungan suami istri adalah hubungan sakral yang akan terjalin untuk selama-lamanya. Seandainya orang tua tidak cermat dan bijak  memilihkan calon pasangan untuk anak-anaknya maka sulit  mengharapkan mereka akan memperoleh kehidupan yang bahagia, damai dan harmonis dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.

✒Faktor lain yang menjadi pertimbangan bagi Nabi Syu’aib as untuk menikahkan salah satu puterinya dengan Nabi Musa as. adalah bahwa Nabi Musa adalah seorang pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Hal ini tampak dari bantuan yang diberikannya pada kedua gadis puteri Nabi Syu’aib saat mengambil air. Bahkan Nabi Musa as. memberikan mahar  dalam bentuk pengabdian kerja kepada Nabi Syu’aib as. selama delapan tahun.

KETIGA

Sikap puteri Nabi Syu’aib as. yang menerima pilihan ayahnya menjadi teladan bagi para gadis, bukanlah kuno dan tidak menghargai hak asasi jika ayah memilihkan calon suami yang shaleh dan bertanggung jawab untuk menjadi imam bagi dirinya.

KEEMPAT

Ibadah ritual yang baik, tidak cukup bila tidak diikuti dengan aplikasi nyata dari ibadah tersebut dan hubungan yang baik dengan sesama. Dua puteri Nabi Syu’aib memberikan pesan bahwa ketaatan dan aktivitas ibadah bukan berarti tidak berinteraksi dengan sesama, mereka berdua tetap berhubungan dengan kaumnya … mengantri mengambil air dengan tetap memperhatikan adab serta akhlak Islami yang mulia.

KELIMA

Kaum Nabi Syu’aib as. dikaruniai harta yang berlimpah namun mereka musyrik serta suka melakukan kecurangan dalam timbangan dan takaran. Nabi Syu’aib ‘alaihissalam mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah, melarang berbuat syirik, memerintahkan agar berbuat adil dan jujur dalam bermuamalah, mengingatkan mereka agar jangan merugikan orang lain, serta menyampaikan ancaman Allah  dengan azab yang mengepung mereka di dunia juga di akhirat nanti. Kita bisa mengambil pelajaran, di lingkungan yang bagaimanapun … sebagai hamba yang beriman kepada Allah, seyogyanya kita tetap memiliki jati diri yang utuh, istiqamah dalam ketaatan dan terus berjuang untuk menegakan kebenaran, tidak begitu saja terpengaruh oleh lingkungan !!!

Demikianlah sekelumit potret  keluarga Nabi Syu’aib sebagai keluarga teladan dalam Al-Qur’an.  Bersama kita jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dan sumber inspirasi utama, karena tidak ada manhaj (konsep) hidup yang lebih sempurna selain yang telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Sunnah.

 

sumber : Kajian Rumahku surgaku-radio mqfm @umiike

SETIAP WAKTU ADALAH AMAL SHALEH

Agama Islam adalah agama yang paling banyak melihat waktu, karena setiap waktu yang ada pasti sudah diatur dalam segala hal. Oleh karena itu seharusnya umat Islam adalah umat yang paling bisa mendapatkan kualitas waktu yang terbaik. Karena segala aturan sudah diberi arahan yang terbaik oleh Alloh Ta’ala. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Setiap waktu pasti ada hak Alloh Ta’ala di dalamnya

Dan seseorang yang serius dalam memakai waktu nya, pastilah dalam waktu tersebut terdapat ilmu-ilmu dan hikmah yang bisa didapatkan dan juga dipelajari. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ.مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (lngatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf 50: Ayat 16-18)

Apa yang mencirikan seseorang memiliki tingkatan iman yang tinggi ?

Yang menjadi ciri seseorang memiliki tingkatan keyakinan yang tinggi adalah dari keyakinan hauf dan rodja kita kepada Alloh Ta’ala. Dan jika seseorang sudah yakin kepada hal tersebut, maka dia akan susah jatuh akan keimanannya.

Orang yang sudah yakin kepada Alloh Ta’ala, pastilah dia sudah meyakini dengan sebaik-baiknya bahwa Allah Ta’ala lah yang memiliki segala kekuasaan dan juga segala keputusan.Dan yakinlah bahwa keyakinan ini bisa diraih hanya dengan adanya ilmu.

Keberuntungan itu berbanding lurus dengan keyakinan. Jika kita sudah yakin kepada Alloh Ta’ala, pastilah keberuntungan dan juga kebaikan bisa kita dapatkan. Dan juga jika kita yakin akan keyakinan ini, pasti kita bisa selalu berbuat ikhlas. Jika dia diberi ujian maka dia akan sabar, dan jika diberi nikmat dia akan syukur.

Dalam menuntun ilmu kita bisa mendapatkan pengetahuan, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa meyakini Alloh Ta’ala dengan ilmu yang kita dapatkan. Dan keyakinan itu menjadi ada ketika kita bisa mengamalkan keyakinan itu dengan akhlak yang mulia.

Setiap waktu kita itu harus bisa menjadi amal sholeh

Segala aktifitas yang kita lakukan adalah amal sholeh. Karena jika kita mati, hal yang kita bawa hanyalah amal sholeh. Oleh karena itu perbanyaklah beramal sholeh, karena dengan beramal sholeh kita bisa mendapatkan ridho dan bantuan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

Jika kita ingin melakukan amal sholeh maka yang perlu kita perhatikan adalah :

  1. Niatnya Ikhlas
  2. Amalnya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh ajaran Islam

Inti dari sabar adalah dari bagaimana kita bisa  menahan diri dari segala nafsu. Karena biasanya yang disukai oleh Alloh Ta’ala itulah yang tidak disukai oleh nafsu.

Dan yang perlu kita perhatikan pada waktu kita adalah :

  1. Setiap waktu harus bisa menjadi penguat iman.
  2. Setiap waktu harus bisa menjadi penambah ilmu.
  3. Setiap waktu bisa menjadi sebuah dakwah walaupun itu kecil.
  4. Setiap waktu bisa menjadi jalan kita untuk bisa menahan segala nafsu yang buruk bagi kita.
7 HAL PENTING YANG DITANYAKAN SAAT TA’ARUF

7 HAL PENTING YANG DITANYAKAN SAAT TA’ARUF

Sahabat MQ, membahas soal pranikah merupakan sesuatu hal yang sangat penting, meninjau pernikahan merupakan suatu momen yang sangat syakral, dan momen dimana dipersatukannya dua insan yang berbeda untuk menjalin kasih dan sayang, serta hidup bersama selamanya. Namun sahabat MQ, untuk menuju pernikahan yang baik dan benar sesuai dengan syariat islam, maka sahabat haruslah melalui tahap-tahap atau langkah-langkah yang syar’i pula, karena langkah yang diambil saat kita akan menentukan untuk menikah, akan menentukan bagaimana arah pernikahan kita kedepannya, maka dari itu untuk para single lillah atau para jomblo fi sabilillah hendaklkah jangan salah mengambil langkah ketika akan menentukan untuk menikah.

Sebelum kita memutuskan untuk menikah maka hendaklah kita juga mengetahui atau mengenali siapa yang akan menjadi pasangan kita, namun tentunya bukan dengan cara pacaran, bukan dengan saling whatsapp’an ataupun dengan istilah-istilah lainnya yang didalamnya ada langkah-langkah syetan yang menjerumus kepada zina. Namun didalam isalam sudah aturannya, yakni ketika kita ingin mengenali siapa yang akan menjadai pasangan hidup kita, yaitu dengan cara Ta’aruf.

Apa itu Ta’aruf ?

Secara garis besar Ta’aruf adalah interaksi untuk saling mengenal satu sama lain, namun ketika dikaitkan dengan bagian dari proses pernikahan, ta’aruf  merupakan suatu proses untuk saling menegnal antara dua anak manusia dengan tujuan agar saling mengenal satu sama lain dan saling bertatap muka untuk sebatas saling mengerti antara satu dengan lainnya. Dalam ta’aruf juga kita bisa saling mengajukan pertanyaan dengan maksud untuk lebih menjelaskan tentang dirinya dari msing-masih pihak, dan tentang bagaimana kedepannya dalam mengemban komitmen bersama. Dan pastinya, pertemuan ini didampingi oleh wali masing-masing atau didampingi oleh orang lain. Tujuannya, agar pertemuan keduanya tidak menimbulkan fitnah atau menimbulkan hal lain yang tidak diinginkan.

Nah bagaimana agar proses taaruf bisa menjadi sarana kita agar bisa memahami calon pasangan kita, untuk itu paling tidak kita harus menanyakan 7 pertanyaan penting ini ?

  1. Bagaimana pemahaman seputar keluarga dan visi misi pernikahan ?

Kita bisa memastikan apa visi misi calon pasangan kita, bagaimana kelak rumah tangga yang akan dibangun, dsb. Dengan mengetahui tentang visi misi  kita bisa mengetahui apakah ada kesesuaian antara  visi misi   kita dengan calon pasangan kita atau tidak.

  1. Bagaimana ibadah yang dijalankannya ?

Karena tujuan pernikahan adalah untuk menjalankan ibadah, untuk itu penting kita untuk bisa mengetahui apakah  ibadanya baik atau tidak, karena dengan kekuatan ibadah akan membentuk iman yang kuat dan menajadi pondasi dalam membangun rumah tangga.

  1. Bagaimana pengetahuan tentang peran suami/istri atau hak dan kewajiban suami istri?

Ini penting untuk menjaga keselarasan dalam rumah tangga, karena kelak suami dan istri akan menjalankan peran tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Bagaimana calon pasangan mengatur emosi dan konflik ?

Hal ini pentnig untuk bisa melihat apakah calon pasangan kita bisa mengendalikan diri apabila terjadi perbedaan dalam pernikahan nanti atau tidak.

  1. Bagaimana cara mengatur diri dari keuangan?

Meskipun ini sering dianggap hal yang sangat sensitive, kita harus mengetahui bagaimana calon pasangan kita dalam mengatur keuangan, karena nikah bukan hanya  persiapan mental namun juga financial, dengan mengetahuinya kita bisa mengetahui apakah calon pasangan kita  sudah siap menikah atau belum.

  1. Bagaimana hubungan yang terjalin dengan keluarga ?

Mengapa ini penting karena menikah bukan hanya menyatukan kita dan pasangan, namun mneyatukan 2 keluarga,  kita juga bisa mengenal pasangan kita dengan keluarganya, dan  memudahkan proses menuju pernikahan.

  1. Bagaimana pemahaman tentang diri, cita-cita dan juga masa depan?

Hal ini juga penting, karena kita harus mengetahui seseorang yang faham akan dirinya dan masa depannya, jika dirinya dan masa depannya juga belum faham, bagaimana dia akan memahami kita, yang mungkin kita berasal dari 2 latar belakang yang berbeda, mempunyai kebiasaan, dan watak yang berbeda.

Nah itulah sahabat MQ, beberapa pertanyaan yang setidaknya wajib disampaikan ketika sahabat akan melaksanakan ta’aruf, dan yang paling penting adalah luruskan niat agar kita senantiasa dibimbing oleh Allah swt, dan langkah-langkah niat baik kita untuk menikah berbuah ibadah serta diberikan pasangan dan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

MENJAGA HATI KETIKA DIUJI

MENJAGA HATI KETIKA DIUJI

Sahabat MQ,  dalam hidup ini ada pilihan dan rencana, yang itu kadang tidak terwujud sesuai harapan dan rencana kita, mengapa? karena Allah juga punya rencana terhadap hambanya, dan yang pasti akan terjadi adalah rencananya Allah.  Namun segala sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita itulah yang sering  kita anggap sebagai masalah dan kita sikapi dengan ketidaksabaran,  sering mengeluh, merasa kecewa, merasa diperlakukan tidak adil, merasa  diri sangat menderita.

kecenderungan kita ketika mendapatakan ujian adalah sering  mengadu pada manusia

Setelah itu biasanya kecenderungan kita sering  mengadu pada manusia, curhat pada orang yang salah dengan niat yang salah karena hanya  ingin mencari pembenaran bukan mencari solusi. Kita tidak dapat mengendalikan anggota tubuh kita agar Allah ridha, terkadang kita sering kotor hati, soudzhon, kecewa, dan  menyalahkan Allah, padahal ujian terberat kita  bukan pada saat  menghadapi ketidak sesesuaian antara harapan dan kenyataan tapi apakah kita  mampu mengendalikan hati agar tidak terjatuh dalam dosa.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْئٌ فَلاَ تَقُل:ْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“…Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah mengatakan, ‘Se-andainya aku melakukannya, niscaya akan demikian dan demikian.’ Tetapi ucapkanlah, ‘Sudah menjadi ketentuan Allah, dan apa yang dikehendakinya pasti terjadi… .’” [3]

Sesungguhnya apa yang terjadi kepada setiap orang, itu merupakan kehendak Allah subhanahu wa ta’aala, yang telah Allah tetapkan kepada tiap-tiap manusia. Sebesar apapun kita berkehendak, tidak akan mengubah ketetapan Allah swt, kewajban manusia hanyalah berikhtiar, dan hasilnya tetaplah Allah yang menentukan. Begitupun dengan ujian yang menimpa kita, yang jelas-jelas itu bagian dari sekenario Allah buat hambanya.

Allah menjadikan dunia penuh dengan ujian

Tidak mudah memang ketika kita dihadapkan dengan ujian, namun yakinlah setiap ujian pasti ada jalan keluarnya dan pasti ada hikmah dan pelajaran didalamnya. Allah menjadikan dunia penuh dengan ujian karena dengan ujian itu Allah ingin pilah dan pilih siapa orang-orang yang berhak masuk ke dalam surgaNya dan siapa yang ia akan dimasukkan ke dalam api neraka. Allah Ta’ala berfirman:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَأَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّـهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴿٣﴾

Artinya :

Apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata: “Kami beriman”, sementara ia tidak diuji?. Sungguh Allah telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka dengan ujian itu Allah mengetahui siapa yang jujur imannya dan siapa yang dusta keimanannya. (QS. Al-Ankabut :2-3)

Cara kita agar  bisa menjaga hati ketika sedang menghadapi masalah

lalu apa yang seharusnya kita lakukan ?  Hal yang harsus kita lakukan yaitu milikilah  rasa takut kepada Allah dan hanya  berharap pertolongan Allah, serta tidak terpancing menyikapinya dengan kotor hati, karena itulah bukti kelulusan kita mengadapi masalah itu,  sehingga kita bisa  mendapat predikat takwa.

selanjutnya, bagaimana cara kita agar  bisa menjaga hati ketika sedang menghadapi masalah ?

  1. Kita harus lebih bayak menyingat Allah, kebaikan Allah, kemaha agungan Allah dari pada masalahnya, lebih banyak berdzikir, tidak menyalahkan orang lain.
  2. Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, dengan mengingat kebaikan Allah, tidak focus pada masalah.
  3. Menanamkan rasa menang, dalam memerangi nafsu dan menang dalam menaklukan bisikan syetan.
  4. Menyibukkan diri kita dnegan berbagai ketaatan, menghibur diri dengan berbuat baik, menolong dan membantu orang lain
  5. Berorientasi pada Akhirat dan berjalan menuju Allah.
  6. Memunculkan adanya rasa takut atas dosa hati, dengan terus  mensucikan hati dan meminta pertolongan kepada Allah.

Sahabat MQ, semoga dengan keenam cara ini kita bisa menjaga hati kita ketika diuji, dan menjadi sebaik-baik nya hamba yang Allah cintai.

MEMAKNAI TUJUAN HIDUP

MEMAKNAI TUJUAN HIDUP

Pada dasarnya, orang yang beriman sudah memliki tujuan hidup yang sudah jelas ditentukan dalam Al-quranul kariim (pedomannya umat islam), yakni untuk beribadah kepada Allah swt. Namun selain beribadah kepada Allah swt, untuk memenuhi kebutuhan hidup di bumi kita juga berusaha berikhtiar mengoptimalkan potensi yang Allah berikan kepada tiap-tiap orang, yang pada akhirnya semuanya tetap saja  kita niatkan untuk beribadah.

Setiap orang memiliki tujuan hidupnya masing-masing

Memiliki tujuan hidup adalah hal mendasar untuk manusia supaya bisa mengarahkan episode kehidupnya dengan maksimal. Setiap orang harus memiliki tujuan hidup, sekecil apa pun itu. walaupun tak jarang banyak orang yang kebingungan mencari tujuan hidup dan pada akhirnya menjalani hidup dengan ala kadarnya. Walhasil, mereka tidak  menemukan kebahagiaannya sendiri.

Memiliki tujuan hidup itu penting

Memiliki tujuan hidup memang penting agar segala bentuk ikhtiar kehidupan kita lebih terarah ke arah yang mau kita tuju, namun sebatas memiliki tujuan hidup tanpa memaknainya, jelas akan susah untuk mewujudkannya, yang ada kita hanya akan menjadi sosok orang yang ambisius, tidak bersyukur, diliputi perasaan kekhawatiran, gampang prustasi dan yang ditakutkan adalah menghalalkan segara cara agar tujuannya tercapai.

Lantas bagaimana agar bisa  memakanai tujuan hidup kita ?

Adapun beberapa cara atau tahapan untuk memaknai tujuan hidup, agar senantiasa proses atau ikhtiar kita dalam mewujudkan tujuan hidup lebih terarah dan bernilai ibadah, diantaranya yaitu :

  1. Syukuri terhadap capaian kita sekarang.

Bersyukur adalah salah satu kunci ketenangan dalam mewujudkan tujuan hidup atau impian kita, karena jika kita lupa untuk mensyukurinya yang ada kita akan selalu berada dalam tekanan.

  1. Berlatih atau belajar skill yang kita akan dalami.

Skill atau kemampuan yang menunjang dapat mempercepat akan capaian impian kita, namun skill dan kemampuan itu tidak secara tiba-tiba berada pada diri kita, namun perlu dilatih dan belajar tentang keilmuannya.

  1. Jangan terlalu khawatir akan proses yang belum maksimal.

Dalam prosesnya, terkadang tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan, namun ketidak sesuain itu bagian dari proses, dan tidak untuk kita khawatirkan, melainkan jadikan itu  sebagai motipasi dalam capaian kita.

  1. Tentukan alur keahlian atau passion bidang kita.

Supaya tujuan hidup kita lebih terarah dan fokus, maka tentukan alur keahlian atau passion bidang kita, sehingga dalam proses pencapaiannya kita benar-benar memaksimalkan keahlian bidang kita.

  1. Perbanyak relasi dan silaturahmi

Sebagaimana dalam sabda rasulullah saw, bahwa salah satu pembuka rizki itu adalah bersilaturahmi, dan sudah barang tentu ketika kita sering bersilatu rahmi maka akan terjalin beberapa relasi dengan orang-orang yang kita kunjungi, dan ketika sudah terjalin relasi maka ada saja jalan yang Allah pertemukan dengan tujuan hidup kita.

  1. Kerjakan secara step by step, terstruktur, dan terarah

Dalam  ikhtiarnya maka kita kerjakan secara step by step, dari langkah satu ke langkang yang lainnya secara sistemastis dan struktur serta terarah, agar apa yang menjadi tujuan hidup kita lebih maksiamal dalam capaiannya, dan kita tidak banyak membuang energi dan waktu kepada hal yang sia-sia.

  1. Meminta do’a kepada ke dua orang tua, dan orang-orang shaleh

Do’a merupakan senjata orang muslim, terlebih orang yang mendo’akan tersebut adalah orang tua kita serta orang-orang shaleh, karena salah satu do’a yang cepat Allah kabulkan adalah do’a orangtua kepada anaknya, serta do’a orang-orang yang shaleh yang jarang melakukan dosa kecil.

  1. Perbnayak sedekah, dan menolong orang lain.

Sudah menjadi sunatullah, ketika kita mempermudah urusan orang lain maka Allah akan mudahkan urusan kita,begitupun ketika kita banyak menolong orang lain maka akan Allah kirimkan orang-orang untuk menolong kita.

  1. Hindari hal-hal yang riba dan subhat

Menjauhi hal-hal yang riba dan subhat adalah kunci keberkahan hidup, dan yakinlah ketika Allah memberkahi hidup kita, maka akan Allah muliakan kehidupan kita.

  1. Terus belajar dari siapapun

Setiap kejadian, setiap pertemuan dengan siapapun sealalu ada pembelajaran yang dapat kita petik ilmunya, oleh karena itu pintar-pintarlah kita mengambil hikmah dan pembelajaran dari setiap kejadian.

Dengan ini mudah-mudahan selain kita mengoptimalkan ikhtiar kita dalam pencapaian tujuan hidup kita, tapi kita juga bisa lebih memaknai segala bentuk ikhtiarnya serta mendapat keberkahan dari Allah swt.

 

BELAJAR DARI KECEWA

BELAJAR DARI KECEWA

Setiap orang pasti pernah merasakan kecewa, rasa kecewa muncul ketika harapan atau ekspektasi tidak sesuai dengan harapan kita, atau lebih tegasnya rasa kecewa muncul ketika kita bersandar atau berharap kepada selain Allah swt.

Bila kita terlalu berharap kepada mahluk, maka kita akan menemukan kekecewaan yang teramat mendalam, karena sesungguhnya mahluk itu adalah dzat yang penuh dengan kekurangan yang belum tentu bisa membantu memecahkan persoalan kita, beda halnya dengan Allah Rab sang pencipta alam, yang tidak ada sedikitpun kekurangan pada Nya.

Dalam perkataan sayyidina Ali bin Abi thalib Radiallahu anhu bahwasannya beliau sudah merasakan segala kepahitan atau kekecewaan, dan sungguh rasa kecewa yang paling mendalam adalah ketika berharap kepada selain Allah.

Sebagai seorang muslim yang menyatakan bahwa Allah sebagai Tuhan, dan dzat yang patut kita sembah dan pintakan pertolongan, maka sudah selayaknya segala sesuatunya kita mohonkan bantuan dan pengharapan kita pada Allah swt.

Allah swt berfirman :

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ…

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah : 23)

Jangan mengadu dan meminta sesuatu kebutuhan atau hajat selain kepada Allah Swt

Jangan mengadu dan meminta sesuatu kebutuhan atau hajat selain kepada Allah Swt, karena bagaimana ia akan mengabulkan permintaanmu, sedangkan ia juga tak berdaya tanpa seizin dan pertolongan Allah.  Orang yang menyandarkan  atau menggantungkan nasib kepada sesuatu  selain Allah berarti ia tertipu oleh sesuatu bayangan fatomorgana.

Mengutip dari perkataan Imam Syafi’i bahwasannya “ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan atasmu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya”.

Semua yang terjadi kepada manusia adalah kehendak Allah swt

Saat kita kecewa, bersedih, menangis, terluka itu semua bagian dari qodo dan qodarnya Allah, yang Allah tetapkan kepada manusia dan semua mahluk-Nya.

Memiliki rasa kecewa adalah normal bagi setiap mannusia, karena itu merupakan bagian dari lika liku kehidupan, namun sebagai seorang muslim apa sikap yang harus dilakukan ketika merasa dikecewakan?

Sikap seorang muslim ketika merasa dikeceweakan

Sebagai seorang muslim tentunya harus lebih bijaksana ketika kita merasa kecewa pada hal apapun, adapun tips atau sikap yang harus dilakukan ketika merasa kecewa :

  1. Jangan berlarut-larut dalam kekecewaan

Berlarut-larut dalam kekecewaan bukanlah solusi, yang ada akan menambah keterpurukan kepada diri kita.

  1. Move on

Kecewa adalah hal yang wajar dan setaip manusia pasti mengalaminya, namun menjadi gak wajar ketika kita berlarut-larut atas kekecewaan tersebut. Maka dari itu sebaik-baik ketika merasa dikecewakan yaitu lupakan dan  Move on, serta focus kemabali kepada  perjalanan kehidupan kita yang selanjutnya.

  1. Meyakini bahwa ini bagian dari qodo dan qodarnya Allah swt

Tidak ada suatu perbuatan yang bukan dari qodo dan qodarnya Allah, jauh sebelum manusia diciptakan Allah ke alam bumi, maka sesungguhnya Allah telah mencatat di lauhil mahfudz tentang seluruh takdir manusia. Oleh karena itu menerima dan bersabar atas ketentuan Allah yang diberikan kepada kita, termasuk rasa kecewa adalah bagian dari ibadah kita kepada Allah, bahkan menjadi salah satu rukun iman kita, yaitu iman kepada qodo dan qodar.

  1. Ambil hikmahnya

Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu selalu terdapat hikmah dan pelajaran, maka dari itu yakinlah bahwa tidak ada sesuatu yang menimpa pada diri kita, melainkan didalamnya terdapat hikmah yang dapat kita petik.

  1. Bersyukur

Syukur merupakan kunci dari kelapangan hati seseorang, meskipun kita kecewa tetap jangan pernah berhenti bersyukur, karena bisa saja ada orang disekitar kita yang ujijannya lebih dalam lagi dari pada kita.

Sahabat mq, belajar dari kecewa itu tidak mudah, perlu keikhlasan dan kelapangan hati kepada Allah swt. Memiliki rasa kecewa wajar saja, karena setiap orangpun pasti pernah merasakannya, namun selaku seorang muslim yang baik, maka alangkah baiknya kita senantiasa bertawakal kepada Allah, dan selalu berhusnudzon bahwa hal ini akan ada hikmah yang terbaik buat kita.

 

 

4 GOLONGAN MANUSIA YANG DIRINDUKAN SURGA

4 GOLONGAN MANUSIA YANG DIRINDUKAN SURGA

Surga adalah tempat dimana semua keindahan, kenikmatan, dan kenyamanan ada, tempat dimana suatu kebahagian yang kekal (abadi) yang hanya dihuni dan Allah sediakan bagi hamba-hambanya yang taat kepada Nya selama hidupnya di dunia.

setiap orang mendambakan akan surga, karena disanalah segala kenikmatan Allah berikan kepada seluruh penghuni surga, suatu kenikmatan yang tidak bisa tergambarkan oleh akal fikiran manusia. Namun surga hanya Allah sediakan bagi hamaba-hambanya yang beriman dan bertaqwa kepada Allah ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits Qudsi :

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ذُخْرًا َلْهَ مَا أُطْلِعْتُمْ عَلَيْهِ ، ثُمَّ قَرَأَ ( فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ )

 

“Aku telah siapkan untuk hamba Ku yang shalih : Kenikmatan surga yang tidak pernah tidak dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbetik di dalam hati manusia. Sebagai simpanan baginya, yang kalian belum pernah melihatnya.

Banyak orang yang berharap dan merindukan akan surga, namun disisi lain dalam suatu riwayat bahwasannya surgapun merindukan terhadap penghuninya. Yakni Surga merindukan terhadap 4 golongan yang akan menjadi penghuninya kelak, golongan yang bagaimanakah yang dirindukan oleh surga? Berikut penjelasan 4 golongan yang dirindukan surga.

Sebagaimana hadist Rasulullah SAW, ada 4 golongan manusia yang dirindukan syurga;

الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَا لِى الْقُرْانِ, وَحَافِظِ اللِّسَانِ, وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ, وَصَا ئِمٍ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ .رواه أبوداود والترمذي عن ابن عباس

Artinya :

Surga itu merindukan kepada 4 golongan: orang yang membaca Al Quran, orang yang menjaga lidah, orang yang memberi makan orang yang sedang kelaparan, dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan.

Dari hadist diatas dijelaskan bahwa 4 golongan yang dirindukan surga adalah sebagai berikut :

  1. Orang yang senantiasa membaca alqur’an.

Alqur’an adalah kalam Allah yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada umatnya. Alqur’an merupakan pedoman hidup bagi umat muslim, dan bernilai pahala bagi setiap orang yang membacanya. Dari setiap huruf yang dibacakannya,  Allah berikan 10 kebaikan. Bisa kita bayangkan jika kita membacanya satu hari hari satu juz, berapa kebaikan yang kita peroleh. Terlebih ketika kita memahaminya, menghafalkannya dan mengamalkan isinya, maka berapa pahala yang Allah limpahkan kepada kita. Namun tetap kuncinya adalah ikhlas karena Allah swt.

Kemudian Alqur’an juga akan menjadi syafaat bagi para pembacanya, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Bacalah Al-Qur’an karena Al-Quran akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi yang membacanya (dengan tadabbur dan mengamalkannya)”.

  1. Orang yang selalu menjaga lisannya

Dua yang dapat mencelakakan manusia, yaitu yang berada diantara dua bibir (yaitu lidah), dan yang berada diantara dua kaki (yaitu kemaluan). Manusia sering terpeleset oleh lidah atau lisannya yang mengakibatkan sakit hati saudaranya. Bahkan dalam suatu pepatah mengatakan bahwasannya lidah itu lebih tajam dari pada pedang. Hal ini saking berbahayanya lidah ketika kita tidak dapat menjaganya. Maka disini pantas ketika orang yang dapat menjaga lisannya dalam artian tidak pernah melukai hati saudaranya dengan lisannya, maka orang yang demikian telah dirindukan oleh surga.

  1. Orang yang memberi makan orang yang kelaparan, seperti fakir miskin, yatim piatu

Sejatinya dalam harta kita terdapat hak-hak mereka. Insya Allah jika kita memberikan hak mereka maka kita akan mendapatkan pahala,. Namun jika kita membiarkan anak yatim terlantar, fakir miskin kelaparan, maka kita akan di cap sebagai pendusta agama, sebagaimana firman Allah yang terdapat di dalam QS Al Maun: 1-3

  1. Orang yang berpuasa di bulan ramadhan

Puasa di bulan ramadhan merupakan salah satu rukun islam, yakni salah satu yang menjadi tegaknya keislaman seseorang. Berpuasa bukan hanya menahan tidak makan dan minum saja melainkan menjaga panca indra kita serta syahwat kita untuk tidak melakukan hal-hal kejelekan. Orang yang berpuasa cenderung bisa lebih menahan diri baik itu pandangannya, syhwatnya, lisannya, bahakan perbuatan-perbuatannya, karena takut membatalkan puasanya.

Dan orang yang berpuasa di bulan ramadhan sebagaiman dalam firman-Nya, yaitu dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt.

 

Itulah ke empat golongan yang dirindukan oleh surga, oleh karena itu marilah kita senantiasa berlomba-lomba untuk meraih ridho Allah swt serta menjadi orang yang kelak di rindukan oleh surga. Karena sungguh kennikmatan yang kekal dan abadi serta kenikmatan yang amat yang tidak akan ditemukan di dunia adalah kenikmatan surga yang Allah berikan kepada hambanya yang beriman dan bertaqwa.