KORELASI ISTILAH SUNNAH DAN AKIDAH

KORELASI ISTILAH SUNNAH DAN AKIDAH

Assunnah merupakan nama lain dari Akidah yang dipakai oleh para ulama. Sama halnya dengan ushulud din, tauhid, dan fiqhul akbar. As sunnah sudah tertulis pada kitab-kitab ulama terdahulu. Tujuannya untuk mempelajari ilmu akidah dari sumber yang terpecaya.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.(Q.S Al Jumuah : 2).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membersihkan akidah umatnya dari kesesatan, musyrik dan sifat jahiliyah. Agar umatnya kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengesakanNya. Mengajarkan umatnya Al Kitab yang berisi syariat agama beserta hukum-hukum dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Walaupun yang diikuti Al Quran tetapi harus diamalkan sunnahnya juga. Artinya mengamalkan akidah yang benar dengan mengikuti Al Quran dan Sunnah. Al Quran dan Sunnah merupakan kebenaran yang diyakini oleh setiap umat muslim. Allah menyatakannya dalam Q.S. Al Baqarah : 147.

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”.(Q.S. Al-Baqarah : 147).

Oleh karena itu, As-sunnah dimutlakkan bagi sebutan apa-apa yang sesuai dengan qitab dan sunnah. Merupakan perkara-perkara dalam keyakinan, itulah As-sunnah. Meninjau As-sunnah dari aspek akidah bukan sekedar amalan sunnah yang terlihat. Tetapi As-sunnah itu lebih jauh lagi diyakini sebagai kebenaran karena bersumber dari Al Quran dan As sunnah.

Jika ulama salaf membicarakan tentang sunnah maka mencakup dua hal. Yakni sunnah dalam peribadatan maupun sunnah dalam keyakinan. Meskipun As-Sunnah itu sendiri yaitu wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam . As-Sunnah sebenarnya salah satu sumber dari akidah.

Akidah As-Sunnah adalah akidah yang benar, mengikuti para sahabat dan para tabi’in. Ulama-ulama yang menulis As-Sunnah sebagai akidah diantaranya imam Ibnu Syaibah (wafat tahun 235 hijriyah), imam Ahmad Bin Hambal yakni salah satu imam ahli sunnah yang terkanal (wafat tahun 241 hijriyah), imam Asram Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Al Baghdadi (wafat tahun 273 hijriyah), Imam Abu Ali (wafat tahun 273 hijriyah), Imam Abu Daud Sulaimam bin Al As Sad As Sijistani (wafat tahun 275 hijriyah).

Jadi, dari kitab-kitab yang ditulis imam terdahulu tersebut membicarakn sunnah sebagai akidah. Sunnah yang memiliki arti keyakinan-keyakinan bukan amal-amal sunnah. Karena makna sunnah bukan hanya dilihat dari aspek ilmu fiqih melainkan adapula dari aspek akidah.

 

WORKING MOM LIFE MANAGEMENT

WORKING MOM LIFE MANAGEMENT

Sahabat MQ, ditakdirkan sebagai seorang ibu tentunya tidaklah mudah. Kita pasti ingin memberikan peran terbaik bagi anak dan suami. Terlebih jika kita tidak hanya bekerja di rumah, yaitu menjadi wanita karir.

Adakalaya peran wanita dibutuhkan di bagian-bagian tertentu. Seperti seorang dokter, guru, polisi atau dibutuhkan di perusahaan-perusahaan. Dengan melakukan pekerjaan tersebut seorang wanita dapat memberikan konstribusi untuk melakukan pekerjaan lain selain di rumah. Jika kita menjalaninya karena Allah subahanahu wa ta’la maka pahala baginya.

Tetapi ingat, dalam Islam suamilah yang diwajibkan untuk menafkahi keluarga. Bahkan jika penghasilan istri lebuh besar tidak akan menggugurkan kewajiban seorang suami. Karena setiap suami akan dimintai pertanggungjawaban dalam menafkahi keluarganya kelak disisi Allah subahanahu wa ta’la. Kadrat istri hanya membantu suami.

Tidak ada larangan bagi seorang wanita untuk bekerja meskipun berperan sebagai ibu. Terlebih memiliki peran-peran yang diperlukan di masyarakat. Hal ini bukan hanya untuk berkarir tetapi memberikan sumbangsih yang baik sebagai amal shaleh. Jangan sampai alih-alih sudah mendapatkan pekerjaan dan memberikan konstribusi besar bagi masyarakat, lalu menyepelekan tugas utamanya di rumah. Selama seorang wanita sudah melakukan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu. Maka diperbolehkan melakukan pekerjaan diluar rumah. Niatkan bekerja hanya karena ibadah kepada Allah subahanahu wa ta’la. Sebagaimana firmanNya yang menegaskan bahwa hidup hanyalah untuk beribadah.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” (Q.S. Adz Dzariyat :56).

Aktivitas apapun yang kita lakukan baik menjadi seorang perempuan, istri, ibu atau yang lainnya harus diniatkan karena Allah subahanahu wa ta’la. Ketika memutuskan sebagai  working mom, pastikan sudah mendapatkan izin suami. Dengan izin suami Insyaa Allah akan mendapatkan ridha dari Allah subahanahu wa ta’la. Setelah mendapatkan ridha dari suami tetaplah layani suami dengan baik. Walaupun kita sibuk dengan pekerjaan diluar, memberikan pelayanan kepada suami adalah tugas utama sebagai seorang istri.

Bekerja diluar sebenarnya cukup menyita waktu dengan keluarga. Kita harus pintar mengatur waktu yang sangat terbatas dengan keluarga. Mulai dari memanfaatkan waktu untuk bercerita mengenai pekerjaan kita diluar rumah kepada suami. Lalu, mendengarkan juga cerita suami dan anak ketika sedang tidak bersama kita. Tanyakan aktivitas yang telah dialami anak selama tidak berbarengan. Sehingga kita tahu kondisi dan masalah anak setiap harinya.

Dengan mengetahui perkembangan anak, saat di tempat kerja kita mulai pikirkan pemecahan dari masalah yang dihadapi anak. Ketika di rumah kita sudah siap untuk mengajarkan anak nilai-nilai yang ingin kita ajarkan. Sehingga anak terbiasa bercerita kondisi setiap harinya. Mengetahui apa yang dirasakan anak lebih mudah untuk mengontrol anak. Anak pun akan  merasa diperhatikan oleh ibunya dan lebih dekat dengan kita.

MASIH PUNYAKAH RASA MALU

MASIH PUNYAKAH RASA MALU

Malu merupakan akhlak mulia yang terpuji. Melihat tingkat keshalehan seseorang dapat dilihat dari sifat terpujinya ini. Rasa malu semacam benteng dari melakukan perbuatan buruk.  Malu berdampingan erat dengan rasa takut, takut jika dia berbuat dosa. Karena dia yakin bahwa dosa itu akan dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dosa itu akan membahayakan dirinya dan membinasakan dirinya di dunia maupun akhirat. Hatinya akan dibuat tidak nyaman ketika berbuat dosa. Sehingga rasa malu merupakan gabungan antara rasa takut dan ingin menjaga kesucian diri.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu”. (HR. Ibnu Majah)

Seseorang yang hilang rasa malunya ia akan melakukan keburukan. Seakan dirinya tidak malu dalam melakukan kemaksiatan, seolah dia merasa bahwa itu bukanlah perbuatan dosa.  Terbiasanya melakukan dosa menjadikan hal tersebut menjadi sebuah karakter yang dimilikinya. Hilangnya rasa malu berdampak pada hal yang menimbulkan fitnah.

Para ulama berpendapat dalam Imam Nawawi bahwa “Malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain”.

Kuat atau lemahnya rasa malu tergantung kondisi hatinya. semakin hidup, sehat, bersih hatinya maka semakin sempurna rasa malunya. Sebaliknya semakin kotor hatinya semakin berkurang bahkan hilang rasa malunya. Rasa malu tergantuung pada pengenalannya terhadap Rabbnya, jika hatinya kotor otomatis dia sulit mengenal Rabbnya.

Menurut Ibnu Rajab malu terdapat kedalam 2 macam, yakni :

  1. Malu yang merupakan karakter/ tabiat bawaan diri

Malu ini merupakan karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

  1. Malu bagian dari Iman

Malu ini didapatkan dari mengenal Allah (ma’rifatullah) dengan mengenal keagunganNya, perhatianNya terhadap apa yang dirahasiakan di dalam hati. Mengenal Allah ta’ala kuncinya menghidupkan hati. Jika hatinya mati maka dia sulit mengenal Rabbnya. Yakin dengan Maha tahunya Allah subhanahu wa ta’ala bahkan yang tersembunyi di dalam dada. Sebagaimana ayat Allah dalam Q.S Al Mu’Min :19.

 

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”.

 

Malu jenis kedua ini bagian dari iman bahkan Ikhsan yang derajatnya paling tinggi dalam agama. Inilah indikasi hati untuk mengenal Allah subahanhu wa ta’ala. Ikhsan memiliki arti indah, sehingga dapat memperindah agama. Memperindah agama dengan patuh terhadap aturan Allah subahanhu wa ta’ala. Lalu mengindahkan hatinya dengan cara menyempurnakan keikhlasan dan cintanya kepada Allah.

Jadi, tidak semua malu itu lahiriyah, tetapi karena mengenal Allah dia memiliki sifat malu. Karena dia sadar bahwa Allah selalu melihatnya sehingga terdorong untuk lebih taat kepada Allah.

Pada hakikatnya sifat malu itu dimiliki oleh kekasih Allah subahnahu wa taala, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau merasakan kehadiran Allah, yakin bahwa Allah melihatnya dan takut hilang kesucian dirinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Ada enam perkara yang bisa menggugurkan amalam, sibuk mencari aib manusia, kerasnya hati, cinta dunia, sedikit malu, panjang angan-angan, dan kedzaliman yang tiada habisnya…”.

TAFSIR Q.S AN-NISA AYAT 100

TAFSIR Q.S AN-NISA AYAT 100

Jika mendengar kata hijrah kita akan teringat mengenai kisah sirah nabawi sekaligus trand saat ini. Masih banyak pula kaum muslim yang tidak mengetahui makna dari hijrah itu sendiri. Untuk itu pembahasan kali ini mengenai makna hijrah yang merujuk kepada Al- Quran tafsir surat An-Nisa : 100.

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. An-Nisa : 100)

Di dalam ayat ini terdapat asbabun nuzul (sebab turunnya ayat), di kupas dari tafsir munir hayyah, tafsir munir dan tafsir Ibnu Katsir. Kenapa ayat ini muncul?

Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la meriwayatkan dengan sanad jayyid bahwa Ibnu Abbas berkata, “Dhamrah bin Jundab keluar dari rumahnya untuk hijrah. Di berkata kepada anak-anaknya, ‘Bawalah aku keluar dari negeri orang-orang musyrik ini menuju Rasulullah shalallahu alaihi wasallam..’ Ketika di perjalanan dia meninggal dunia sebelum sampai kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam.. Lalu turunlah firman Allah,’Barangsiapa keluar dari rumahya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya,…”

Sedangkan, Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Yazid bin Abdillah bin Qisth bahwa Jundab bin Dhamrah ketika di Mekah jatuh sakit. Lalu dia berkata kepada anak-anaknya, “Bawa aku keluar dari Mekah. Sungguh kesulitan di dalamnya telah membunuhku.” Anak-anaknya bertanya, “Kemana kami membawamu?” Dia pun menunjuk ke arah Madinah dan ingin hijrah. Lalu mereka membawanya ke arah Madinah. Ketika sampai di aliran air Bani Ghaffar dia meninggal di dunia. Lalu Allah menurunkan firman-Nya, ‘…Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya…”

Itulah sebab turunnya ayat ini, dari sebuah kisah Dhamrah bin Jundab tentang hijrahnya beliau ke Madinah. Lalu terdapat kisah yang lain sebab turunnya ayat ini.

Dalam tafsir Ibnu katsir dijelaskan Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Sa’id bin Malik bin Sinan c, bahwa Nabi Muhammad shalallallahu alaihi wasallam bersabda :

Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya?

Ahli ibadah itu berkata: “Tidak”. Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jarak.”

Maka dia pun berangkat. Akhirnya, ketika tiba di tengah perjalanan datanglah kematian menjemputnya, (lalu dia pun mati). Berselisihlah malaikat rakhmat dan azab tentang dia. Malaikat rakhmat mengatakan : “Dia sudah datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya.” Sedangkan malaikat azab berkata: “Sesungguhnya dia belum pernah mengerjakan satu amalan kebaikan sama sekali.”

Datanglah seorang malaikat dalam wujud seorang manusia, lalu mereka jadikan dia sebagai hakim di antara mereka berdua. Malaikat itu berkata, “Ukurlah jarak antara (dia dengan) kedua negeri tersebut. Maka ke arah negeri mana yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya.”

Kedua malaikat tersebut mengukur jarak jenazah, ternyata orang tersebut lebih dekat kepada negeri yang diinginkannya. Maka malaikat rahmat pun segera membawanya.

Dari kisah tersebut menunjukkan bahwa betapa besarnya karunia Allah, Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Laki-laki yang membunuh 100 orang itu belum beramal shalih. Dia hanya memiliki tekas untuk memperbaiki diri, bertaubat dari semua kesalahan. Tekadnya pergi meninggalkan masa lalu yang kelam membuat dirinya diampuni Allah subhanahu wa ta’ala.

Dari kisah-kisah itu, Allah menjelaskan bahwa dengan berhijrah kita akan menemukan jalan yang luas serta rezeki yang terus mengalir. Tidak ada di bumi ini yang pernah berkeliling dunia melainkan hanyalah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Beliau sudah mengelilingi dunia bahkan langit menggunakan buraq.

Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengatakan kepada para sahabatnya untuk berhijrah. Maka para sahabatnya mulai berhijrah dari Habasyah, Tha’id, Madinah, Damaskus, Irak hingga akhirnya Islam tersebar luas. Itulah hikmah dari Hijrah.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para sahabat termasuk hijrah fisik. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersama para sahabatnya meninggalkan Mekkah karena banyak penyiksaan dan penganiayaan sehingga tidak kondusif untuk menjalankan syariat Islam. Hijrah bukan hanya hijrah fisik saja, akan tetapi ada pula hijrah batin. Dimana saat kondisi hati yang kotor beralih menjadi hati yang bersih. Sifat yang sering muncul dalam diri manusia yaitu sifat takabur, sifat syetan, dan sifat hewan. Ketiga sifat tersebut pantas untuk ditinggalkan agar hati menjadi lebih besar

PAKAIAN RASULULLAH

PAKAIAN RASULULLAH

Sahabat MQ , bersyukurlah bahwasannya kita adalah seorang  muslim yang sebagaimana segalanya sudah diatur sedemiakn rupa. Karena islam termasuk agama yang  paling sempurna tentunya. Mulai dari ujung kaki hingga rambut, Allah subhanahu wa ta’ala  telah mengaturnya dalam kitab-Nya yakni Al-Qur’an. Khususnya dalam hal berpakaian, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

 

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik. Hal itu semua merupakan ayat-ayat Allah, supaya mereka berdzikir mengingat-Ku.” (QS. al-A’raf : 26).

Sebagaimana ayat diatas Allah memberikan kemurahan hati kepada hamba-Nya berupa pakaian serta perhiasan. Pakaian merupakan kebutuhan primer manusia, sedangkan perhiasan hanya sebagai pelengkap. Fungsi dari pakaian tersebut bukan hanya untuk berhias melainkan untk menutup aurat hamba-Nya. Sedangkan pakaian takwa yaitu pakaian batin, dimana pakaian tersebut adalah pakaian yang terbaik bagi umat muslim dengan cara menjauhi larangan-larangan dan mengerjakan perintah-perintahNya.

Hendaknya dalam berpakaian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah memberikan contoh kepada umatnya agar berpakaian sesuai apa yang disyari’atkan. Selain harus  menutup aurat, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam  selalu memakai pakain yang sederhana dan tidak berlebihan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Barangsiapa meninggalkan suatu pakaian dengan niat tawadhu’ karena Allah, sementara ia sanggup mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, lantas ia diperintahkan untuk memilih perhiasan iman mana saja yang ingin ia pakai.” (HR. Ahmad, dan Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahaadist ash-Shahiihah : 718)

Kembali lagi kepada fungsi utama berpakain ialah menutup aurat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam  mencontohkan hamba-Nya agar menggunakan pakaian yang sederhana. Sebagai suri tauladan yang baik, berikut pakaian yang dikenakan beliau :

  1. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenakan sorban hitam ketika beliau diatas mimbar. Sebagaimana riwayat Muslim dalam kitab shahihnya:

Dari Amr bin Harits dia berkata,

رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم على المنبرِ وَعَلَيهِ عِمَامَة سَوْدَاءُ قَدْ أرخَى طَرفَيهَا بينَ كَتِفَيْهِ

Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di atas mimbar dan di atas kepala beliau ada sorban hitam yang kedua ujung sorban tersebut beliau julurkan di antara kedua pundak beliau “.

  1. Gamis adalah pakaian yang sunnahkan, sebagaimana ummu salamah radhiyallahu’anha, berkata :

كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقَمِيصُ

Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762 dan Abu Daud no. 4025. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

  1. Wana pakaian yang diutamakan beliau yakni wana putih, hitam dan hijau. Sebagaimana sabda beliau.

Pakailah pakaianmu yang berwarna putih karena (warna putih) adalah sebaik-baik pakaian kamu,” (HR. Imam Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i).

 

Anas bin Malik juga mengatakan, ” Warna yang paling disukai oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam   adalah hijau.”

 

Sedangkan, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kepada para sahabat agar mengenakan pakaian warna hijau.

” Pada hari raya kami disuruh memakai pakaian berwarna hijau karena warna hijau lebih utama. Adapun warna hijau adalah afdhal daripada warna lainnya, sesudah putih.”

Tidak menutup kemungkinan bahwa warna pakaian yang lain dianjurkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahualam bisawab.

GEMAR LITERASI SEJAK DINI

GEMAR LITERASI SEJAK DINI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti dari literasi yaitu kemampuan menulis dan membaca. Lebih dari makna tersebut, literasi mencakup makna yang lebih luas yakni seperangkat kemampuan keterampilan individu dalam membaca, menulis, menghitung bahkan memecahkan masalah untuk menyeratakan semua kemampuan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Menurut EDC (Education Development Center) mengatakan bahwa literasi merupakan kemampuan individu menggunakan potensi yang dimilikinya, dan tidak sebatas kemampuan baca tulis. Sedangkan UNESCO menjabarkan makna dari literasi yaitu seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Jadi luas dari pada itu, literasi mencakup berbagai bidang atau potensi diri yang dapat kita manfaatkan untuk kehidupan sehari-hari.

Fakta yang sangat ironi, UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia mendapatkan urutan kedua dari bawah mengenai literasi dunia. Minat baca Indonesia sangat rendah, dalam data UNESCO minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Dari 1.000 orang Indonesia, Cuma 1 orang yang rajin membaca.

Sahabat MQ, sebenarnya literasi terdapat beberapa jenis seperti, literasi media, literasi digital inklusif, literasi informasi, literasi saintifik, literasi hukum, literasi ketatanegaraan, literasi ekonomi makro dan literasi sastra. Nah, semua literasi tersebut bisa memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari kita. Apapun keilmuannya, kita akan mendapatkannya dengan membaca.

Penyebab masyarakat Indonesia krisis literasi :

  1. Belum ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Anak-anak cenderung mengikuti kebiasaan orang tuanya, maka dari itu peranan orang tua yang paling penting dalam membiasakan kebiasaan membaca.
  2. Harga buku yang relatif mahal di Indonesia, sehingga orang-orang lebih memprioritaskan hal lain dari pada membeli buku.
  3. Akses ke fasilitas pendidikan yang belum rata dan minimnya sarana kualitas pendidikan. Secara tidak langsung, hal tersebut menghambat perkembangan kualitas literasi di Indonesia.
  4. Pesatnya perkembangan teknologi, seperti gawai (gadget), handphone, dan televisi. Orang-orang sekarang lebih sering bermain games dan media sosial dari pada literasi.

Sekarang banyak orang tua yang memberikan gawai agar anaknya tidak rewel dan mau makan. Tetapi nyatanya itu adalah cara yang salah. Psikolog anak dan Remaja Hafidzul Hakim menjabarkan bahwa anak usia 0-2 tahun seharusnya belum terpapar oleh handphone. Karena hal tersebut dapat mengurangi tingkat fokus. Bahkan anak-anak akan cepat lelah dengan seringnya melihat gamabr yang terlalu cepat bergerak.

Dengan membaca, secara tidak langsung kosa kata anak akan bertambah sehingga dapat memperlancar kemampuan belajar anak, menambah pengetahuan, menambah motivasi, meningkatkan kreativitas dan dapat mempengaruhi karakter anak. Sedangkan anak-anak yang kesehariannya hanya bermain youtube ,games online dan media sosial mereka berpotensi besar menjadi anak yang manja, malas, egois dan individualis karena keseringan menggunakan gawai.

Menurut UNESCO, dampak rendahnya tingkat literasi dapat menyebabkan dampak sebagai berikut :

  1. Tingginya kecelakaan kerja dan sakit akibat pekerjaan
  2. Munculnya persoalan kesehatan masyarakat dengan literasi rendah juga umumnya memiliki kesadaran rendah akan kebersihan makanan dan gizi buruk dan memiliki perilaku seksual beresiko tinggi.
  3. Tingginya angka putus sekolah dan pengangguran yang berdampak pada rendahnya kepercayaan diri.
  4. Banyaknya kriminalitas, seperti penyalahgunaan obat dan alkohol, kemiskinan bahkan kesenjangan.

Cara yang dapat dilakukan agar gemar membaca khususnya bagi anak-anak yaitu harus adanya contoh yang baik dari orang tua lebih tepatnya orang yang lebih tua dalam keluarga tersebut. “children she children do” apa yang anak lihat akan dia contoh. Maka orang yang lebih tua harus menjadi teladan bagi anaknya.

Di Indonesia banyak sekali orang tua yang menginginkan anaknya pinter-pinter. Sehingga anak yang masih balita pun sudah diajarkan membaca dan berhitung. Ketika anaknya sudah pandai membaca, orang tua seolah lepas tanggung jawabnya. Orang tua hanya berpikir yang penting anaknya sudah dapat membaca dan berhitung dengan lancar sisanya diserahkan kepada sekolah.

Padahal kita harus membuat anak suka membaca buku. Bisa membaca dan suka membaca adalah suatu hal yang berbeda. Ketika anak bisa membaca, belum tentu dia suka membaca. Maka peranan orang tua jangan sampai berhenti hingga titik anak bisa baca tetapi harus berusaha agar anak suka baca.

Buat anak-anak penasaran dengan ilmu-ilmu yang ada di sekitar mereka. Banyaknya pertanyaan yang ada di benak mereka biarkan mereka mencari sendiri jawabannya dalam buku. Jangan sampai kita terus menyuapi untuk menjawab rasa penasaran mereka tanpa meyuruhnya mencari tahu sendiri. Hilangkan paradigma bahwa membaca adalah urusan sekolah. Kita kenalkan bahwa buku adalah tempat mendapatkan jawaban dari pertanyaan kita.

BAHAGIA MENEMPUH JALAN HIJRAH BERSAMA KELUARGA

BAHAGIA MENEMPUH JALAN HIJRAH BERSAMA KELUARGA

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Q.S. At-Taubah ayat 20-22 yang artinya

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (Q.S At-Taubah :20)

Tuhan menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat, keridhaan, dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya.” (Q.S At-Taubah :21)

Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, di sisi Allah terdapat pahala yang besar.”(Q.S At-Taubah:22

Janji Allah tidak hanya kepada individu, akan tetappi janji Allah terhadap semua hambaNya yang beriman. Mereka yang meyakini adanya Allah, menerima syariat Allah dan tunduk terhadap keputusan Allah subhanahuwa ta’ala. Setelah beriman kemudian berhijrah, hakikat hijrah yaitu berpindah dari kondisi yang lebih baik dan bermanfaat.

Lebih baik disini mencakup nilai keimanan, pemikiran, amal dan akhlaknya. Hijrah dapat dilakukan bersama dengan keluarga tercinta. Terutama hijrah niat, kita berkeluarga bukan hanya semata-mata menginginkan pasangan yang diinginkan. Luruskan niat berkeluarga hanya ingin mendapatkan ridha dari Allah semata. Dari Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”.

Allah sudah menjanjikan 5 hal bagi orang-orang yang berhijrah dengan niat hanya ingin mendapatkan ridha Allah subahanahu wa ta’ala dalam Q.S At-Taubah: 21-22, yaitu :

  1. Ditinggikan derajat
  2. Memperoleh kemenangan
  3. Rakhmat
  4. Keridhaan
  5. Surga yang abadi

Hijrah dengan segala sesuatunya karena Allah, mulai dari tekad, niat, fikriyah dan pemikiran semuanya atas nama Allah. Berjuang agar tidak beririsan dengan perbuatan yang Allah benci. Kita harus berpikir bahwa kemenangan, kesuksesan, kemuliaan, keselamatan, limpahan rakhmat dari Allah subhanahuwa ta’ala hanya akan didapatkan jika pemikiran kita hijrah sesuai Al Quran dan sunnah.

Sahabat MQ, hijrah yang paling penting yaitu hijrah akhlak. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya aku (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik”. (H.R Ahmad)

Setiap manusia yang menyatakan dirinya sebagai muslim maka dia harus memperlihatkan akhlak mulia sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Setiap anggota keluarga harus berhijrah dengan akhlak yang mulia. Allah subhanahu wa taala berjanji dalam surat An-Nahl ayat 29.

Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu”.

Akhlak yang baik akan memberikan kebaikan bagi keluarga kita. Maka dari itu, hijrah itu tidak dapat dilakukan sendirian harus dilakukan bersama-sama. Karena hijrah bukan semata-mata perjalanan aqidah tetapi perjalanan ukhuwah. Salah satu keberhasilan hijrah yaitu kuatnya ukhuwah islamiyah

Ikhtilat Digital

Ikhtilat Digital

Membicarakan pendidikan seksual masih menjadi hal yang tabu di negara kita.  Orang tua masih ragu atau bahkan bingung bagaimana cara menyampaikan pendidikan ini kepada buah hatinya. Padahal pendidikan seksual ini penting untuk dipraktekan di rumah, karena pada hakikatnya pendidikan seksual atau sering disebut dengan sex education ini berujung pada hubungan keluarga yang harmonis. Buruknya pendidikan seksual sejak dini di Indonesia, membuat anak banyak yang menjadi korban seksual.

Islam sebenarnya sudah mengatur dengan rinci pendidikan seksual ini bagi umat muslim khususnya orang tua agar dapat membentengi anak dari perbuatan asusila. Seperti belajar bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis, berperilaku sesuai dengan qardatNya, mengatur tidur anak bersama orang tua pada usia tertentu, waktu berkungjung ke  ruangan khusus orang tua, menjaga kebersihan alat kelamin, mengenal mahram, dan menjaga pandangan.

Orang tua harus sigap  jika sewaktu anaknya banyak melontarkan pertanyaan ketika tiba masa usia baligh. Jika orang tua sudah mengajarkan pendidikan seksual sejak dini, anak tidak akan terlalu bingung untuk menghadapi masa pubertasnya. Sekarang ini banyak kasus pelecehan sosial kepada anak-anak, awal mulanya dari ikhtilat atau berbaur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Haramnya ikhtilat tercantum dalam firman Allah Ta’ala :

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab :53)

Sebagimana tafsir dari Ibnu Katsir mengenai ayat diatas yaitu, “Sebagaimana aku larang kalian memasuki tempat kaum perempuan, demikian pula janganlah kalian melihatnya secara keseluruhan. Jika diantara kalian memiliki keperluan yang ingin diambil dari mereka, maka jangan lihat mereka dan jangan tanya keperluan mereka kecuali dari balik tabir.”

Tentu ada banyak cara agar terhindar dari  ikhtilat. Seperti halnya sekolah atau pesantren yang memisahkan laki-laki dan perempuan, undangan pernikahan yang dipisah, dan fasilitas umum lainnya yang memisahkan antara perempuan dengan laki-laki. Akan tetapi sahabat MQ, yang sulit untuk dihindari saat ini ialah ikhtilat digital. Dimana fisik kita jauh dari lawan bicara kita yang berbeda jenis kelamin tetapi dengan bantuan tekhnologi yang canggih kita dapat melakukan hubungan jarak jauh dengan mudah. Dengan begitu timbullah imajinasi dari ikhtilat digital tersebut.

Ikhtilat digital lebih berbahaya, karena prakteknya tidak mudah untuk diketahui. Sering orang tua senang jika anaknya hanya bermain di rumah dan jarang bergaul dengan lawan jenis bahkan hanya berada di kamarnya. Orang tua seharusnya berhati-hati jika mengalami hal tersebut, apa yang dilakukan anaknya di kamar? Lihat kondisi anak, apakah anaknya sedang memegang handphone atau alat elektronik lainnya.Hal tersebut harus menjadi kewaspadaan bagi orang tua.

Sering terjadi kasus anak-anak yang mengalami pelecehan sosial lewat gadget. Orang tua harus melakukan tindakan agar anaknya tidak terjerumus kepada hal yang negatif. Usaha yang dapat dilakukan orang tua yaitu dengan parental control. Orang tua harus lebih cerdas dalam memanfaatkan teknologi. Berikut ha-hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mengontrol anaknya agar terhindar dari buruknya ikhtilat digital.

  1. Berikan gadget kepada anak sesuai kebutuhan. Jika anak masih menginjak usia dini, gunakanlah gadget orang tua dan dampingi pada saat anak mengoperasikan.
  2. Batasi penggunaan gadget untuk anak.
  3. Gunakan akun orang tua agar lebih mudah untuk dikontrol.

Jika ketiga hal tersebut sulit untuk dilakukan. Beri penjelasan kepada anak secara logis mengenai dampak ikhtilat digital. Eratkan hubungan dengan anak, agar  anak tidak canggung untuk bercerita kepada orangtua mengenai kendala seksual.