Bijak dalam Memberi Nasihat

Kehidupan manusia selalu diselimuti oleh persoalan-persoalan hidup. Persoalan yang dimaksud seperti hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain (lingkup sosial) serta hubungan manusia dengan Tuhannya. Ketiga hubungan ini sangat erat kaitannya, tetapi dipisah menurut pengertiannya. Masalah hubungan manusia dengan diri sendiri dapat disebabkan oleh rasa takut, rasa percaya diri, serta tanggung jawab yang diembannya. Karena itu manusia selalu membutuhkan orang lain dalam meringankan masalah yang dihadapinya sebagai penasihat yang baik.

Dalam menasihati teman, adik, kakak, saudara sesama muslim atau non muslim, harus dilakukan dengan cara yang baik. Jadilah penasihat yang mampu menyentuh hati seseorang bukan menghakimi kesalahan dengan perkataan yang menyakiti. Sahabat MQ, berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin memberikan nasihat kepada seseorang:

Pahami Karakter Seseorang

Hal utama yang harus diperhatikan ketika ingin menasihati seseorang adalah pahami terlebih dulu karakter seseorang yang ingin kita hadapi, dengan memahami karakter seseorang kita akan mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk memberikan nasihat. Jika kita tidak bisa memahami karakter seseorang yang terjadi nantinya adalah komunikasi yang tidak searah kemudian akan menimbulkan kesalahpahaman.

Gunakan Kata yang Menyentuh Hati bukan Menghakimi

Jika kita hendak memberikan nasihat kepada seseorang, kita harus memberikan kata-kata yang mampu menyentuh hati seseorang, jangan menghakimi kesalahan orang tersebut seolah-olah kesalahannya tidak bisa dimaafkan oleh siapapun. Jadilah penasihat yang bijak, bertutur kata lembut, dan mengerti, sebab seseorang akan mudah menerima pesan jika kita mampu merangkulnya dengan hati. Emosional yang tinggi hanya akan memperkeruh suasana, hadapi segala perkara dengan ketenangan jiwa agar makna dari setiap kata mampu tersampaikan kepada seseorang yang kita nasihati.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Terjemah: “Hendaknya kalian berdua ucapkan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut kepada Allah” (QS. Thaha: 44).

Celaan dan hinaan tidak menjadi halal ketika memberi nasihat kepada orang yang jatuh pada kesalahan. Celaan dan kata-kata kotor bukanlah akhlak seorang Mukmin. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ليسَ المؤمنُ بالطَّعَّانِ ولا اللَّعَّانِ ولا الفاحِشِ ولا البذَيُّ

“Seorang Mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka bicara kotor dan suka bicara jorok” (HR. Tirmidzi no.1977, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.320).

Empat Mata

Hendaknya bicara empat mata saja jika ingin menasihati seseorang, karena dengan menasihati dihadapan khalayak ramai hanya bisa membuat seseorang malu karena kesalahannya. Biasakan bicara hanya kepada target saja, bukan dengan orang lain yang tidak masuk dalam persoalan, sebab itu hanya bisa menimbulkan persepsi dan argumen yang berbeda-beda hingga menimbulkan fitnah.

Cari Kejelasan dan Hindari Prasangka

Mencari  kejelasan atas perbuatan orang lain itu sangat penting, untuk memastikan apakah seseorang tersebut benar-benar melakukan kesalahan. Jangan hanya mendengar perkataan orang lain yang bisa saja itu adalah sifat berupa hasutan yang tidak baik. Hindari prasangka buruk kepada orang lain itu lebih baik daripada menghakimi seseorang yang belum tentu salah.  Nasihat yang diberikan kepada orang lain bukan didasari oleh prasangka buruk terdapat dalam firman Allah SWT:

اِجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa” (QS. Al-Hujuraat: 12).

Sahabat MQ, itulah beberapan poin penting yang harus diperhatikan jika ingin memberikan nasihat kepada orang lain, agar niat baik kita tersampaikan kepada hati seseorang yang ingin kita rubah menjadi lebih baik. Tutur kata yang lemah lembutlah yang akan mampu membawa seseorang dalam rasa percaya dan ketenangan.

ARTIKEL TERBARU

  • Menolong dengan Rasa Ikhlas

    Manusia adalah makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk melakukan interaksi dengan individu yang lain dalam rangka untuk memenuhi kebutuhannnya.…

    Read More
  • Ketika Nabi Musa Mengingatkan Tentang Nikmat Allah

    Nabi Musa mengingatkan kepada kaumnya tentang nikmat Allah terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 20-26: وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ…

    Read More
  • Makanan-Makanan Ini Tidak Boleh Dipanaskan

    Sudah menjadi hal yang biasa ketika makanan tidak habis akan dipanaskan kembali ketika ingin dikonsumsi kemudian. Makanan dipanaskan dengan tujuan agar tidak basi dan menghemat…

    Read More