6 REFERENSI FILM RELIGI PENUH HIKMAH YANG BISA SAHABAT MQ TONTON SAAT DIRUMAHAJA

Sahabat MQ, aktivitas apa saja yang dilakukan saat di rumah saja seperti  ini? Jangan sampai waktunya hanya digunakan untuk berdiam diri saja bukan? Nah, Majalah Akhir pekan kali ini akan memberikan rekomendasi film-film religi Indonesia terbaik. Kira-kira film religi apa aja nih yang cocok  untuk menemani Sahabat MQ saat di rumah aja? Yuk, simak artikel dan rekam siar di bawah ini, semoga Sahabat MQ dapat banyak menggali hikmah dari referensi berikut ini. Check this out!

1. Film Negeri 5 Menara

Film yang pertama ini merupakan film karya Ahmas Fuadi yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2009. Novel ini bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda menuntut ilmu di Pondok Madani (PM)  yang jauh dari rumah dan berhasil mewujudkan mimpi menggapai jendela dunia. Mereka sekolah, belajar dan berasrama dari kelas 1 sampai kelas 6. Kian hari mereka semakin akrab dan memiliki kegemaran yang sama yaitu duduk di bawah menara pondok madani. Dari kegemaran yang sama mereka menyebut diri mereka sebagai Sahibul Menara. Hikmah yang dapat dipetik dari film ini ialah sebuah kerja keras, semangat, motivasi untuk kita yang sedang megusahakna sesuatu. Kalimat “Man Jadda Wa Jadda” dalam film ini dapat menjadi motivasi yang ampuh , karena maknanya ialah yakin bahwa Allah akan mengabulkan sesuatu saat kita ikhlas.

2. Sang Pencerah

Sang Pencerah adalah film drama tahun 2010 yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo berdasarkan kisah nyata tentang pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan. Film ini dibintangi oleh Lukman Sardi sebagai Ahmad Dahlan, Muhammad Ihsan Tarore sebagai Ahmad Dahlan Muda, dan Zaskia Adya Mecca sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Film ini dapat menjadi alarm yang pernah terprovokasi atau ingin memprovokasi bahwa Islam dianggap sebagai agama yang rusuh.

3. Hafalan Shalat Delisa

Delisa gadis kecil yang periang, tinggal di Lhok Nga, sebuah desa kecil yang berada di tepi pantai Aceh, dan mempunyai hidup yang indah sebagai anak bungsu dari keluarga Abi Usman, ayahnya bertugas di sebuah kapal tanker perusahaan minyak internasional. Delisa sangat dekat dengan ibunya yang dia panggil Ummi serta ketiga kakaknya.

Pada 26 Desember 2004, Delisa bersama Ummi sedang bersiap menuju ujian praktik shalat ketika tiba-tiba terjadi gempa. Gempa yang cukup membuat ibu dan kakak-kakak Delisa ketakutan. Tiba-tiba tsunami menghantam, menggulung desa kecil mereka, menggulung sekolah mereka, dan menggulung tubuh kecil Delisa serta ratusan ribu lainnya di Aceh serta berbagai pelosok pantai di Asia Tenggara.

Delisa berhasil diselamatkan seorang prajurit Angkatan Darat AS, setelah berhari-hari pingsan di cadas bukit. Sayangnya luka parah membuat kaki kanan Delisa harus diamputasi. Penderitaan Delisa menarik iba banyak orang. Smith sempat ingin mengadopsi Delisa bila dia sebatang kara, tetapi Abi Usman berhasil menemukan Delisa. Delisa bahagia berkumpul lagi dengan ayahnya, walaupun sedih mendengar kabar ketiga kakaknya telah pergi ke surga, dan Ummi belum ketahuan ada di mana.

Delisa bangkit, di tengah rasa sedih akibat kehilangan, di tengah rasa putus asa yang mendera Abi Usman dan juga orang-orang Aceh lainnya. Delisa telah menjadi malaikat kecil yang membagikan tawa di setiap kehadirannya. Walaupun terasa berat, Delisa telah mengajarkan bagaimana kesedihan bisa menjadi kekuatan untuk tetap bertahan. Walau air mata rasanya tak ingin berhenti mengalir, tetapi Delisa mencoba memahami apa itu ikhlas, mengerjakan sesuatu tanpa mengharap balasan.

4. Kalam-Kalam Langit

Film ini merpakan film yang disutradarai oleh Tarmizi Abka, naskah cerita film ini ditulis oleh Faozan Rizal. bercerita tentang kisah kearifan masyarakat  Lombok Barat yang berdasarkan naungan pesantren dan nilai nilai Islam yang kuat. Niat baik itu ditentang oleh ayahnya yang selalu memberi peringatan agar tidak memperjualbelikan kalam kalam Illahi demi mendapatkan popularitas di kawasan pesantren serta mendapatkan timbal balik berupa hadiah. Ja’far yang yang masih keci justru mendapatkan beasiswa dari sebuah produk yang ditawarkan pesantren.

Jafar kecil tumbuh hingga dewasa terus memperjuangkan cita cita dan cintanya. Ditengah tengah kehidupan pesantren dengan beragam karakter yang dimiliki oleh penghuninya. Santri pun juga manusia, ada saja manusia yang nyeleneh, tega menyuap untuk kepopularitasannya dan meggapai apa yang ia harapkan menjadi juara MTQ.

Lokasi suting dari Film dikabarkan hampir semuanya diambil di Pulau Lombok, tak ayal film ini juga menyajikan keindahan latar berupa pemandangan Lombok yang eksotis.

5. Guru Ngaji

Film Guru Ngaji menceritakan tentang Mukri (Donny Damara), seorang guru ngaji yang mengalami masalah ekonomi dalam hidup. Untuk menyiasatinya, dia bekerja menjadi seorang badut, namun merahasiakannya, bahkan dari istri dan anaknya.

Bayaran sebagai seorang badut tidak terlalu besar, ditambah imbalan untuk dirinya saat mengajar mengaji juga tidak seberapa, dan terkadang hanya diberikan sembako. Konflik muncul saat dia harus mengisi sebuah acara ulang tahun sebagai badut penghibur, sekaligus orang yang memimpin doa di acara tersebut, dan akhirya diketahaui bahwa Mukri si guru ngaji terkenal di desa tersebut, ternyata adalah badut yang ditertawai anak-anak.

Kehilangan respek dari orang satu desa, ditambah pekerjaannya sebagai badut mengalami kendala, hidupnya pun semakin sulit. Namun kesabaran dan tawakal yang selalu ia lakukan memberikan buah yang baik dalam hidupnya.

6. Hayya The Power of love 2

Hayya masih bercerita tentang Rahmat (diperankan Fauzi Baadila), seorang jurnalis majalah Republik yang sebelumnya terpaksa ikut aksi demi mendampingi sang ayah yang sedang sakit-sakitan.

Kali ini, Rahmat dikisahkan dihantui perasaan bersalah dan dosa di masa lalu. Dengan kondisi tersebut, dia yang juga sedang belajar memahami arti tentang cinta dan keimanan merasa perlu melakukan hal yang berbeda dalam proses hijrahnya.

 

Rahmat kemudian memutuskan untuk menjadi relawan kemanusiaan di perbatasan kamp pengungsian. Saat bertugas menjadi relawan kemanusiaan dan jurnalis di daerah tersebut, ia bertemu sosok Hayya, gadis lugu yatim piatu korban konflik di Palestina.

Kehadiran Hayya banyak membawa perubahan terhadap kehidupan Rahmat. Namun suatu ketika Rahmat harus kembali ke Indonesia karena harus menikah dengan Yasna. Kenyataan tersebut lantas membuat Hayya terluka.

ARTIKEL TERBARU