MASIH PUNYAKAH RASA MALU

MASIH PUNYAKAH RASA MALU

Malu merupakan akhlak mulia yang terpuji. Melihat tingkat keshalehan seseorang dapat dilihat dari sifat terpujinya ini. Rasa malu semacam benteng dari melakukan perbuatan buruk.  Malu berdampingan erat dengan rasa takut, takut jika dia berbuat dosa. Karena dia yakin bahwa dosa itu akan dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dosa itu akan membahayakan dirinya dan membinasakan dirinya di dunia maupun akhirat. Hatinya akan dibuat tidak nyaman ketika berbuat dosa. Sehingga rasa malu merupakan gabungan antara rasa takut dan ingin menjaga kesucian diri.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu”. (HR. Ibnu Majah)

Seseorang yang hilang rasa malunya ia akan melakukan keburukan. Seakan dirinya tidak malu dalam melakukan kemaksiatan, seolah dia merasa bahwa itu bukanlah perbuatan dosa.  Terbiasanya melakukan dosa menjadikan hal tersebut menjadi sebuah karakter yang dimilikinya. Hilangnya rasa malu berdampak pada hal yang menimbulkan fitnah.

Para ulama berpendapat dalam Imam Nawawi bahwa “Malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain”.

Kuat atau lemahnya rasa malu tergantung kondisi hatinya. semakin hidup, sehat, bersih hatinya maka semakin sempurna rasa malunya. Sebaliknya semakin kotor hatinya semakin berkurang bahkan hilang rasa malunya. Rasa malu tergantuung pada pengenalannya terhadap Rabbnya, jika hatinya kotor otomatis dia sulit mengenal Rabbnya.

Menurut Ibnu Rajab malu terdapat kedalam 2 macam, yakni :

  1. Malu yang merupakan karakter/ tabiat bawaan diri

Malu ini merupakan karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

  1. Malu bagian dari Iman

Malu ini didapatkan dari mengenal Allah (ma’rifatullah) dengan mengenal keagunganNya, perhatianNya terhadap apa yang dirahasiakan di dalam hati. Mengenal Allah ta’ala kuncinya menghidupkan hati. Jika hatinya mati maka dia sulit mengenal Rabbnya. Yakin dengan Maha tahunya Allah subhanahu wa ta’ala bahkan yang tersembunyi di dalam dada. Sebagaimana ayat Allah dalam Q.S Al Mu’Min :19.

 

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”.

 

Malu jenis kedua ini bagian dari iman bahkan Ikhsan yang derajatnya paling tinggi dalam agama. Inilah indikasi hati untuk mengenal Allah subahanhu wa ta’ala. Ikhsan memiliki arti indah, sehingga dapat memperindah agama. Memperindah agama dengan patuh terhadap aturan Allah subahanhu wa ta’ala. Lalu mengindahkan hatinya dengan cara menyempurnakan keikhlasan dan cintanya kepada Allah.

Jadi, tidak semua malu itu lahiriyah, tetapi karena mengenal Allah dia memiliki sifat malu. Karena dia sadar bahwa Allah selalu melihatnya sehingga terdorong untuk lebih taat kepada Allah.

Pada hakikatnya sifat malu itu dimiliki oleh kekasih Allah subahnahu wa taala, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau merasakan kehadiran Allah, yakin bahwa Allah melihatnya dan takut hilang kesucian dirinya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Ada enam perkara yang bisa menggugurkan amalam, sibuk mencari aib manusia, kerasnya hati, cinta dunia, sedikit malu, panjang angan-angan, dan kedzaliman yang tiada habisnya…”.